Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat (AS) dan sejumlah kekuatan regional menyatakan keprihatinan mendalam, setelah China sukses melakukan uji tembak rudal balistik antarbenua (ICBM) tanpa hulu ledak dari kapal selam bertenaga nuklir ke Samudra Pasifik pada 6 Juli 2026. Langkah Beijing ini dinilai memicu destabilisasi dan memperburuk ketegangan di kawasan Asia-Pasifik.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Thomas Pigott, menegaskan bahwa Washington memantau ketat peluncuran tersebut. Di saat AS berupaya keras mencegah proliferasi nuklir, tindakan Beijing justru menunjukkan hal sebaliknya. AS mendesak China untuk lebih transparan dan terlibat dalam diskusi pengendalian senjata yang mendalam, dilansir NHK News pada Selasa (7/7/2026).
Uji coba ini memicu protes keras dari Jepang, Australia, Selandia Baru, Taiwan, hingga Kepulauan Solomon. Sementara itu, media pemerintah China, Global Times, mengeklaim peluncuran tersebut secara signifikan meningkatkan daya pencegahan 'triad nuklir' Beijing untuk menangkal tekanan militer maksimum dari kekuatan eksternal.
