Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Gedung Ambruk di Filipina, 3 Orang Tewas dan 17 Hilang
Bangunan roboh di Filipina timbun sejumlah orang. (AFP/TED ALJIBE)
  • Tiga orang tewas dan 17 lainnya masih hilang setelah gedung sembilan lantai ambruk di Angeles, Filipina, menimpa area sekitar termasuk sebuah hotel.
  • Sebagian besar korban hilang adalah pekerja konstruksi yang tertimbun reruntuhan; proses evakuasi dilakukan manual karena kondisi bangunan sangat tidak stabil.
  • Otoritas akan menggunakan alat berat hanya jika tak ada lagi tanda kehidupan, sementara penyelidikan penyebab runtuhnya gedung masih berlangsung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Korban tewas akibat runtuhnya gedung yang masih dalam tahap pembangunan di dekat ibu kota Filipina bertambah menjadi tiga orang pada hari ini. Hingga kini, sebanyak 17 orang lainnya masih dinyatakan hilang dan diduga tertimbun reruntuhan bangunan tersebut.

Gedung sembilan lantai itu ambruk pada Sabtu di Angeles, wilayah utara Manila. Runtuhnya bangunan juga menghantam sebuah hotel di dekat lokasi dan menewaskan seorang tamu asal Malaysia.

Di tengah proses pencarian, dua pekerja yang sebelumnya ditemukan hidup di bawah reruntuhan akhirnya meninggal dunia. Tim penyelamat sempat berupaya mengevakuasi keduanya dalam kondisi kritis.

“Yang pertama berhasil dikeluarkan dalam keadaan hidup, tetapi sayangnya tubuhnya tidak kuat dan dia tidak selamat. Dokter tidak berhasil menyadarkannya kembali,” kata juru bicara biro pemadam kebakaran wilayah setempat, Maria Leah Sajili, dikutip dari AFP, Senin (25/5/2026).

Korban kedua meninggal beberapa jam kemudian saat masih terjepit reruntuhan bangunan. “Yang satu lagi mengalami henti jantung sekitar pukul 3 pagi. Dokter tidak bisa menanganinya karena dia masih terjepit,” ujar Sajili.

Hingga kini, operasi pencarian masih berlangsung di tengah kondisi reruntuhan yang dinilai sangat berbahaya bagi tim penyelamat.

1. Pekerja bangunan diduga masih tertimbun

ilustrasi gempa Bumi (unsplash.com/Jens Aber)

Sebagian besar korban hilang diduga merupakan pekerja konstruksi yang sedang tidur di lokasi proyek ketika bangunan mendadak runtuh. Menurut otoritas setempat, para pekerja biasa beristirahat di area proyek pembangunan tersebut.

Sajili mengatakan total 17 orang masih belum ditemukan hingga proses evakuasi hari ini. “Sebagian besar adalah pekerja konstruksi yang sedang tidur di lokasi bangunan saat bencana terjadi,” katanya.

Pihak berwenang menyebut sekitar 70 orang bekerja di lokasi proyek tersebut. Namun, sebagian besar pekerja sudah pulang untuk akhir pekan ketika insiden terjadi. Salah satu pekerja, Alfredo Albis, mengaku sedang tidur di barak pekerja yang berjarak sekitar lima meter dari gedung saat bangunan itu tiba-tiba roboh.

“Saya punya dua sepupu yang masih terjebak di sana. Mereka bekerja di sini untuk mencari nafkah bagi keluarga mereka dan sekarang hilang,” ujar pria berusia 55 tahun itu kepada AFP.

Ia mengaku khawatir keluarganya sudah tidak selamat. “Ada kemungkinan kerabat saya sudah meninggal,” katanya.

2. Proses evakuasi dilakukan manual

ilustrasi gempa bumi (pexels.com/@arthousestudio)

Tim penyelamat menghadapi tantangan besar dalam proses pencarian korban di bawah tumpukan beton dan baja. Kondisi bangunan yang tidak stabil membuat proses evakuasi harus dilakukan secara perlahan dan hati-hati. “Penyelamatan dalam runtuhan bangunan sangat menantang karena setiap pergeseran mendadak yang dipicu gerakan tim penyelamat dapat menyebabkan bagian bangunan bergerak dan menghancurkan orang-orang di bawahnya,” kata Sajili.

Ia juga menjelaskan bahwa pergerakan mendadak dapat membahayakan tim penyelamat sendiri. “Pergerakan itu juga bisa mengubur para petugas kami,” ujarnya.

Karena risiko tersebut, sebagian besar proses pencarian dilakukan secara manual tanpa alat berat. Tim penyelamat berusaha memastikan tidak ada korban selamat yang terluka akibat pergeseran reruntuhan.

Pihak berwenang kini mulai menggunakan pemindai termal untuk mendeteksi kemungkinan adanya tanda-tanda kehidupan di bawah puing bangunan. “Mereka akan menggunakan pemindai termal untuk memeriksa apakah masih ada kemungkinan tanda kehidupan,” kata Sajili.

3. Alat berat akan dikerahkan jika tak ada korban selamat

ilustrasi ekskavator (pexels.com/Matej Novosad)

Otoritas setempat menyatakan alat berat baru akan digunakan apabila dipastikan tidak ada lagi korban selamat di bawah reruntuhan. Langkah itu dilakukan untuk menghindari risiko tambahan terhadap korban yang mungkin masih hidup. Jika pencarian tidak menemukan tanda kehidupan, tim penyelamat akan mendatangkan ekskavator dan alat berat lainnya untuk membersihkan puing-puing bangunan.

“Jika tidak ada lagi korban selamat ditemukan, alat penggali mekanis dan peralatan berat lainnya akan didatangkan untuk membersihkan reruntuhan dan mengevakuasi jenazah,” ujar Sajili.

Namun hingga kini, pihak berwenang belum memberikan kepastian kapan proses tersebut akan dimulai. Fokus utama tim penyelamat saat ini masih tertuju pada pencarian kemungkinan korban yang masih hidup. Sementara itu, penyebab ambruknya gedung sembilan lantai tersebut masih belum diketahui dan penyelidikan terus dilakukan oleh otoritas Filipina.

Editorial Team

Related Article