Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Fokus Operasi Ekonomi, AS Sepakat Tahan Serangan Militer ke Iran
potret bendera Amerika Serikat (pexels.com/Renan Tagliaferro)
  • AS menahan sementara serangan militer ke Iran dan mengalihkan strategi ke operasi ekonomi, menurut laporan Axios yang telah disampaikan Menlu Marco Rubio kepada sejumlah pejabat.
  • Kementerian Keuangan AS meluncurkan Economic Outcast pada 24 Agustus 2026, berupa sanksi tambahan terhadap Iran, afiliasinya, serta ancaman sanksi bagi negara yang bekerja sama.
  • Iran menyatakan sanksi terbaru AS tidak akan memengaruhi ekonominya, tetapi Menteri Ekonomi Seyed Ali Madanizadeh berjanji menyiapkan balasan ekonomi untuk berbagai skenario.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat (AS) sepakat menahan serangan militer ke Iran untuk sementara waktu. Berdasarkan laporan Axios, Selasa (25/8/2026), pengumuman ini sudah disampaikan oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) AS, Marco Rubio, kepada sejumlah pejabat AS beberapa waktu lalu. 

Sejumlah sumber rahasia AS lainnya menjelaskan, keputusan ini diambil karena Washington ingin fokus melakukan operasi ekonomi untuk menghancurkan kondisi ekonomi Iran. Sebab, Presiden AS, Donald Trump, kini sudah mengubah strategi untuk memerangi Teheran dari yang semula condong ke serangan militer menjadi serangan ekonomi. 

1. AS meluncurkan operasi Economic Outcast terhadap Iran

Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, sedang berbicara di acara konferensi pers di Gedung Putih, Washington D.C., pada 28 Mei 2026. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Operasi ekonomi yang dimaksud adalah Economic Outcast. Operasi ini resmi diluncurkan oleh Kementerian Keuangan AS pada Senin (24/8/2026). Sama dengan Economic Furry, operasi Economic Outcast juga bertujuan untuk menghancurkan ekonomi Iran dari dasar agar mereka tidak bisa melanjutkan perang melawan AS. 

Caranya adalah dengan memberikan sanksi ekonomi tambahan ke Iran dan ke entitas lainnya yang berafiliasi dengan mereka. Selain itu, AS juga mengancam akan memberikan sanksi ekonomi yang berat terhadap negara mana pun yang bekerja sama dengan Iran, terutama dalam hal ekonomi. Dengan cara ini, perekonomian Iran akan semakin terhimpit dan terisolasi sehingga kekuatan mereka akan terkikis seiring berjalannya waktu.

2. Kemlu AS menyebut Economic Outcast jadi operasi ekonomi terbesar

Wakil Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, Tommy Pigott, sedang memimpin konferensi pers harian di gedung Kementerian Luar Negeri AS di Washington, D.C., pada 26 Juni 2025. (flickr.com/US Department of State via commons.wikimedia.org/US Department of State)

Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) AS menyebut Economic Outlast menjadi operasi ekonomi terbesar yang pernah dilakukan AS. Oleh karena itu, Washington optimistis operasi ini bisa menjatuhkan ekonomi Iran sehingga AS akan lebih mudah mengalahkan mereka.   

"Ekonomi Iran sedang jatuh bebas dan militer rezim (mereka) telah hancur. Kami memutus setiap jalur bantuan keuangan yang tersisa bagi rezim tersebut. Presiden (Trump) telah menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan bahwa ia akan menggunakan cara-cara yang diperlukan untuk memastikan tujuan tersebut tercapai," jelas Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, Tommy Pigott.

3. Iran janji balas serangan ekonomi AS

potret Menteri Ekonomi Iran, Seyed Ali Madanizadeh (commons.wikimedia.org/khamenei.ir)

Di sisi lain, Pemerintah Iran mengatakan sanksi ekonomi terbaru yang diberikan AS tidak akan memengaruhi kondisi ekonomi mereka. Kendati demikian, Iran berjanji akan tetap membalas operasi ekonomi yang sudah dilakukan AS. Dalam pernyataan terbarunya, Menteri Ekonomi Iran, Seyed Ali Madanizadeh, mengatakan, dirinya berjanji akan menyerang AS secara ekonomi sebagai balasan atas operasi Economic Outcast. 

“Mereka ingin melancarkan serangan teroris ekonomi terhadap kita. Kita juga memiliki alat kita sendiri dan kita tahu aturan mainnya. Rencana telah dikembangkan untuk berbagai skenario, termasuk tindakan apa yang harus diambil jika mereka mencoba menyebabkan kerusakan di sektor keuangan atau dalam hubungan keuangan negara,” jelas Madanizadeh dilansir Times Magazine.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article