Ilustrasi penjara. (unsplash.com/Emiliano Bar)
Hubbard merupakan mantan personel Angkatan Udara dan Garda Nasional AS yang pernah mengajar bahasa Inggris di Jepang selama 25 tahun. Ia pindah ke kota Izyum di Ukraina timur pada 2014 bersama pasangannya yang berkewarganegaraan Ukraina. Di sana, ia hidup mengandalkan uang pensiun sekitar 300 dolar AS (Rp5,4 juta) per bulan dan jarang berinteraksi dengan warga setempat.
Pasukan Rusia menangkap Hubbard pada April 2022 setelah menguasai Izyum, atau dua bulan setelah invasi dimulai. Jaksa penuntut Rusia menuduhnya bergabung dengan unit pertahanan teritorial Ukraina dan menjaga pos pemeriksaan militer. Ia dituding menerima pelatihan, senjata, dan amunisi dengan imbalan 1.000 dolar AS per bulan (Rp18 juta).
Pengadilan Moskow memvonis Hubbard dengan hukuman enam tahun 10 bulan penjara melalui persidangan tertutup pada Oktober 2024. Sebelum divonis, ia sempat dipindahkan ke lima pusat penahanan berbeda dan akhirnya ditahan di wilayah Mordovia, sebelah timur Moskow. Pemerintah Rusia juga menolak memberikan akses kekonsuleran kepada pejabat AS selama masa penahanan tersebut.
Media pemerintah Rusia melaporkan bahwa Hubbard telah mengakui kesalahannya di pengadilan. Namun, saudara perempuannya, Patricia Hubbard Fox, meragukan pengakuan tersebut karena kakaknya memiliki pandangan pro-Rusia dan tidak mungkin mengangkat senjata pada usia lebih dari 70 tahun. Pengacara Hubbard di AS, Martin De Luca, juga menegaskan bahwa kliennya membantah seluruh tuduhan itu dan mengaku hanya diculik tentara Rusia dari rumahnya.