Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pemimpin Iran Serukan Persatuan Negara Muslim dan Ketahanan Ekonomi

Pemimpin Iran Serukan Persatuan Negara Muslim dan Ketahanan Ekonomi
potret Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei (commons.wikimedia.org/Mostafa Tehrani)
  • Mojtaba Khamenei menyerukan negara-negara Muslim bersatu menghadapi AS dan Israel, sembari meminta pejabat serta warga Iran menghentikan perselisihan yang dinilai mengganggu kohesi sosial.
  • Ia mendorong ekonomi resistensi melalui produksi dan teknologi domestik serta pengurangan dolar, di tengah inflasi melampaui 80 persen, antrean BBM, anjloknya rial, dan ekspor minyak nol.
  • Pejabat Iran berbeda pandangan soal penghentian perang: Ghalibaf mendukung perundingan, kelompok garis keras menolaknya, Pezeshkian ingin mengakhiri perang saat posisi negara kuat, sedangkan Mojtaba menolak dualisme perang-negosiasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei menyerukan persatuan kepada seluruh negara Muslim di kawasan untuk menghadapi Amerika Serikat dan Israel, Minggu (30/8/2026). Imbauan tertulis tersebut disampaikan bertepatan dengan enam bulan dimulainya perang di Timur Tengah serta peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW bagi umat Islam Syiah.

Pesan tersebut dirilis saat Iran tengah menghadapi tekanan ekonomi hebat, ancaman krisis bahan bakar minyak, dan tingginya angka inflasi akibat blokade Angkatan Laut Amerika Serikat serta sanksi internasional. Dalam pesannya, Mojtaba juga meminta para pejabat dan warga Iran menjaga kohesi sosial dengan menghentikan penyorotan kelemahan domestik yang dapat menguntungkan pihak musuh.

  1. 1. Seruan persatuan negara Muslim dan penentuan musuh bersama

    ilustrasi peta wilayah Timur Tengah
    ilustrasi peta wilayah Timur Tengah (pexels.com/Lara Jameson)

    Melalui pernyataan resmi yang dilansir The New Indian Express, Mojtaba Khamenei meminta para pemimpin di kawasan untuk mengenali musuh nyata, memahami rencananya, dan menghadapinya. "Solusi untuk masalah bangsa-bangsa Islam adalah persatuan kata, persahabatan, dan kerja sama di jalan kebaikan," kata Mojtaba. Ia menambahkan bahwa siapa pun yang memicu perpecahan di antara komunitas Muslim secara langsung melayani tujuan musuh Islam.

    Pesan persatuan ini disampaikan setelah hubungan Iran dengan beberapa negara tetangga memburuk selama konflik berlangsung. Dilansir The New Indian Express, Iran sempat menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, Kuwait, Qatar, dan Bahrain. Sementara itu, serangan terhadap negara-negara tetangga tersebut memicu sebagian di antaranya menangguhkan hubungan ekonomi dengan Teheran.

    Mojtaba juga mendesak pejabat dan warga Iran untuk menyampingkan perbedaan pendapat demi menjaga keutuhan dalam negeri. "Saya secara tegas menyatakan bahwa melakukan apa pun yang merugikan kohesi sosial adalah dilarang," ujar Mojtaba.

    Nasihat tersebut menegaskan kembali pernyataan sebelumnya agar rakyat tidak membiarkan perselisihan internal berkembang.

  2. 2. Dorongan penguatan ekonomi resistensi dan penghentian dolar

    ilustrasi bahan bakar minyak
    ilustrasi bahan bakar minyak (pexels.com/Engin Akyurt)

    Di samping isu persatuan, Mojtaba menekankan pentingnya penerapan kebijakan ekonomi resistensi secara menyeluruh untuk mengatasi krisis ekonomi. Dilansir The National, ia meminta pemerintah memfokuskan strategi pada peningkatan produksi dalam negeri serta penghapusan peran dolar AS secara bertahap. Penggunaan teknologi domestik dan pengelolaan kapasitas nasional dinilai menjadi kunci utama dalam menghadapi tekanan sanksi serta gangguan perang.

    Imbauan ini muncul di tengah lonjakan antrean panjang di berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum di Teheran akibat aksi beli karena panik (panic buying). Meski pemerintah menyatakan harga bahan bakar bersubsidi belum berubah, reformasi struktural dan penyesuaian harga non-subsidi kini mulai dipertimbangkan. Dilansir The National, tingkat inflasi Iran saat ini melampaui 80 persen, sementara nilai mata uang rial merosot ke rekor terendah.

    Tekanan ekonomi Iran semakin meningkat setelah ekspor minyak dilaporkan merosot hingga nol akibat sanksi dan blokade Angkatan Laut Amerika Serikat. Dalam Operation Economic Outcast, Presiden AS Donald Trump berupaya memaksa Teheran kembali ke meja perundingan serta membuka kembali Selat Hormuz.

    Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent diproyeksikan akan mendesak negara-negara G20 untuk memutus hubungan finansial dan komersial dengan Teheran. Amerika Serikat memperingatkan bahwa transaksi bisnis dengan Iran dapat mengancam akses negara-negara mitra terhadap sistem keuangan berbasis dolar AS.

  3. 3. Spekulasi kondisi Mojtaba dan dinamika perundingan perang

    ilustrasi konflik AS-Israel dengan Iran
    ilustrasi konflik AS-Israel dengan Iran (unsplash.com/Saifee Art)

    Mojtaba Khamenei belum pernah terlihat lagi di muka umum sejak terluka dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026 yang menewaskan ayahnya sekaligus Pemimpin Tertinggi sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei. Dilansir The National, absennya Mojtaba sejak penunjukannya memicu spekulasi mengenai kondisi kesehatannya serta sosok yang memegang kendali pemerintahan. Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) kini semakin dipandang memiliki peran sentral dalam pengambilan keputusan negara.

    Di tingkat internal, muncul perbedaan pandangan di antara para pejabat Teheran mengenai langkah penghentian perang. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf membela opsi perundingan sebagai sarana untuk memajukan kepentingan nasional. Namun, kelompok garis keras memperingatkan bahwa langkah negosiasi tersebut berpotensi melemahkan sistem revolusioner Iran.

    Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan bahwa Iran sebaiknya mengakhiri perang saat berada dalam posisi yang kuat. "Lebih baik kita mengakhiri perang sekarang karena kita berada dalam posisi kekuatan dan martabat," kata Pezeshkian, dilansir The National.

    Mojtaba sendiri menolak pembagian opsi antara perang atau negosiasi yang ia sebut sebagai dualisme imajiner.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More