Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi bendera Denmark (unsplash.com/Sue Winston)
  • Ribuan pelajar berdemonstrasi di Kopenhagen menolak rencana pemotongan tunjangan, dengan penyelenggara mencatat 13 ribu peserta pawai dan 40 ribu pelajar mogok di 57 sekolah.
  • Usulan pemerintah menghapus tunjangan bagi pelajar yang tinggal dengan orang tua berpenghasilan di atas 700 ribu kroner per tahun, serta menerapkan bantuan bertingkat untuk kelompok pendapatan tertentu.
  • Demonstran menilai perubahan mengancam akses pendidikan, sementara Kementerian Pendidikan Tinggi memperkirakan 14 ribu pelajar kehilangan tunjangan dan delapan ribu lainnya menerima pengurangan dana.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Ribuan anak muda di Denmark berdemonstrasi menentang rencana pemerintah yang ingin memotong tunjangan pelajar di bawah skema bantuan yang telah berjalan puluhan tahun pada Senin (2/11/2026). Aksi unjuk rasa tersebut dipusatkan di Kopenhagen melalui pawai dari alun-alun balai kota menuju gedung parlemen.

Dilansir Al Jazeera, para demonstran berkumpul di bawah spanduk bertuliskan "Cukup Sudah" guna menentang menentang pemotongan anggaran yang ditujukan untuk membebaskan dana bagi belanja pertahanan. Aksi ini menambah panjang gelombang keresahan pemuda di Eropa setelah demonstrasi serupa bermula di Prancis dan merembet ke sejumlah negara lain.

1. Aksi mogok dan protes ribuan pelajar di Kopenhagen

Kopenhagen, Denmark (unsplash.com/Alexander Kovalev)

Pihak penyelenggara aksi menyampaikan hingga 13 ribu pelajar ikut serta dalam pawai menuju gedung parlemen tersebut. Asosiasi pelajar juga mencatat sekitar 40 ribu pelajar melakukan aksi mogok di 57 sekolah di seluruh Denmark demi menolak usulan pemotongan tersebut.

Gerakan protes yang meluas di berbagai negara Eropa tersebut kini telah berkembang menjadi keluhan yang lebih luas terkait krisis biaya hidup serta krisis perumahan yang membebani kaum muda di benua Eropa.

2. Rencana perubahan skema tunjangan bagi pelajar

ilustrasi pelajar (unsplash.com/Dom Fou)

Sejak 1970, semua pelajar yang terdaftar di sekolah atau universitas di Denmark dan berusia di atas 18 tahun secara otomatis menerima tunjangan tanpa memandang pendapatan orang tua mereka. Saat ini, pelajar menerima 1.154 kroner Denmark atau setara Rp3,14 juta (kurs Rp2.720) per bulan bagi yang tinggal bersama orang tua, serta 7.426 kroner atau setara Rp20,20 juta per bulan bagi yang tinggal mandiri.

Di bawah usulan baru pemerintah, tunjangan ini akan dihapus bagi pelajar yang tinggal bersama orang tua berpenghasilan tahunan di atas 700 ribu kroner atau setara Rp1,90 miliar. Skema tunjangan nantinya hanya berlaku secara bertingkat bagi pelajar yang tinggal bersama orang tua dengan penghasilan antara 419.589 kroner atau setara Rp1,14 miliar hingga 700 ribu kroner per tahun.

3. Kritik demonstran dan penjelasan kementerian

ilustrasi unjuk rasa (unsplash.com/James Eades)

Kepolisian Kopenhagen hadir dalam jumlah besar selama demonstrasi berlangsung untuk melakukan pengamanan. Ribuan pemuda meneriakkan "Janji-janji yang Diingkari" dan membawa tanda bertuliskan "Selamatkan SU" , "Dukungan Berkurang, Pendidikan Menurun" , serta "Jangan Curangi Kaum Muda".

Presiden Asosiasi Siswa Sekolah Menengah Denmark Oscar Tonsberg Hoffmann menyatakan, "Di Denmark, kami mendapatkan pendanaan dan dukungan ekonomi untuk memperoleh pendidikan, dan kami sangat bangga dengan hal ini." Dia juga menyampaikan kepada AFP bahwa tindakan merombak "salah satu sistem pendidikan terkuat di dunia" merupakan hal yang salah.

Kementerian Pendidikan Tinggi Denmark menyatakan sekitar 14 ribu pelajar diperkirakan akan kehilangan tunjangan dan delapan ribu lainnya mengalami pengurangan dana. Pemerintah juga mengusulkan tunjangan pengangguran bagi lulusan universitas baru hanya dibayarkan kepada mereka yang telah bekerja selama 18 dari 24 bulan terakhir masa studi, sementara Menteri Industri Martin Lidegaard menyebut pemotongan tersebut "bukan keputusan yang menyenangkan".

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article