Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
DPR AS Tolak Resolusi untuk Setop Operasi Militer Trump di Iran
Ketua DPR AS, Mike Johnson. (Office of Congressman Mike Johnson, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • DPR AS menolak tipis resolusi untuk menghentikan operasi militer Presiden Trump di Iran dengan hasil 219 menolak dan 212 mendukung, memberi ruang bagi kelanjutan aksi militer tersebut.
  • Gedung Putih menyambut keputusan itu sebagai penguatan kewenangan presiden dalam menjaga keamanan nasional, sementara kubu Republik menilai langkah ini penting demi stabilitas dan pertahanan negara.
  • Operasi gabungan AS-Israel telah menewaskan lebih dari seribu orang di Iran, memicu kritik keras dari politisi Demokrat terkait biaya perang dan risiko bagi pasukan Amerika di luar negeri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat (AS) secara tipis menolak resolusi yang bertujuan menghentikan aksi militer Presiden Donald Trump di Iran. Penolakan ini diputuskan pada Kamis (5/3/2026) melalui pemungutan suara dengan hasil 219 menolak dan 212 mendukung.

Kegagalan resolusi secara tersirat memberikan lampu hijau bagi pemerintah AS untuk melanjutkan serangan militer yang telah dimulai sejak akhir pekan lalu. Sebelumnya, Senat AS juga telah memblokir resolusi serupa yang berupaya membatasi kewenangan perang sang presiden. Mayoritas anggota parlemen dari kubu Republik sepakat bahwa Trump berhak melancarkan operasi tersebut demi alasan pertahanan diri dari ancaman mendesak.

1. Dinamika pemungutan suara di Kongres

ilustrasi bendera Amerika Serikat. (unsplash.com/Brandon Mowinkel)

Resolusi pembatasan perang tersebut diinisiasi secara bipartisan oleh Thomas Massie dari kubu Republik dan Ro Khanna dari kubu Demokrat. Aturan ini berupaya mewajibkan penarikan pasukan tempur AS dari area konflik. Operasi militer hanya bisa dilanjutkan jika Kongres AS secara resmi menyetujui deklarasi perang.

Dalam pemungutan suara, dua politikus Republik, Massie dan Warren Davidson, memilih mendukung resolusi. Keduanya berargumen bahwa konstitusi mengharuskan presiden meminta persetujuan Kongres sebelum memasuki konflik bersenjata.

Di sisi lain, empat anggota Partai Demokrat justru berpihak pada faksi Republik untuk menggagalkan resolusi. Mereka adalah Jared Golden, Greg Landsman, Juan Vargas, dan Henry Cuellar.

“Donald Trump bukanlah seorang raja, dan jika ia percaya bahwa perang dengan Iran adalah demi kepentingan nasional kita, maka ia harus datang ke Kongres dan mengemukakan alasannya,” kata anggota DPR AS Gregory Meeks, dilansir Al Jazeera.

2. Gedung Putih sambut hasil pemungutan suara

Gedung Putih. (unsplash.com/Tomasz Zielonka)

Gedung Putih menyambut keputusan DPR AS yang berhasil menggagalkan resolusi tersebut. Pemerintah menyatakan bahwa Kongres telah menegaskan kembali kewenangan konstitusional presiden dalam melindungi rakyat AS.

Ketua DPR AS Mike Johnson memuji hasil pemungutan suara yang dinilai sebagai langkah tepat demi keamanan nasional. Menurut Johnson, pengesahan resolusi justru akan melumpuhkan pergerakan pasukan AS dan malah memberdayakan pihak musuh.

"Kami tidak sedang berperang, kami tidak berniat untuk berperang, ini adalah operasi yang terbatas," tutur Mike Johnson, dilansir BBC.

Anggota parlemen dari kubu Republik, Brian Mast, secara terbuka berterima kasih kepada presiden karena berani mengambil keputusan tegas. Veteran angkatan darat tersebut menilai pengajuan resolusi sama saja dengan memaksa presiden untuk berdiam diri saat diserang.

Para pejabat pemerintahan dilaporkan telah menghabiskan waktu berjam-jam di Capitol Hill untuk melobi para legislator. Mereka berupaya meyakinkan Kongres bahwa situasi keamanan saat ini sepenuhnya terkendali.

3. Serangan AS tewaskan 1.230 orang di Iran

ilustrasi protes di Iran (unsplash.com/Nk Ni)

Operasi militer AS-Israel pecah usai negosiasi terkait program nuklir Iran gagal mencapai kesepakatan. Konflik terus meluas dan membuat ribuan warga Amerika di luar negeri panik. Banyak dari mereka sibuk mencari penerbangan komersial demi meninggalkan negara-negara yang terdampak konflik.

Perang telah memakan korban jiwa dari kedua belah pihak. Sebanyak enam prajurit militer AS tewas terkena ledakan akibat serangan drone di sebuah pangkalan Kuwait. Sementara itu, rentetan serangan AS-Israel dilaporkan telah merenggut nyawa 1.230 orang di wilayah Iran.

Presiden Trump menyatakan militer AS terus melumpuhkan kemampuan drone dan rudal Iran setiap jam. Ia mengklaim Iran kini telah kehilangan kekuatan angkatan udara maupun sistem komunikasinya. Trump juga menolak permintaan negosiasi dari Teheran karena merasa niat tersebut sudah terlambat.

Tingginya biaya operasi militer juga telah memicu kritik tajam dari para politikus Demokrat di Kongres. Mereka menyayangkan pengeluaran anggaran hingga miliaran dolar AS untuk menyokong perang di saat krisis keterjangkauan domestik masih terjadi.

"Apa pembenaran untuk mengirim pria dan wanita Amerika ke medan perang, dan mempertaruhkan nyawa mereka?" ujar Pemimpin Minoritas DPR Hakeem Jeffries, dilansir NBC News.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team