Prancis Tutup 12 Stan Pertahanan Israel di Pameran Militer Eurosatory

- Pemerintah Prancis menutup 12 stan perusahaan pertahanan Israel di pameran Eurosatory 2026 karena regulasi yang membatasi tampilan teknologi persenjataan ofensif.
- Penyelenggara Coges Events menegaskan penutupan dilakukan sesuai aturan pemerintah Prancis, sementara pihak Israel mengklaim telah mematuhi ketentuan dengan hanya menampilkan sistem pertahanan.
- Langkah ini memperburuk hubungan diplomatik Prancis-Israel setelah pengakuan Palestina oleh Paris dan memicu kekhawatiran soal persaingan industri pertahanan di pasar Eropa.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Prancis menutup 12 stan milik perusahaan pertahanan Israel dalam pameran militer Eurosatory di Paris pada Senin (15/6/2026). Penutupan ini dilakukan oleh pihak penyelenggara berdasarkan regulasi pemerintah setempat terkait jenis teknologi persenjataan yang diizinkan untuk dipamerkan.
Keputusan tersebut mendapat protes dari otoritas keamanan dan pelaku industri pertahanan Israel yang merasa telah mematuhi aturan. Langkah pembatasan di area pameran ini menambah catatan perbedaan pandangan antara kedua negara terkait kebijakan luar negeri dan persaingan industri militer.
1. Penutupan dilakukan menjelang pembukaan pameran
Sebanyak 12 stan perusahaan pertahanan Israel diblokir menggunakan barikade kayu menjelang pembukaan Eurosatory. Perusahaan yang terdampak di antaranya adalah Aeronautics, Controp, dan Smart Shooter.
Sementara itu, beberapa kontraktor pertahanan besar seperti Elbit Systems dan Rafael tetap diizinkan beroperasi. Namun, kehadiran mereka disertai dengan pembatasan dan pengawasan yang ketat.
Pihak penyelenggara mengirimkan pemberitahuan pemblokiran melalui surat elektronik pada larut malam. Hal ini mengejutkan perwakilan perusahaan yang sebelumnya menyatakan telah mengosongkan stan mereka dari senjata ofensif.
"Mereka mengirim email, seperti pencuri di malam hari, bahwa mereka akan memblokir stan kami," kata CEO Orbit Communication Systems, Daniel Eshchar, dilansir The Jerusalem Post.
2. Penyelenggara sebut penutupan stan sesuai regulasi Prancis
Penyelenggara Eurosatory, Coges Events, menyatakan penutupan stan dilakukan demi mematuhi regulasi pemerintah Prancis. Aturan tersebut mewajibkan delegasi Israel hanya menampilkan sistem persenjataan defensif seperti sistem pertahanan udara.
Kebijakan ini diambil untuk memastikan tidak ada teknologi militer ofensif yang dipromosikan di dalam area pameran.
"Sebagai hasilnya, 12 stan terpaksa ditutup," kata Direktur Utama Coges Events, Charles Beaudouin.
Kementerian Pertahanan Israel menyampaikan keberatan atas penutupan tersebut. Mereka menyatakan bahwa industri pertahanannya telah berupaya mematuhi aturan pembatasan yang ditetapkan oleh Paris.
"Semalam, manajemen pameran Eurosatory memblokir stan industri pertahanan Israel meskipun perusahaan-perusahaan ini telah memenuhi tuntutan pemerintah Prancis dan hanya menampilkan sistem pertahanan," jelas perwakilan Kementerian Pertahanan Israel, dilansir Breaking Defense.
3. Penutupan stan memperburuk hubungan diplomatik Prancis dan Israel
Pembatasan di Eurosatory 2026 terjadi di tengah penyesuaian hubungan diplomatik antara Prancis dan Israel. Dinamika kedua negara mengalami perubahan signifikan, terutama setelah Prancis mengakui kedaulatan negara Palestina pada akhir 2025.
Selain faktor diplomatik, sejumlah analis dan pelaku industri menilai kebijakan ini turut dipengaruhi oleh persaingan pasar di sektor pertahanan. Ekspor teknologi militer Israel dianggap sebagai pesaing kuat bagi produsen lokal Eropa.
"Industri pertahanan Israel sangat kuat, terutama di Eropa, dan hal itu membuat Prancis kesulitan bersaing," kata CEO Aeronautics, Dan Slasky.
Merespons pembatasan ini, sejumlah perusahaan Israel mulai mempertimbangkan kembali partisipasi mereka pada pameran di Prancis. Mereka kini memfokuskan pertemuan bisnis dengan klien ke negara-negara lain untuk menjaga komitmen industri militer global mereka.

















