Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Gelombang Panas di Jerman dan Italia hingga 40 Derajat Celcius!
ilustrasi cuaca panas (pexels.com/Fatih Turan)
  • Gelombang panas ekstrem melanda Eropa Barat dengan suhu hingga 41,5°C di Jerman dan menimbulkan puluhan korban jiwa serta gangguan besar pada layanan publik dan transportasi.
  • Sistem cuaca omega block memicu lonjakan suhu hingga 18°C di atas rata-rata, diperparah perubahan iklim yang meningkatkan frekuensi malam panas ekstrem dan permintaan alat pendingin.
  • Panas berkepanjangan menekan sektor pertanian, kesehatan, dan budaya sebelum diperkirakan mereda akibat badai petir, sementara WMO memperingatkan pergeseran sistem panas ke Eropa Tengah dan Balkan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN TimesGelombang panas ekstrem terus melanda Eropa Barat hingga memecahkan sejumlah rekor suhu dan menimbulkan puluhan korban jiwa. Berdasarkan laporan Al Jazeera, Stasiun Drewitz di Jerman timur mencatat suhu 41,5 derajat Celsius pada Sabtu (27/6/2026) menurut data sementara Dinas Meteorologi Nasional Jerman (DWD), melampaui rekor nasional sehari sebelumnya di dekat Saarbrücken yang mencapai 41,3 derajat Celsius. DWD juga mengeluarkan peringatan panas ekstrem sekaligus mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air.

Suhu tinggi turut memecahkan rekor di sejumlah negara lain. Mengutip The Guardian, Denmark mencatat hari terpanas sejak 1874 dengan suhu 36,6 derajat Celsius di utara Odense, Inggris memecahkan rekor suhu Juni selama tiga hari berturut-turut setelah mencapai 37,3 derajat Celsius di Santon Downham, Suffolk, sedangkan Slovakia mengalami malam terpanas sepanjang sejarah karena suhu tak turun di bawah 26,3 derajat Celsius.

1. Suhu ekstrem mengganggu aktivitas publik

ilustrasi aktivitas lari (pexels.com/cottonbro studio)

Lonjakan suhu juga berdampak pada berbagai layanan publik dan infrastruktur. Republik Ceko membukukan suhu 40,6 derajat Celsius di Doksany yang melampaui rekor sebelumnya, sementara Prancis menghadapi dampak fatal akibat kematian yang berkaitan dengan cuaca panas pada penduduk usia muda maupun lansia. Di Jerman, operator kereta Deutsche Bahn memperbolehkan penumpang membatalkan tiket perjalanan jarak jauh tanpa biaya untuk mengurangi tekanan terhadap jaringan transportasi yang terdampak panas, badai, dan kebakaran hutan, sedangkan sebagian ruas tol utama A7 di dekat Hamburg ditutup setelah permukaan aspal terbelah.

Gangguan juga memengaruhi penyelenggaraan sejumlah kegiatan. Panitia Kejuaraan Ironman Eropa di Frankfurt memperpendek lintasan bersepeda dan lari karena tingginya risiko cuaca panas. Di Italia, Kementerian Kesehatan menerbitkan peringatan merah bagi 18 kota, termasuk Milan, Roma, Turin, Venesia, Genoa, Florence, dan Bologna yang diperkirakan mencapai suhu 39 derajat Celsius sepanjang akhir pekan, sehingga jadwal awal pawai Pride Milan ditunda untuk menghindari puncak panas.

2. Sistem cuaca memicu lonjakan suhu

ilustrasi cuaca panas (pexels.com/Oleksandr P)

Para ilmuwan menyebut gelombang panas ini dipicu sistem cuaca omega block yang menahan massa udara panas di atas suatu wilayah dalam waktu lama sehingga suhu meningkat hingga 18 derajat Celsius di atas rata-rata musiman. Mereka juga menilai perubahan iklim akibat aktivitas manusia membuat peluang terjadinya suhu malam ekstrem meningkat 100 kali lipat dibandingkan dua dekade lalu. Kondisi tersebut diperparah oleh banyaknya rumah di Eropa utara yang dirancang untuk mempertahankan panas, bukan mendinginkan ruangan, sehingga permintaan kipas angin dan penjualan pendingin udara (AC) dari Asia meningkat.

Meteorolog dari situs prakiraan cuaca Donnerwetter, Karsten Brandt, menggambarkan kondisi cuaca yang diperkirakan terjadi.

“Gelombang panas akan mencapai puncaknya pada akhir pekan, lebih dari 40C (104F) di beberapa bagian Jerman,” katanya, dikutip Al Jazeera.

Direktur Eksekutif Asosiasi Kota dan Munisipalitas Jerman, André Berghegger, juga mendorong penghematan air secara sukarela. Dalam wawancara dengan Neue Osnabrücker Zeitung, ia menyampaikan pemerintah daerah sebaiknya menerapkan larangan resmi hanya apabila upaya kerja sama sukarela dari masyarakat tak membuahkan hasil.

3. Gelombang panas menekan berbagai sektor

ilustrasi melihat cuaca (pexels.com/Fernanda Latronico)

Gelombang panas berkepanjangan telah memaksa penutupan sejumlah situs budaya, mengganggu sektor pertanian, serta meningkatkan tekanan terhadap pelayanan rumah sakit yang harus menangani dampak cuaca ekstrem secara berkelanjutan.

Puncak panas paling intens di kawasan tersebut diperkirakan mulai mereda seiring datangnya badai petir lebat pada Minggu (28/6/2026). Sementara itu, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memproyeksikan sistem cuaca panas ini akan bergeser dan mulai memengaruhi kawasan Eropa Tengah serta Balkan menjelang akhir Juni.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article