Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Setelah 14 Tahun, Denmark Buka Lagi Kedutaan di Suriah

Setelah 14 Tahun, Denmark Buka Lagi Kedutaan di Suriah
potret bendera Denmark (pexels.com/Markus Winkler)
  • Denmark memutuskan membuka kembali kedutaannya di Suriah setelah 14 tahun ditutup sejak 2012 akibat kondisi keamanan yang memburuk selama perang saudara.
  • Kondisi Suriah disebut mulai kondusif setelah rezim Bashar Al-Assad runtuh pada akhir 2024 dan Presiden Ahmed Al-Sharaa berkomitmen menjaga keamanan serta memperbaiki pemerintahan.
  • Denmark mengikuti langkah Prancis, Jerman, Inggris, Turki, dan Qatar yang telah memulihkan hubungan diplomatik atau membuka kembali kedutaan di Damaskus.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Denmark dikabarkan memutuskan untuk kembali membuka kedutaan besarnya (kedubes) di Suriah. Kabar itu disampaikan oleh media Suriah, SANA, berdasarkan keterangan Menteri Luar Negeri (Menlu) Suriah, Asaad al-Shaibani, pada Senin (31/8/2026).

"Babak baru sedang ditulis dalam hubungan Suriah-Denmark. Langkah ini mendorong negara-negara Eropa lainnya untuk berinvestasi di Suriah dan mengikuti jejaknya," kata Shaibani kepada SANA, seperti dilansir The New Arab pada Selasa (1/9/2026).  

  1. 1. Denmark sudah menutup kedubesnya di Suriah selama 14 tahun

    Suasana di Ibu Kota Suriah, Damaskus.
    potret Ibu Kota Suriah, Damaskus (unsplash.com/Mahmoud Sulaiman)

    Denmark sendiri sudah menutup kedubesnya di Suriah selama 14 tahun sejak 2012. Ketika itu, Kopenhagen memutuskan untuk menghentikan seluruh operasional kedubes dan mengakhiri hubungan diplomatiknya dengan Damaskus karena situasi keamanan di sana sedang tidak kondusif akibat perang saudara. Selain Denmark, sejumlah negara lainnya juga melakukan hal serupa. 

    Sepanjang 2012 hingga 2024, Suriah memang sering mengalami perang saudara antara pendukung Presiden Bashar Al-Assad dan kelompok anti-pemerintah. Dilansir Council on Foreign Relation (CFR), Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memprediksi peristiwa tersebut sudah merenggut nyawa hingga 600 ribu orang.

  2. 2. Situasi di Suriah mulai kondusif usai rezim Al-Assad runtuh pada 2024

    Presiden Suriah, Bassar Al-Assad, sedang berada di ruang kerjanya.
    potret mantan Presiden Suriah, Bassar Al-Assad (commons.wikimedia.org/kremlin.ru)

    Namun, situasi di Suriah mulai kondusif usai rezim Al-Assad runtuh pada akhir 2024. Ketika itu, Al-Assad diturunkan oleh kelompok oposisi pemerintah bernama Hayyat Tahrir Al-Sham (HTS). Kelompok tersebut dipimpin oleh Presiden Suriah saat ini, Ahmed Al-Sharaa.

    Sejak menjabat sebagai presiden pada awal 2025 lalu, Al-Sharaa berkomitmen untuk menjaga keamanan di Suriah agar perang saudara serupa tidak kembali terjadi. Selain itu, ia juga berjanji akan memperbaiki tata kelola pemerintahan Suriah yang bobrok imbas rezim Al-Assad yang lalim. Inilah yang akhirnya membuat sejumlah negara di Eropa dan sejumlah negara di benua Asia bersedia memulihkan hubungan diplomatiknya dengan Suriah dengan membuka kembali kedubesnya di Damaskus. 

  3. 3. Sejumlah negara lainnya mulai membuka kembali kedubesnya di Suriah

    Suasana di Suriah.
    potret Negara Suriah (pexels.com/Abd Alrhman Al Darra)

    Selain Denmark, pada Agustus lalu, Prancis juga sudah memutuskan untuk membuka kembali kedubesnya di Suriah. Keputusan ini ditetapkan usai Presiden Prancis, Emmanuel Macron berdiskusi dengan Presiden Al-Sharaa. 

    Pada Maret dan Juli 2025 lalu, Jerman dan Inggris juga melakukan hal serupa. London dan Berlin memutuskan untuk memulihkan hubungan diplomatik dan membuka kembali kedubesnya di Suriah. Namun, Turki dan Qatar menjadi negara pertama dan kedua yang membuka kembali kedubesnya di Suriah setelah ditutup sejak 2012.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More