Pertama Kali, AS Akui Punya Senjata Militer di Luar Angkasa

- Amerika Serikat впервые mengakui menempatkan senjata militer di orbit bumi untuk operasi pertahanan dan serangan, demi memperkuat daya gentar; jenis serta waktu peluncurannya dirahasiakan.
- Washington menyebut langkah itu perlu untuk mengimbangi kemampuan kontra-antariksa China dan Rusia, sementara China mendesak AS menghentikan perluasan militer serta persiapan perang di luar angkasa.
- Outer Space Treaty melarang senjata nuklir dan pemusnah massal di orbit, tetapi tidak melarang senjata konvensional; penggunaan fisik berisiko menciptakan puing yang mengancam satelit dan peluncuran roket.
Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat (AS) untuk pertama kalinya mengakui telah menempatkan senjata militer di orbit bumi. Pengakuan tersebut disampaikan oleh Sekretaris Angkatan Udara AS Troy Meink dalam konferensi pertahanan di Maryland pada Senin (14/9/2026).
Militer AS menyatakan senjata antariksa ini dirancang untuk melindungi pasukan gabungan dari ancaman musuh. Namun, mereka menolak membeberkan jenis senjata yang dikerahkan maupun waktu awal peluncurannya ke luar angkasa.
1. AS ungkap senjata untuk tingkatkan daya gentar

ilustrasi satelit di luar angkasa (unsplash.com/NASA) Juru bicara Angkatan Luar Angkasa AS menyebut persenjataan di orbit tersebut dapat digunakan untuk operasi pertahanan maupun serangan. Pihak militer menegaskan bahwa pengakuan ini dimaksudkan untuk memperkuat daya gentar terhadap lawan. Langkah tersebut juga dinilai penting untuk memastikan negara lain tidak salah membaca manuver militer AS di luar angkasa.
"Komunikasi terbuka memperkuat pencegahan, mencegah salah perhitungan musuh, dan menormalisasi operasi luar angkasa bersama matra lainnya," kata juru bicara Angkatan Luar Angkasa AS, dilansir ABC News.
Pakar militer antariksa dari Royal United Services Institute (RUSI), Bleddyn Bowen, memperkirakan senjata itu kemungkinan besar berupa pengacak sinyal radio atau perangkat perang elektronik. Sistem nonkinetik semacam itu dinilai lebih ideal karena dapat melumpuhkan fungsi satelit target tanpa perlu meledakkannya.
Selain teknologi perang elektronik, persenjataan orbit berpotensi mencakup laser pencegat hingga proyektil berkecepatan tinggi. Pengembangan sistem ini juga diperkirakan terhubung dengan proyek perisai rudal Golden Dome yang dirancang untuk menangkal rudal dari orbit luar angkasa.
2. Persaingan militer AS dengan China dan Rusia di luar angkasa

bendera China (unsplash.com/CARLOS DE SOUZA) Pemerintah AS berdalih penempatan senjata di luar angkasa mendesak dilakukan untuk mengimbangi kekuatan China dan Rusia. Sejak mendirikan Angkatan Luar Angkasa pada 2019, Pentagon terus menyoroti manuver kedua negara rival yang gencar menguji kemampuan kontra-antariksa.
Militer AS memandang Rusia menjadikan orbit bumi sebagai medan tempur aktif demi mengincar keunggulan militer pada masa depan. Sementara itu, China terus memodernisasi kemampuan antariksa untuk mendukung sistem penyerangan jarak jauh berpresisi tinggi.
"Kami mendesak pihak AS untuk berhenti memperluas kemampuan militernya dan berhenti mempersiapkan perang di luar angkasa," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menanggapi pengumuman AS, dilansir Deutsche Welle.
Kekhawatiran terhadap perlombaan senjata ini kian nyata karena satelit militer menjadi tulang punggung navigasi serta komunikasi pasukan di bumi. Kerusakan pada sistem navigasi satelit juga dikhawatirkan dapat melumpuhkan sektor vital sipil seperti perbankan dan transportasi dunia.
3. Celah hukum internasional memungkinkan penempatan senjata

Ilustrasi stasiun luar angkasa. (unsplash.com/nasa) Aktivitas militer di luar angkasa selama ini bersandar pada aturan Outer Space Treaty yang disepakati berbagai negara sejak 1967. Perjanjian internasional tersebut secara tegas melarang penempatan senjata nuklir maupun senjata pemusnah massal di orbit bumi.
Namun, kesepakatan tersebut tidak memuat larangan tertulis bagi penempatan senjata konvensional, laser, maupun serangan siber antariksa. Penggunaan senjata fisik di orbit bumi memicu kekhawatiran terkait munculnya bencana lingkungan antariksa.
Penembakan atau tabrakan fisik antarsatelit dapat menghasilkan ribuan serpihan puing yang melesat dengan kecepatan sangat tinggi. Puing-puing liar tersebut berisiko memicu tabrakan berantai yang dapat merusak berbagai satelit aktif lainnya di orbit bumi. Kondisi ini tidak hanya mengancam keselamatan satelit komersial, tetapi juga dapat menutup jalur aman bagi peluncuran roket pada masa depan.




















