ilustrasi peretasan (unsplash.com/FlyD)
Lebih dari separuh data yang bocor atau sekitar 21 ribu catatan berasal dari pegawai Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (CBP) yang bertugas di bandara serta pintu masuk perbatasan. Sekitar 10 ribu catatan lainnya berkaitan dengan staf Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) beserta unit Investigasi Keamanan Dalam Negeri (HSI). Ribuan catatan sisanya mencakup personel Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur (CISA), Layanan Kewarganegaraan dan Imigrasi, serta Layanan Perlindungan Federal.
Selain informasi kontak, kebocoran ini membongkar keanggotaan pegawai dalam sistem Active Directory yang mengatur akses menuju perangkat lunak internal dan layanan pihak ketiga. Ribuan pegawai tercatat terhubung dengan perangkat pelacak lokasi ponsel buatan Penlink, aplikasi pengenalan wajah Mobile Fortify, hingga teknologi milik Cellebrite dan Palantir. Informasi tersebut juga termasuk bagan organisasi internal, puluhan nama operasi rahasia yang belum pernah dipublikasikan, serta kelompok kerja penyelidikan peretas asal China, Salt Typhoon dan Volt Typhoon.
Salah satu pendiri DDoSecrets, Emma Best, menyatakan bahwa jurnalis sekaligus peretas asal Swiss yang dikenal sebagai "maia arson crimew" bersama jurnalis AS Ryan Ottignon telah membuat alat pencarian khusus agar publik dapat menelusuri data tersebut. Perangkat ini dirancang untuk meningkatkan akuntabilitas serta membantu pengawasan Kongres dan pengajuan permohonan informasi publik.
"Kebocoran ini luar biasa tetapi tampak sederhana karena mengidentifikasi pejabat yang mengawasi operasi rahasia dan penyamaran, perburuan pemerintah terhadap pembocor data, serta penyelidikan BlueLeaks yang gagal, bersama personel kunci dalam program penyerahan dan deportasi DHS yang terus meningkat," kata Best, dilansir BBC.