Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Eisenkot Janji Gulingkan Pemerintahan Netanyahu usai Pemilu Israel
potret Ketua Partai Yashar sekaligus pemimpin oposisi Israel, Gadi Eisenkot (commons.wikimedia.org/Yahav Trudler)
  • Gadi Eisenkot, pemimpin oposisi dan Ketua Partai Yashar, berjanji menggulingkan pemerintahan Benjamin Netanyahu setelah pemilu Israel, dengan mengklaim banyak warga menginginkan perubahan.
  • Dengan 89,8 persen suara masuk, koalisi Netanyahu memimpin 53 kursi berbanding 48 kursi untuk koalisi Eisenkot; keduanya masih membutuhkan minimal 61 dari 120 kursi.
  • Partisipasi pemilih meningkat, termasuk sekitar 80.000 warga Israel dari luar negeri yang pulang untuk mencoblos, sehingga berpotensi memengaruhi hasil akhir pemilu ketat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Ketua Partai Yashar sekaligus pemimpin oposisi Israel, Gadi Eisenkot, berjanji akan menggulingkan pemerintahan Benjamin Netanyahu usai pemilihan umum (pemilu) Israel selesai digelar. Sebab, menurutnya, warga Israel sudah tidak mau Netanyahu menjadi Perdana Menteri lagi dalam pemerintahan berikutnya.

“Saya merasakan beratnya tanggung jawab dan kepercayaan yang diberikan kepada saya oleh ratusan ribu warga yang percaya pada Negara Israel dan Zionisme,” tulis Eisenkot dalam sebuah unggahan di media sosial X pada Rabu (28/10/2026), seperti dikutip Anadolu Agency. 

1. Koalisi Netanyahu sementara unggul dalam pemilu

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth (kiri) berpamitan kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (kanan) setelah pertemuan bilateral di Pentagon, Washington, D.C., pada 9 Juli 2025. (flickr.com/U.S. Secretary of Defense via commons.wikimedia.org/U.S. Secretary of Defense)

Saat ini, total suara yang masuk dalam pemilu Israel sudah mencapai 89,8 persen. Sejauh ini, koalisi yang dipimpin Netanyahu masih unggul. Koalisi Netanyahu sejauh ini berhasil mendapatkan 53 kursi di parlemen, sedangkan koalisi Eisenkot mendapatkan 48 kursi. Kendati demikian, dua koalisi tersebut minimal harus mendapatkan 61 kursi dari total 120 kursi di parlemen agar bisa dinyatakan sebagai pemenang. 

Nantinya, pemimpin koalisi yang berhasil mendominasi parlemen akan diusulkan ke presiden Israel untuk menjadi perdana menteri. Dengan hasil tadi, Netanyahu berpotensi menjabat lagi sebagai pemimpin Pemerintahan Israel. Namun, itu semua masih belum pasti karena pemilu belum sepenuhnya usai. Proses perhitungan suara juga masih berlangsung.

2. Eisenkot masa bodoh dengan keunggulan koalisi Netanyahu

potret Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (flickr.com/IsraelinUSA via commons.wikimedia.org/IsraelinUSA)

Melihat hasil tersebut, Eisenkot mengatakan dirinya tidak peduli dengan keunggulan koalisi Netanyahu. Sebab, menurutnya, proses pemilu masih panjang sehingga banyak hal yang masih bisa berubah di tengah jalan, termasuk hasil pemilu. Oleh karena itu, Eisenkot mengatakan akan terus bekerja keras sampai pemilu usai agar koalisinya menang sehingga dirinya berpeluang menjadi perdana menteri. 

“Masih ada hari-hari kerja panjang di depan. Namun, kami tetap fokus pada tugas berat yang dipercayakan kepada kami, yakni membawa perubahan ke Israel dan membentuk pemerintahan Zionis yang berkomitmen pada wajib militer,” kata Eisenkot. 

3. Partisipasi warga Israel dalam pemilu sangat tinggi

potret warga Israel (unsplash.com/Yoav Aziz)

Sebagai informasi, partisipasi warga Israel dalam pemilu kali ini sangat tinggi. Ada puluhan ribu warga Israel di luar negeri yang memutuskan pulang ke tanah airnya hanya untuk mencoblos. Peristiwa ini sangat kontras dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Sebab, banyak warga Israel yang golput karena enggan datang ke tempat pemungutan suara untuk mecoblos.

“Meskipun bukan blok yang besar, 80.000 orang yang mungkin pulang untuk berpartisipasi dapat membuat perbedaan besar dalam penghitungan akhir pemilihan yang sangat ketat,” kata Yael Shomer, seorang Profesor Ilmu Politik di Universitas Tel Aviv, seperti dilansir CNBC. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article