Praperadilan Ditolak, Kubu Febrie Adriansyah Harap Tak Ada Lagi Korban

- Kuasa hukum Febrie Adriansyah menilai penanganan perkara kliennya tergesa-gesa dan meminta evaluasi agar prinsip kehati-hatian serta due process of law dijalankan.
- Hakim tunggal PN Jakarta Selatan menolak gugatan praperadilan Febrie terkait penyitaan, penyidikan, dan penetapannya sebagai tersangka oleh Kejagung.
- Febrie ditahan di rutan KPK; Kejagung juga menetapkan koleganya, Nurman Herin, sebagai tersangka kedua dugaan tindak pidana pencucian uang.
Jakarta, IDN Times - Kuasa Hukum Febrie Adriansyah, Febri Diansyah, menilai proses penegakan hukum yang menjerat kliennya tergesa-gesa. DIa berharap tak ada pihak lain yang menjadi korban.
Menurut Febri, evaluasi terhadap proses penanganan perkara penting dilakukan agar persoalan yang sama tidak kembali terjadi. Dia menyoroti pentingnya prinsip kehati-hatian dalam proses penegakan hukum, terutama karena perkara pidana memiliki konsekuensi serius terhadap pihak yang diperiksa atau disebut dalam proses hukum.
“Agar tidak perlu ada korban-korban lain dari prinsip tidak dipenuhinya, misalnya prinsip kehati-hatian dalam penanganan perkara atau penanganan yang tergesa-gesa atau sejenisnya,” ujar Febri selepas sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (27/8/2026).
Febri menegaskan upaya praperadilan yang ditempuh merupakan bagian dari upaya mendorong perbaikan penegakan hukum agar tetap berjalan sesuai prinsip due process of law.
“Poinnya tidak sekadar, lagi-lagi tidak sekadar soal kepentingan hukum atau kepentingan dari Pak FA, tapi jauh lebih besar dari itu ikhtiar dan harapan untuk membaikkan proses hukum ke depan,” kata Febri.
Sebelumnya, Hakim Tunggal Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Richard Edwin Basoeki, menolak gugatan praperadilan. Gugatan itu terkait penyitaan dan penetapan Febrie sebagai tersangka.
Kejagung telah menetapkan Febrie Adriansyah sebagai tersangka berdasarkan Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) Nomor Print-03/F.2/Fd.2/07/2026 pada Jumat (24/7/2026).
Febrie ditahan di rumah tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Teranyar, Kejagung menetapkan kolega Febrie, Nurman Herin sebagai tersangka kedua TPPU pada Kamis (30/7/2026). Nurman diduga terkait dugaan turut serta TPPU.
Dalam penyidikan, Kejagung telah memeriksa tujuh perusahaan yang diduga memakai jasa hukum jaringan Don Ritto dalam mengurus perkara di Jampidsus Kejagung.
Febrie pun melawan dengan mengajukan dua gugatan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Gugatan pertama terkait penyitaan, gugatan kedua terkait sah tidaknya penyidikan serta penetapannya sebagai tersangka.


















