Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Demo Tolak Imigran di Afrika Selatan Panas, 900 Orang Ditangkap
ilustrasi bentrokan saat demo (pexels.com/Mico Medel)
  • Polisi Afsel menangkap lebih dari 900 orang dalam aksi protes anti-imigran nasional yang sebagian besar damai, namun beberapa lokasi berubah ricuh hingga menyebabkan korban tewas dan luka-luka.
  • Pemerintah menyiagakan aparat di lima provinsi setelah Presiden Ramaphosa menggelar pertemuan darurat dengan penyelenggara aksi untuk merespons tuntutan pengawasan perbatasan yang lebih ketat.
  • Ribuan imigran dari Zimbabwe, Malawi, dan Nigeria memilih meninggalkan Afsel akibat meningkatnya ketegangan, sementara Amnesty International mengecam sentimen anti-imigran yang makin meluas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Pihak kepolisian Afrika Selatan (Afsel) menangkap lebih dari 900 orang dalam aksi protes anti-imigran yang berlangsung secara nasional. Sebagian besar demonstrasi berlangsung damai, tetapi bentrokan dan penjarahan sempat terjadi di sejumlah lokasi.

Wakil Komisaris Nasional Polisi Afsel, Tebello Mosikili, menjelaskan aksi tersebut digelar pada Selasa (30/6/2026) oleh koalisi yang beranggotakan 20 kelompok masyarakat sipil, termasuk Gerakan March and March, Operation Dudula, dan Progressive Forces.

Demonstrasi itu dijadikan tenggat tidak resmi bagi imigran tanpa dokumen untuk meninggalkan Afsel. Dari 120 aksi pawai yang berlangsung di berbagai wilayah, sebanyak 108 berjalan kondusif, sedangkan 12 lainnya berubah menjadi kerusuhan hingga aparat melakukan penindakan.

1. Pemerintah Afsel menyiagakan aparat keamanan

ilustrasi kericuhan saat demo (pexels.com/mermoz lionel)

Presiden Afsel, Cyril Ramaphosa, menggelar pertemuan darurat dengan para penyelenggara aksi sebelum demonstrasi dimulai. Dalam pertemuan itu, ia menyampaikan pemerintah memahami keresahan yang disampaikan masyarakat mengenai persoalan imigrasi.

“Orang-orang Afrika Selatan telah menyuarakan keprihatinan mendalam tentang imigrasi ilegal, pengelolaan perbatasan, tekanan pada layanan publik. … Keprihatinan ini nyata, dan mereka pantas didengar,” ujar Ramaphosa, dikutip Al Jazeera.

Polisi kemudian menempatkan personel tambahan di lima provinsi untuk mengantisipasi potensi tindak kriminal. Di Kota Johannesburg, satu orang tewas tertembak di kawasan Alexandra ketika penjarahan menyasar toko milik warga asing. Militer juga dikerahkan ke kawasan Hillbrow setelah insiden penembakan yang melukai dua orang, termasuk seorang remaja berusia 17 tahun.

2. Demonstran mendesak pengawasan perbatasan diperketat

ilustrasi aksi demo (pexels.com/Bappy Rana)

Gelombang aksi serupa juga terjadi di Kota Durban. Ribuan orang memenuhi jalan sambil meneriakkan “Abahambe!” yang berarti “Mereka harus pergi!”.

Pemimpin Gerakan March and March, Jacinta Ngobese-Zuma, mengatakan aksi akan terus digelar setiap hari Kamis hingga pemerintah menerapkan sistem pengendalian perbatasan yang lebih ketat. Salah satu pemimpin protes lainnya, Ngizwe Mchunu, juga menyampaikan bahwa persoalan tersebut telah berlangsung sejak berakhirnya sistem apartheid.

“Ini adalah cerita yang sangat menyedihkan yang telah kami sampaikan kepada pemerintah kami sejak fajar demokrasi bahwa imigrasi ilegal di sini sudah di luar kendali. Sudah waktunya bagi pemerintah kami untuk mendahulukan Afrika Selatan,” kata Mchunu, dikutip NBC News.

3. Eksodus imigran terjadi usai gelombang protes

Bendera Afrika Selatan (pexels.com/Engin Akyurt)

Ketegangan yang berkembang mendorong ribuan imigran, terutama dari Zimbabwe, Malawi, dan Nigeria, memilih meninggalkan Afsel atau meminta dipulangkan ke negara asal. Menurut pejabat pemerintah Nigeria, sebanyak 632 warganya telah difasilitasi untuk pulang, termasuk satu kelompok yang membawa 271 orang dan tiba di Kota Lagos.

Direktur Eksekutif Amnesty International Afsel, Shenilla Mohamed, mengkritik menguatnya sentimen anti-imigran. Ia menyatakan para migran, pengungsi, dan pencari suaka kerap dijadikan kambing hitam atas tingginya angka pengangguran, ketimpangan sosial, serta kegagalan sistem suaka di Afsel.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article