Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Presiden Prabowo Subianto melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Prancis, Emmanuel Macron di Istana Élysée, Prancis, Kamis (28/5/2026) (dok. Sekretariat Presiden)
  • Skandal penyadapan ilegal di Indonesia menyeret sejumlah pejabat dan menyasar berbagai kelompok, termasuk pejabat negara, jurnalis, serta pengusaha.

  • Pegasus menjadi sorotan karena dapat menyusup ke ponsel dan mengakses data pribadi, percakapan, mikrofon, serta kamera tanpa sepengetahuan pemilik.

  • Pegasus Project menemukan nomor sejumlah pemimpin dunia dalam daftar target potensial, meski temuan itu tidak otomatis membuktikan perangkat mereka terinfeksi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apa yang paling mengkhawatirkan dari Pegasus?
Vote Now
awal November 2026

Skandal penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah tokoh penting nasional terungkap. Bareskrim Polri menetapkan sejumlah pejabat sebagai tersangka.

paruh pertama 2019

Nomor telepon Emmanuel Macron diduga dipilih untuk menjadi sasaran pengawasan oleh Maroko. Sejumlah pejabat dan orang dekat Macron juga masuk dalam daftar.

2019

Aljazair mengalami krisis politik setelah gelombang demonstrasi menentang kepemimpinan Presiden Abdelaziz Bouteflika.

dua tahun menjelang pemilihan presiden Meksiko 2018

Nomor telepon sedikitnya 26 orang di sekitar Andres Manuel Lopez Obrador diduga dipilih sebagai target.

Selasa (3/11/2026)

OCCRP dikutip dalam laporan mengenai nomor telepon Emmanuel Macron yang ditemukan dalam daftar target potensial Pegasus.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apa yang paling mengkhawatirkan dari Pegasus?
Vote Now
  • What?
    Nomor telepon sejumlah pemimpin dunia ditemukan dalam daftar target potensial pengawasan Pegasus.
  • Who?
    Emmanuel Macron, Cyril Ramaphosa, Barham Salih, Mohammed VI, Andres Manuel Lopez Obrador, Imran Khan, Mostafa Madbouly, dan Saad Eddine el-Othmani.
  • Where?
    Daftar target ditemukan dalam investigasi Pegasus Project yang melibatkan sejumlah organisasi media internasional.
  • When?
    Investigasi mencakup temuan pada 2019, dua tahun menjelang pemilihan presiden Meksiko 2018, serta periode lain yang disebut dalam catatan.
  • Why?
    Nomor telepon diduga dipilih sebagai target pengawasan oleh sejumlah negara, termasuk Maroko, Rwanda, Arab Saudi, UEA, India, dan pihak terkait.
  • How?
    Pegasus dapat menyusup ke ponsel tanpa pemilik mengeklik tautan, membaca pesan, atau menjawab panggilan telepon.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apa yang paling mengkhawatirkan dari Pegasus?
Vote Now

Kasus penyadapan membuat banyak orang penting khawatir. Presiden, perdana menteri, raja, keluarga, dan orang dekat mereka punya nomor telepon di daftar target Pegasus. Pegasus adalah alat yang bisa masuk ke ponsel tanpa diklik. Alat itu bisa mengambil pesan dan data. Belum tentu semua ponsel mereka benar-benar terkena.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apa yang paling mengkhawatirkan dari Pegasus?
Vote Now

Investigasi Pegasus Project membuat daftar target potensial dan kemampuan spyware menjadi perhatian publik. Pengungkapan ini membantu memperlihatkan bahwa teknologi pengawasan digital dapat menyasar pemimpin, pejabat, keluarga, jurnalis, dan pengusaha, sehingga cakupan risikonya terdokumentasi melalui temuan serta keterangan yang tersedia.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apa yang paling mengkhawatirkan dari Pegasus?
Vote Now

Jakarta, IDN Times - Skandal penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah tokoh penting nasional terungkap pada awal November 2026. Bareskrim Polri telah menetapkan Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Jendral Pol Listyo Sigit bersama mantan Sekretaris Pribadinya, Irjen Pol Ahrie Sonta serta Irjen Eko Hadi Santoso sebagai tersangka dalam kasus yang diduga berlangsung selama dua tahun tersebut.

Kasus ini menjadi sorotan karena penyadapan dilakukan tanpa prosedur hukum yang semestinya. Sejumlah nomor telepon diduga dimasukkan ke dalam sistem penyadapan tanpa surat permohonan penyidik, laporan polisi, maupun proses verifikasi. Targetnya pun tidak terbatas pada Presiden Prabowo, tetapi juga mencakup pejabat negara, tokoh politik, organisasi masyarakat, jurnalis, hingga pengusaha.

Terungkapnya kasus tersebut kembali mengingatkan dunia pada ancaman penyalahgunaan teknologi pengawasan digital. Salah satu perangkat mata-mata yang pernah menjadi sorotan internasional adalah Pegasus, spyware buatan perusahaan teknologi Israel, NSO Group.

Investigasi Pegasus Project yang melibatkan sejumlah organisasi media internasional menemukan nomor telepon milik sejumlah pemimpin dunia dalam daftar target potensial pengawasan. Mereka termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, hingga mantan Perdana Menteri Pakistan Imran Khan.

Pegasus memiliki kemampuan menyusup ke ponsel tanpa mengharuskan pemiliknya mengeklik tautan, membaca pesan, atau menjawab panggilan telepon. Setelah berhasil menginfeksi perangkat, spyware ini dapat mengambil data pribadi, percakapan, daftar kontak, hingga mengaktifkan mikrofon dan kamera untuk merekam suara maupun video secara diam-diam.

Lantas, siapa saja pemimpin dunia yang nomor teleponnya masuk dalam daftar target potensial Pegasus?

1. Presiden Prancis Emmanuel Macron

potret Presiden Prancis, Emmanuel Macron (commons.wikimedia.org/European Union)

Dikutip dari situs OCCRP, Selasa (3/11/2026), Presiden Prancis Emmanuel Macron termasuk salah satu pemimpin dunia yang nomor teleponnya ditemukan dalam daftar target potensial Pegasus. Investigasi menemukan nomornya diduga dipilih untuk menjadi sasaran pengawasan oleh Maroko pada paruh pertama 2019.

Pada periode yang sama, sejumlah pejabat dan orang dekat Macron juga masuk dalam daftar tersebut. Mereka termasuk penasihat utama Macron untuk urusan Afrika, Franck Paris, serta Alexandre Benalla yang saat itu bertanggung jawab atas keamanan Macron.

Investigasi menduga pemilihan nomor-nomor tersebut berkaitan dengan kepentingan Maroko terhadap perkembangan politik di Aljazair. Negara tersebut tengah mengalami krisis politik pada 2019 setelah gelombang demonstrasi menentang kepemimpinan Presiden Abdelaziz Bouteflika.

2. Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa (ITU Pictures, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa juga termasuk pemimpin yang nomor teleponnya ditemukan dalam catatan Pegasus Project.

Berdasarkan investigasi, nomor Ramaphosa masuk dalam kelompok nomor yang diduga berkaitan dengan Rwanda. Temuan tersebut mengindikasikan kemungkinan adanya pengawasan terhadap komunikasi kepala negara Afrika Selatan oleh pihak asing.

Namun, catatan yang ditemukan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa ponsel Ramaphosa berhasil terinfeksi spyware Pegasus.

3. Presiden Irak Barham Salih

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjabat tangan dengan Presiden Irak Barham Salih saat pertemuan bilateral disela agenda sidang tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF) ke-50 di Davos, Swiss, pada 22 Januari 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Jonathan Ernst

Nama Barham Salih, yang menjabat sebagai Presiden Irak ketika nomor teleponnya masuk dalam daftar, juga muncul dalam investigasi Pegasus Project.

Nomornya ditemukan dalam kelompok nomor yang memiliki keterkaitan dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA). Investigasi tersebut mengindikasikan bahwa kedua negara berpotensi menjadi pengguna sistem pengawasan yang menargetkan nomor Salih.

Temuan ini memperlihatkan bagaimana teknologi pengawasan digital berpotensi digunakan untuk memantau komunikasi pejabat tinggi lintas negara.

4. Raja Maroko Mohammed VI

potret Raja Maroko, Mohammed VI (flickr.com/UN Climate Change via commons.wikimedia.org/UN Climate Change)

Tak hanya pejabat pemerintahan, Raja Maroko Mohammed VI juga disebut masuk dalam daftar nomor telepon yang dipilih sebagai target potensial Pegasus.

Dalam investigasi tersebut, agen Maroko diduga memilih nomor telepon sejumlah tokoh penting di negaranya sendiri. Selain Mohammed VI, Perdana Menteri Saad Eddine el-Othmani juga termasuk dalam daftar.

Temuan tersebut memperlihatkan pengawasan menggunakan spyware berpotensi menyasar tokoh-tokoh di lingkungan pemerintahan maupun lingkaran kekuasaan negara yang diduga mengoperasikannya.

5. Mantan Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador

Presiden Meksiko, Andres Manuel Lopez Obrador. (x.com/lopezobrador_)

Mantan Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador juga menjadi salah satu tokoh yang lingkaran keluarganya masuk dalam daftar target potensial Pegasus.

Investigasi menemukan sedikitnya 26 orang di sekitar Lopez Obrador yang nomor teleponnya diduga dipilih sebagai target. Mereka termasuk istrinya, tiga anak laki-lakinya, tiga saudara laki-lakinya, dokter jantung, kepala komunikasi, konsultan urusan internasional, hingga mantan sopirnya.

Pemilihan nomor-nomor tersebut berlangsung dalam dua tahun menjelang pemilihan presiden Meksiko 2018. Saat itu, Lopez Obrador tengah maju sebagai kandidat presiden melalui partai baru, Morena, yang menjadi ancaman bagi partai penguasa.

Lopez Obrador mengungkapkan kemarahannya setelah mengetahui keluarganya ikut menjadi sasaran potensial pengawasan.

“Sekarang kita mengetahui bahwa mereka juga memata-matai istri saya, anak-anak saya, bahkan dokter saya,” kata Lopez Obrador kepada wartawan.

Dia juga mempertanyakan besarnya anggaran yang digunakan untuk melakukan pengawasan tersebut.

6. Mantan Perdana Menteri Pakistan Imran Khan

mantan PM Pakistan Imran Khan (Pakistan Tehreek-e-Insaf, CC BY 3.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/3.0>, via Wikimedia Commons)

Mantan Perdana Menteri Pakistan Imran Khan juga termasuk dalam daftar tokoh pemerintahan yang nomor teleponnya diduga dipilih sebagai target Pegasus.

Berdasarkan catatan Pegasus Project, nomor Khan diduga dipilih oleh India. Temuan tersebut menjadi salah satu indikasi potensi penggunaan teknologi pengawasan digital dalam persaingan geopolitik antara kedua negara bertetangga itu.

Meski demikian, investigasi tersebut tidak secara otomatis memastikan bahwa ponsel Khan berhasil diretas menggunakan Pegasus.

7. Perdana Menteri Mesir Mostafa Madbouly

PM Narendra Modi disambut PM Moustafa Madbouly (Twitter.com/Narendra Modi)

Perdana Menteri Mesir Mostafa Madbouly juga masuk dalam daftar pemimpin pemerintahan yang nomor teleponnya ditemukan dalam catatan Pegasus Project.

Nomor Madbouly diduga dipilih oleh Arab Saudi sebagai target potensial pengawasan. Investigasi tersebut mengidentifikasi adanya keterkaitan antara nomor teleponnya dan pihak yang diduga menggunakan sistem pengawasan tersebut.

Madbouly menjadi salah satu dari tiga perdana menteri yang masih menjabat ketika nomor teleponnya ditemukan dalam daftar, bersama Imran Khan dan Saad Eddine el-Othmani.

8. Mantan Perdana Menteri Maroko Saad Eddine el-Othmani

ilustrasi bendera Maroko (pexels.com/ANASS ELOUIHI)

Mantan Perdana Menteri Maroko Saad Eddine el-Othmani juga masuk dalam daftar nomor telepon yang diduga dipilih sebagai target Pegasus.

Menariknya, dugaan pengawasan terhadap el-Othmani disebut berkaitan dengan Maroko sendiri. Investigasi menemukan agen Maroko diduga memilih nomor telepon sejumlah tokoh penting di dalam negeri, termasuk perdana menteri dan raja mereka.

Temuan ini memperlihatkan bahwa penggunaan spyware tidak selalu terbatas pada pengawasan terhadap lawan politik atau pejabat negara lain.

9. Pegasus bisa sadap ponsel tanpa diketahui pemiliknya

ilustrasi penyadapan ponsel (unsplash.com/@privecstasy)

Direktur Strategi Riset Freedom House, Nate Schenkkan, mengatakan negara-negara yang membeli perangkat lunak pengawasan seperti Pegasus berpotensi menggunakannya tanpa membedakan latar belakang target.

“Negara-negara yang membeli perangkat lunak semacam ini tidak membeda-bedakan berbagai jenis target. Mereka akan menggunakannya sesuai keinginan mereka,” kata Schenkkan.

Menurutnya, kemampuan untuk membeli dan menjual teknologi yang dapat menyusup ke perangkat komunikasi siapa pun berpotensi membahayakan banyak pihak, termasuk pemimpin negara dan pejabat pemerintahan.

“Sebagai seorang pemimpin, politisi, atau pejabat, setiap orang harus menggunakan suatu perangkat. Jika kita membiarkan orang membeli dan menjual kemampuan untuk menyusup ke perangkat-perangkat tersebut di mana pun di dunia, pada akhirnya kita sedang membuka jalan bagi perangkat semua orang untuk dikompromikan,” ujarnya.

Pegasus sendiri menjadi sorotan internasional karena kemampuannya mengakses informasi pribadi tanpa sepengetahuan pemilik perangkat. Kasus-kasus yang terungkap melalui Pegasus Project juga memunculkan kekhawatiran mengenai penyalahgunaan teknologi pengawasan digital oleh pemerintah.

Pilih pandanganmu

Apa yang paling mengkhawatirkan dari Pegasus?

See More

Curated For You

Editorial Team

Related Article