Ilustrasi peta kawasan Timur Tengah. (unsplash.com/mana5280)
Namun, di balik kesuksesan ekonomi ini, para pengamat memperingatkan adanya ancaman yang mengkhawatirkan. Peningkatan ekspor senjata secara otomatis meningkatkan risiko keterlibatan tidak langsung Seoul dalam konflik internasional, dan menghadapi tekanan diplomatik terkait penggunaan senjata buatannya di kawasan perang.
Sebagai contoh, penumpukan sistem pertahanan udara Korsel di Uni Emirat Arab (UEA) mulai menyeret kepentingan diplomatik Seoul di Timur Tengah. Di sisi lain, Korsel juga harus menjaga hubungan dengan Iran untuk jalur pasokan minyak mereka.
Pemerintah Korsel menyatakan tetap menerapkan regulasi ketat melalui Administrasi Program Akuisisi Pertahanan (DAPA) dan aturan internasional, termasuk Perjanjian Perdagangan Senjata. Namun, para kritikus skeptis bahwa standar tersebut diterapkan secara konsisten demi mengejar keuntungan ekonomi. Kritik juga muncul terkait konsistensi penerapan standar hak asasi manusia (HAM) dan pembatasan ekspor senjata ke wilayah konflik.
"Pemerintah dan media terus membingkai hal ini sebagai jackpot industri pertahanan atau saham pertahanan yang melonjak. Patut diragukan apakah penyaringan risiko yang berarti benar-benar dilakukan," ujar Moon A-young, presiden PeaceMomo, organisasi Korea yang merupakan mitra SIPRI, dikutip dari Hankyoreh.
"Jika kritik Presiden Lee terhadap Israel didasarkan pada keyakinannya terhadap HAM universal, kritik tersebut perlu diterapkan secara konsisten pada ekspor senjata," sambungnya.