Mobilisasi Suara Pemilih Arab oleh Netanyahu Menuai Kecaman

- Netanyahu dan koalisi Likud menggalang pemilih sayap kanan setelah meningkatnya partisipasi warga Arab, termasuk melalui iring-iringan mobil, video antrean, dan pesan media sosial.
- Politisi Arab mengecam narasi yang menggambarkan hak pilih warga keturunan Palestina sebagai ancaman, sementara mereka menilai antusiasme pemilih sebagai hal positif bagi demokrasi.
- Pejabat sayap kanan turut mengintensifkan kampanye; partisipasi nasional mencapai 55,7 persen dalam sembilan jam, menjadikan suara pemilih Arab penting bagi perebutan kursi koalisi.
Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bersama koalisinya menggencarkan mobilisasi pendukung untuk mendatangi tempat pemungutan suara (TPS) pada Selasa (27/10/2026). Langkah kampanye ini menyoroti peningkatan jumlah pemilih dari kalangan warga Arab, yang menuai kritik tajam karena dinilai memicu sentimen antarkelompok.
Manuver kubu petahana tersebut mencuat di tengah ketatnya perebutan 120 kursi parlemen (Knesset) berdasarkan hasil sejumlah survei politik. Di sisi lain, para tokoh keturunan Arab justru menyambut positif tingginya partisipasi warga sebagai wujud nyata kehidupan demokrasi.
1. Mobilisasi massa pendukung sayap kanan di Yerusalem
Saksi mata melaporkan iring-iringan mobil Partai Likud melintasi wilayah Yerusalem sambil memutar rekaman azan melalui pengeras suara. Mereka mengajak para pendukung sayap kanan segera memberikan suara dengan alasan tingkat partisipasi pemilih warga Arab tengah meningkat.
Melalui media sosial, Netanyahu juga membagikan video antrean pemilih Arab guna mendorong kehadiran pendukungnya di TPS. Pendekatan semacam ini pernah beberapa kali digunakan oleh Netanyahu pada pemilu sebelumnya demi mengonsolidasikan suara pemilih sayap kanan.
"Jika kita tidak bergerak sekarang, pemerintahan mendatang akan dipimpin oleh koalisi Mansour Abbas dan Ahmad Tibi," tulis Netanyahu kepada para pendukungnya, dilansir The Arab Weekly.
2. Tanggapan tokoh politik Arab terhadap kampanye petahana
Para politisi minoritas Arab mengecam narasi kubu petahana yang menempatkan hak pilih warga keturunan Palestina sebagai sebuah ancaman. Warga Arab mencakup sekitar 21 persen dari total 10 juta populasi Israel dan tercatat memiliki riwayat partisipasi pemilu yang lebih rendah dibanding pemilih Yahudi. Tokoh partai Arab lainnya, Ahmad Tibi, menilai tingginya partisipasi masyarakat berpeluang membuka jalan bagi terbentuknya pemerintahan baru.
"Pesan semacam ini merupakan bentuk hasutan. Tidak ada yang perlu ditakutkan karena antusiasme pemilih adalah hal yang sangat positif bagi demokrasi," tegas Pemimpin Partai Balad, Sami Abu Shehadeh.
3. Reaksi jajaran menteri sayap kanan di lapangan
Laporan mengenai peningkatan kehadiran pemilih memicu langkah cepat dari sejumlah pejabat sayap kanan. Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir mendatangi pemukiman warga di dekat kawasan mayoritas Arab untuk mendorong kehadiran pemilih, sementara Menteri Keuangan Bezalel Smotrich menunda agenda kampanye guna menggelar pertemuan darurat.
"Jika ingin negara ini tetap menjadi negara Yahudi, datanglah ke TPS dan gunakan hak pilih Anda," ujar Ben-Gvir seraya menyebut tingkat partisipasi di kota Rahat sangat tinggi.
Data Komite Pemilihan Pusat mencatat tingkat partisipasi pemilih nasional mencapai 55,7 persen dalam sembilan jam pertama pemungutan suara, yang menjadi salah satu laju tercepat dan menempatkan suara pemilih Arab pada posisi penentu perolehan kursi koalisi.





















