Nakes RD Kongo Mogok Kerja di Tengah Merebaknya Wabah Ebola

- Tenaga kesehatan di RD Kongo mogok kerja karena gaji dan bonus belum dibayar, padahal mereka menangani pasien Ebola di tengah peningkatan kasus yang cepat.
- Nakes di Provinsi Ituri bekerja dengan alat seadanya dan menghadapi risiko tinggi, termasuk ancaman kekerasan saat melacak penyebaran virus Ebola.
- WHO menyebut penyebaran Ebola dipicu pergerakan manusia, sementara fasilitas penanganan hampir penuh dan pemerintah lokal mengklaim telah menindaklanjuti keluhan nakes.
Jakarta, IDN Times - Tenaga kesehatan (nakes) di Republik Demokratik (RD) Kongo yang menangani pasien Ebola melakukan mogok kerja pada Kamis (9/7/2026). Keputusan ini sebagai bentuk protes karena gaji dan bonusnya tak kunjung dibayarkan oleh pemerintah setempat.
Sementara itu, penularan wabah Ebola di RD Kongo terus meningkat dengan cepat dalam beberapa bulan terakhir. Sejak Mei, WHO sudah menetapkan Ebola sebagai darurat kesehatan global untuk menghindari penyebaran penyakit berbahaya tersebut.
1. Sebut dokter bekerja dengan alat seadanya
Aksi ini dilakukan oleh sejumlah dokter dan perawat di Provinsi Ituri, salah satu dari tiga provinsi paling terdampak di RD Kongo. Kepala Komite Pengawas Epidemiologi di Ituri, dr. Biensi Kano mengatakan bahwa selain gaji tak dibayarkan, nakes juga bekerja dengan alat seadanya.
“Sejak dimulainya masa darurat imbas merebaknya virus Ebola, kami sudah menginginkan gaji sesuai atas kerja keras kami. Kami juga diperlakukan tidak adil dan bekerja dalam kondisi yang seadanya dengan keterbatasan alat,” tuturnya, dikutip dari Africa News.
Sementara itu, kasus Ebola di RD Kongo sudah mencapai 1.708 dan korban tewas sudah menembus 580 orang. Pada bulan pertama kasus Ebola, menjadi penyebaran terburuk yang tercatat dalam data otoritas setempat.
2. Sebut penanganan Ebola sangat berisiko
Investigator lokal, dr. Ben Bakule mengatakan bahwa dia hampir saja tewas karena diserang oleh sekelompok pria. Serangan itu hanya karena ia sedang melacak orang yang diduga terjangkit virus Ebola di Desa Tutu, Djugu.
“Kami harus mengeluarkan uang untuk transportasi bekerja. Kami berpikir bahwa kami akan diberi bonus atas kerja kami. Saat ini, tidak ada yang benar karena kami tidak dibayar. Kami tidak layak mendapat perlakuan seperti ini,” ungkapnya.
Bakule menambahkan, sebaiknya meninggalkan pekerjaan ini karena tidak sepadan dengan risiko yang diambil. Menurutnya, pemerintah justru menginginkan penyakit ini terus menyebar.
3. WHO sebut penyebaran Ebola dibsebabkan oleh pergerakan manusia
Perwakilan WHO di RD Kongo, dr. Anne Ancia mengatakan, virus Ebola terus menyebar dengan cepat. Penyebab utamanya karena pergerakan manusia dan membuat sejumlah pusat penanganan Ebola hampir penuh.
Dilansir TRT Afrika, pemerintah RD Kongo masih belum merespons permintaan dari nakes. Namun, pemerintah lokal di Ituri mengaku sudah bertemu dengan nakes dan memastikan bahwa semua kekhawatiran gaji dan bonus tidak dibayar sudah diselesaikan.




















