Kabur ke AS, Flavio Bolsonaro Klaim Jadi Presiden Brasil Terpilih

- Flavio Bolsonaro mengklaim sebagai presiden Brasil terpilih meski kalah dari Luiz Inacio Lula da Silva, lalu mengumumkan pindah ke Amerika Serikat bersama keluarganya.
- Dalam surat terbuka, Flavio menuduh pemilu dan proses hukum Brasil dipengaruhi tindakan ilegal serta politisasi peradilan, tanpa merinci bukti pendukung tuduhannya.
- Flavio menyebut AS sebagai tempat aman, berterima kasih kepada Donald Trump, dan menyatakan akan mengorganisasi oposisi setelah menolak mengakui kemenangan Lula.
Jakarta, IDN Times - Flavio Bolsonaro mengklaim telah menjadi Presiden Brasil terpilih yang sah meski dinyatakan kalah dari petahana, Luiz Inacio Lula da Silva, dalam pemilihan umum (pemilu). Putra mantan Presiden Brasil Jair Bolsonaro itu juga mengumumkan keputusannya untuk meninggalkan Brasil untuk tinggal di Amerika Serikat (AS).
Dalam surat terbuka yang diunggah melalui media sosial X pada Rabu (28/10/2026), Flavio mengatakan kepergiannya dilakukan untuk menghindari apa yang disebutnya sebagai politisasi sistem peradilan Brasil.
1. Flavio tuduh pemilu Brasil diwarnai kecurangan

potret Presiden Brasil, Lula da Silva (commons.wikimedia.org/BrunoGuedes1) Flavio menuding sejumlah tindakan yang dilakukan pihak berwenang telah memengaruhi hasil pemilu. Dia menyoroti keputusan Mahkamah Agung Federal Brasil (STF) terkait perpanjangan waktu pemungutan suara yang menurutnya diberlakukan setelah waktu pemungutan suara resmi berakhir dan tempat pemungutan suara ditutup.
"Tindakan tidak sah dan ilegal dari mantan pengacara Lula memungkinkan hal yang mustahil secara matematis terwujud dan mengakibatkan Lula memperoleh lebih dari 10 juta suara dari putaran pertama ke putaran kedua," tulis Flavio.
Dia juga mempersoalkan keputusan STF yang disebutnya membuat pemilih dikenai aturan berbeda. Namun, tuduhan tersebut disampaikan Flavio dalam suratnya dan belum dapat diperlakukan sebagai bukti bahwa pemilu Brasil berlangsung curang.
Selain itu, Flavio menuding penyelidikan yang baru-baru ini dilayangkan terhadapnya dimulai secara tidak sah. Dia mempertanyakan keterlibatan hakim yang menurutnya terseret dalam skandal korupsi besar.
"Partisipasinya dalam tindakan prosedural saja menunjukkan sejauh mana kesewenang-wenangan dan ilegalitas yang sedang berlangsung," tulisnya.
Flavio tidak merinci bukti yang mendukung seluruh tuduhannya dalam pernyataan tersebut. Dia juga menegaskan tidak ada surat perintah penangkapan terhadap dirinya karena merasa tidak melakukan kejahatan.
2. Flavio klaim jadi korban penganiayaan politik

potret Flávio Bolsonaro (flickr.com/Senado Federal via commons.wikimedia.org/Senado Federal) Dalam surat terbuka itu, Flavio mengatakan keputusannya untuk pergi ke AS didorong oleh kekhawatiran pemerintahan Lula akan melakukan penganiayaan politik terhadap dirinya. Dia menuduh pemerintah Brasil berupaya membungkam pihak-pihak yang menentang keadaan politik di negara tersebut. Flávio juga melontarkan tuduhan terhadap STF, yang menurutnya dikendalikan oleh kepentingan Partai Buruh Brasil atau Partai Pekerja (PT).
"Penganiayaan politik ini memiliki satu tujuan, yaitu membungkam siapa pun yang tidak setuju dengan keadaan darurat yang ditetapkan di Brasil, melalui Mahkamah Agung yang dikendalikan oleh organisasi Partai Buruh yang kriminal," tulis Flavio.
Dia mengaku berpotensi menghadapi serangkaian tindakan hukum, mulai dari penyitaan paspor, penggunaan alat pemantau elektronik di pergelangan kaki, pembatasan kebebasan berbicara, tahanan rumah, hingga persidangan yang menurutnya tidak adil.
"Yang ada adalah perburuan terhadap saya yang bermotif politik. Tujuannya untuk menyandera dan menjadikan saya objek pemerasan guna melindungi para hakim Mahkamah Agung yang korup dari pemakzulan," tulisnya.
Flavio mengatakan tidak ingin keluarganya mengalami hal serupa dengan yang menurutnya dialami Jair Bolsonaro. Namun, tuduhan mengenai motif politik di balik proses hukum tersebut merupakan klaim Flavio dan tidak dengan sendirinya membuktikan adanya penganiayaan oleh pemerintah Brasil.
3. Flavio berterima kasih pada Trump

Presiden terpilih AS Donald Trump dan mantan Presiden Brasil, Jair Bolsonaro. (The White House from Washington, DC, Public domain, via Wikimedia Commons) Flavio membawa keluarganya ke AS karena menganggap negara tersebut sebagai tempat yang aman. Dia juga menyampaikan terima kasih kepada Presiden AS, Donald Trump, dan pemerintahannya karena telah menerima mereka.
"Sekali lagi, saya berterima kasih kepada Presiden Trump dan pemerintah Amerika karena telah menerima dan memberi kami perlindungan hukum yang tidak lagi dimiliki di Brasil," tulis Flavio.
Dia menegaskan, keputusannya meninggalkan Brasil bukan berarti melarikan diri. Menurutnya, dia ingin tetap dapat menjalankan peran politik tanpa menghadapi pembungkaman atau penahanan yang dikhawatirkannya.
"Saya tidak melarikan diri dari Brasil. Saya meninggalkan rezim yang luar biasa agar bisa menjadi pemimpin yang pantas bagi rakyat," tulisnya.
Dia menegaskan, tidak ingin dibungkam, dipenjara, atau disensor seperti yang menurutnya dialami ayahnya. Flavio juga menuding lembaga peradilan Brasil mengendalikan ruang oposisi politik.
Dalam konteks politik Brasil, Flavio merupakan putra Jair Bolsonaro, mantan presiden yang menjadi sekutu politik Trump. Flavio menyatakan akan mengorganisasi oposisi setelah menolak mengakui kemenangan Lula.
Sementara itu, Trump disebut mendukung Flávio karena kedekatan politiknya dengan keluarga Bolsonaro. Meski demikian, Trump juga dilaporkan menyambut baik terpilihnya kembali Lula sebagai presiden Brasil.


















