ilustrasi aparat keamanan (pexels.com/Kindel Media)
Aparat keamanan berseragam dinas maupun berpakaian preman bersiaga di sekitar stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Satu jam usai kebijakan berlaku, dua dari delapan SPBU yang dipantau oleh Associated Press sempat ditutup sementara untuk mengatur ulang tarif mesin pompa bahan bakar. Sementara itu, enam stasiun lainnya tetap beroperasi dan dipadati antrean kendaraan warga yang ingin mengisi bensin.
Seorang warga Teheran berusia 34 tahun, Asghar Rahimi, menilai langkah kenaikan tarif ini tidak akan berhenti begitu saja. "Jumlah yang kecil ini tidak dapat membantu pemerintah mengelola masalah seperti kemiskinan dan pengangguran," kata Rahimi. Dia menduga otoritas Iran akan kembali menaikkan harga bensin dalam beberapa bulan mendatang.
Kekhawatiran serupa diungkapkan oleh warga lain bernama Ali Salari (55) yang cemas lonjakan harga bensin akan menyeret naiknya harga pangan pokok seperti roti dan daging. Sementara itu, Hamid Mirzei (43) menyebut belanja kebutuhan pangan dasar kini bisa menembus 100 juta rial atau sekitar 73 dolar AS atau setara Rp1,28 juta. "Hidup menjadi sulit bagi kita semua. Bahkan kebutuhan pokok sekalipun menjadi tidak terjangkau. Jika harga bensin ikut naik, situasi hanya akan menjadi jauh lebih buruk," tutur Mirzei.