Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Perang dengan Iran, Israel Tiadakan Salat Jumat di Masjid Al-Aqsa

Perang dengan Iran, Israel Tiadakan Salat Jumat di Masjid Al-Aqsa
Masjid Al-Aqsa (unsplash.com/nour tayeh)
Intinya Sih
  • Israel membatalkan salat Jumat di Masjid Al-Aqsa dan menutup seluruh situs suci di Kota Tua Yerusalem setelah serangan balasan Iran dalam konflik yang meluas di Timur Tengah.
  • Akses ke Kota Tua dibatasi ketat sejak perang Israel-AS dengan Iran, sementara warga Palestina mengecam penutupan berulang terhadap Masjid Al-Aqsa selama bulan Ramadan.
  • Selain Al-Aqsa, Masjid Ibrahimi di Hebron juga ditutup total oleh militer Israel, memicu kekhawatiran atas meningkatnya kontrol dan perubahan tata kelola wilayah Tepi Barat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Israel telah membatalkan pelaksanaan salat Jumat di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem Timur yang diduduki. Pembatasan ini menjadi yang terbaru yang diberlakukan Israel di situs suci ketiga umat Islam tersebut sejak awal bulan suci Ramadan.

Dalam pernyataan pada Kamis (5/3/2026), Kepala Administrasi Sipil Israel, Brigadir Jenderal Hisham Ibrahim, mengatakan bahwa keputusan ini diambil menyusul serangan balasan yang diluncurkan Iran terhadap Israel dan seluruh kawasan Timur Tengah.

“Semua situs suci di Kota Tua Yerusalem, termasuk Tembok Barat, Bukit Bait Suci, dan Gereja Makam Suci, akan tetap ditutup besok, dan jamaah serta pengunjung dari semua agama tidak akan diizinkan masuk,” kata kepala badan pemerintahan Israel di Tepi Barat yang diduduki itu melalui platform militer Al Munasiq.

1. Akses masuk ke Kota Tua ditutup sejak meletusnya perang AS-Israel dengan Iran

kompleks Masjid Al-Aqsa
kompleks Masjid Al-Aqsa (pixabay.com/UmmePhotos)

Sejak perang Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran meletus pekan lalu, pihak berwenang Israel menutup total akses masuk ke Kota Tua, tempat Masjid Al-Aqsa berada. Hanya penduduk setempat dan pemilik toko yang diizinkan melewati barikade keamanan.

Syekh Ikrima Sabri, imam senior di Masjid Al-Aqsa, mengecam kebijakan Israel yang berulang kali menutup situs suci umat Islam tersebut.

“Otoritas pendudukan memanfaatkan setiap kesempatan untuk menutup Al-Aqsa, dan ini sepenuhnya tidak bisa dibenarkan,” katanya kepada Al Jazeera pada Minggu (1/3/2026).

Pembatasan ini sebenarnya sudah terjadi sebelum perang dimulai. Bulan lalu, pihak berwenang Israel hanya mengizinkan 10 ribu warga Palestina dari Tepi Barat yang diduduki memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa untuk menunaikan salat Jumat selama Ramadan. Padahal, Masjid Al-Aqsa mampu menampung hingga setengah juta orang.

2. Politisi dan pemukim Israel kerap menerobos Masjid Al-Aqsa dengan dikawal tentara

Masjid Al-Aqsa
Masjid Al-Aqsa (pexels.com/Yasir Gürbüz)

Kompleks Masjid Al-Aqsa dikelola oleh Yordania, tetapi akses ke situs itu dikendalikan oleh pasukan keamanan Israel. Berdasarkan status quo yang telah berlaku selama beberapa dekade, orang-orang Yahudi dan non-Muslim lainnya diizinkan mengunjungi kompleks tersebut pada jam-jam tertentu, tetapi mereka tidak diperkenankan beribadah di sana atau menampilkan simbol-simbol keagamaan.

Meski demikian politisi sayap kanan dan pemukim Israel hampir setiap minggu menerebos masuk kompleks tersebut dan melakukan ritual keagamaan di bawah perlindungan pasukan Israel. Warga Palestina khawatir Israel akan semakin memperluas campur tangan di situs ini, terutama dengan adanya beberapa menteri senior yang melakukan ibadah di lokasi tersebut.

Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, sendiri telah berulang kali menyerukan hak bagi orang Yahudi untuk beribadah di kompleks Masjid Al-Aqsa dan menentang pengaturan status quo saat ini. Pada 2024, ia menyatakan akan membangun sinagoga di kompleks masjid tersebut.

3. Masjid Ibrahimi di Hebron juga ditutup sejak perang Israel-AS dengan Iran meletus

Masjid Ibrahimi di Hebron, Tepi Barat yang Diduduki
Masjid Ibrahimi di Hebron, Tepi Barat yang Diduduki (فاطمة معاوية عامر, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

Militer Israel juga menutup Masjid Ibrahimi di Hebron, Tepi Barat yang diduduki, sejak pecahnya perang dengan Iran. Direktur masjid, Mu’taz Abu Sneineh, menyatakan bahwa militer telah memerintahkan penangguhan semua salat di lokasi tersebut sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Dilansir dari Middle East Eye, Masjid Ibrahimi di Hebron termasuk salah satu situs suci bagi umat Islam, Yahudi, dan Kristen. Masjid ini telah dikelola oleh warga Palestina dan digunakan sebagai rumah ibadah umat Islam selama lebih dari 1.400 tahun. Namun, seperti Masjid Al-Aqsa, masjid ini telah lama menghadapi apa yang disebut warga Palestina sebagai upaya Israel untuk mengubah karakter Islaminya demi memperluas kehadiran Yahudi.

Bulan lalu, Israel mengumumkan perubahan besar-besaran dalam tata kelola di Tepi Barat, yang menurut para kritikus sama dengan aneksasi de facto. Hebron secara eksplisit disebut dalam keputusan tersebut. Berdasarkan kebijakan baru, wewenang atas izin mendirikan bangunan dan persetujuan konstruksi di kota itu dialihkan dari Otoritas Palestina (PA) ke militer Israel. Langkah ini menimbulkan kekhawatiran mengenai kemungkinan pengendalian tanpa batas oleh Israel atas Masjid Ibrahimi di masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina
Follow Us

Latest in News

See More