Sementara itu, sosok Juergen Habermas dikenal sebagai seorang filsuf kontemporer yang paking berpengaruh di Jerman.Tulisan-tulisan Habermas diantaranya membahas tentang hak asasi manusia, moralitas, dan demokrasi, yang kerap memicu perdebatan di Jerman dan sekitarnya.
Ketika menginjak usia 90 tahun pada 2019 silam, ia menerbitkan karya sebanyak 1.700 halaman yang berjudul "This Too a History of Philosophy" di mana dirinya membahas tentang evolusi rasionalitas manusia dan nalar. Karyanya itu pun mendapat pujian oleh Boston Review dan disebut sebagai "mahakarya pengetahuan dan sintesis."
Meski keputusan Habermas untuk membatalkan penerimaan penghargaan sangat mengejutkan dan disayangkan oleh sebagian pihak, tetapi banyak pula suara-suara dukungan khususnya di sosial media yang memuji bahwa langkahnya telah menjunjung tinggi semangat "ruang publik", lapor DW.
"Senang melihat Jürgen Habermas, yang beasiswanya mendefinisikan konsep ruang publik, menolak penghargaan dari UEA di #WorldPressFreedomDay," tulis "aktivis independen" @LyndonPeters01 di Twitter.
Ada juga komentar lain yang terang-terangan menyindir keputusan UEA dengan menuliskan, "Sederhananya, UEA tidak memenuhi cita-cita yang diartikulasikan oleh Habermas terkait dengan demokrasi, hukum, ruang publik yang bebas, dan debat terbuka. Ini adalah otokrasi yang secara sistematis melanggar hak asasi manusia," cuit @BarryDstocker.
Menurut Habermas, ruang publik adalah hal yang sangat penting bagi warga negara karena itu merupakan ruang demokratis untuk dapat menyatakan opini-opini, kepentingan dan kebutuhan mereka secara diskursif. Tetapi, UEA dinilai tidak memiliki 'wadah' tersebut seta dianggap sangat buruk dalam memperlakukan kebebasan pers.