"Apa yang kita lihat pada musim semi adalah banyak perencanaan, tetapi sangat sedikit yang dilaksanakan. Apa yang kita lihat pada awal musim panas adalah mereka (Rusia) mulai melaksanakan lebih banyak hal," kata pemimpin tim analis PET, Josefine Christensen, dalam acara Konferensi Keamanan Dalam Negeri yang digelar di Copenhagen pada Rabu (7/10/2026), seperti dilansir Jerusalem Post.
Denmark Tuding Rusia Sabotase Perusahaan Pertahanan Negara

- Pemerintah Denmark menuduh Rusia melancarkan serangan siber untuk menyabotase perusahaan pertahanan Denmark yang memasok senjata bagi militer Ukraina.
- Intelijen PET menyebut Rusia meningkatkan pelaksanaan serangan terhadap sistem penting negara musuh dan diduga merekrut warga biasa untuk mendukung operasi siber.
- Kedutaan Rusia di Copenhagen membantah tuduhan tersebut, sementara Denmark sebelumnya juga menuding Rusia atas serangan terhadap sistem perairan dan pemilu regional.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Denmark menuduh Rusia telah melakukan serangan siber untuk menyabotase perusahaan pertahanan milik mereka. Otoritas intelijen Denmark (PET) mengatakan, sabotase ini dilakukan karena perusahaan pertahanan milik Denmark menjadi salah satu pemasok senjata untuk pasukan militer Ukraina.
1. Rusia sedang meningkatkan serangan siber ke negara musuh

ilustrasi serangan siber (pexels.com/Tima Miroshnichenko) Pejabat tadi menambahkan, sabotase ini merupakan bagian dari upaya Rusia untuk meningkatkan serangan siber terhadap musuh. Caranya, adalah dengan menyerang sistem-sistem penting milik pemerintah, kementerian, organisasi, perusahaan, atau entitas lainnya yang berada di negara musuh.
"Rusia saat ini menargetkan negara yang punya dampak dalam peperangan. Negara yang dimaksud adalah yang bisa memproduksi senjata. Siapa pun bisa saja pelakunya yang hanya mencari uang cepat. Jika orang pertama tidak berhasil, mereka akan mencoba orang lain sampai berhasil," lanjut Christensen dilansir The Moscow Times.
2. Rusia membantah tuduhan dari Denmark

potret bendera Rusia (unsplash.com/Oleg Podlesnykh) Tuduhan Denmark ini langsung direspons oleh Pemerintah Rusia. Dalam pernyataannya pada Rabu, Kedutaan Besar (Kedubes) Rusia di Copenhagen membantah tuduhan dari Denmark. Kedubes Rusia mengatakan negaranya sama sekali tidak pernah terlibat sabotase atau operasi serangan siber apa pun. Mereka lantas menyebut tuduhan dari Denmark sama sekali tidak berdasar.
Kendati demikian, Christensen tetap bersikukuh Rusia telah melakukan serangan siber untuk melakukan sabotase terhadap Denmark. Bahkan, ia menyebut Rusia sengaja merekrut orang-orang biasa, seperti gelandangan atau pecandu narkoba untuk dilatih agar bisa membantu mereka meningkatkan serangan siber ke negara musuh, termasuk Demark.
3. Denmark sudah berulang kali menuduh Rusia melakukan serangan siber

ilustrasi serangan siber (pexels.com/Rafael Minguet Delgado) Denmark sendiri sebetulnya sudah berulang kali menuduh Rusia melakukan serangan siber terhadap negaranya. Namun, Rusia kerap membantah semua tuduhan tersebut. Semua tuduhan ini akhirnya juga membuat hubungan diplomatik antara Copenhagen dan Moskow renggang.
Pada Desember 2025 lalu, misalnya, Denmark menuduh Rusia sebagai dalang utama dari serangan siber yang terjadi di wilayahnya dalam beberapa tahun terakhir. Saat itu, Dinas Intelijen Pertahanan Denmark (DDIS) mengatakan, semua serangan tersebut “Bersifat masif dan destruktif”.
DDIS menjelaskan, salah satu serangan siber yang dilakukan Rusia terjadi pada 2024. Kala itu, Denmark menyebut Rusia melakukan serangan siber untuk merusak seluruh sistem perairan negara. Selain itu, Copenhagen juga menuduh Moskow telah meretas sistem pemilu regional pada November 2025.
























