ilustrasi minuman beralkohol, kumpul bareng (unsplash.com/佳颖 杜)
Buat kamu yang sedang berusaha mengatur keuangan, pergi minum bersama teman atau rekan kerja bisa terasa sebagai pengeluaran yang cukup besar. Hal yang sama terjadi pada sebagian anak muda Korea yang sedang menghadapi kondisi pasar kerja yang gak mudah. Ketika pekerjaan stabil belum tentu didapat dengan cepat, mengeluarkan banyak uang untuk acara minum bisa dianggap bukan prioritas. The Korea Times menyebut kondisi sulitnya pasar kerja dan beban biaya sebagai salah satu alasan yang membuat acara minum menjadi kurang menarik bagi sebagian generasi muda. Pengeluaran untuk kegiatan tersebut bisa dianggap gak terlalu penting ketika mereka sedang berusaha menjaga kondisi keuangan.
Temuan penelitian juga memperlihatkan bahwa kondisi ekonomi memiliki kaitan dengan perilaku minum. Dalam penelitian Journal of Korean Medical Science, pendapatan rendah ditemukan sebagai salah satu faktor risiko harmful alcohol use pada perempuan Korea. Penelitian itu juga menunjukkan bahwa faktor seperti pendidikan dan jenis pekerjaan berkaitan dengan pola penggunaan alkohol.
Karena itu, menjauhi alkohol pada generasi muda Korea gak bisa hanya dianggap sebagai tren kesehatan. Ada pertimbangan yang lebih luas, mulai dari bagaimana mereka ingin menjalani kehidupan sosial, menjaga tubuh, menghadapi pekerjaan, sampai mengatur uang. Ketika semua faktor tersebut bertemu, wajar kalau aktivitas minum yang dulu dianggap wajib mulai kehilangan tempat dalam kehidupan mereka.
Pada akhirnya, perubahan kebiasaan minum generasi muda Korea menunjukkan adanya pergeseran nilai antargenerasi. Anak muda sekarang gak selalu menganggap alkohol sebagai bagian wajib dari pertemanan atau kehidupan kantor. Data terbaru bahkan menunjukkan kelompok usia 19-29 tahun semakin banyak yang jarang atau gak minum sama sekali.
Perubahan ini juga bukan berarti Korea Selatan tiba-tiba menjadi negara yang bebas dari budaya minum, lho. Kelompok usia yang lebih tua masih menunjukkan tingkat konsumsi yang relatif tinggi, sementara penelitian sebelumnya juga memperlihatkan adanya perbedaan pola berdasarkan usia dan gender. Namun, semakin kuatnya perhatian pada kesehatan, keuangan, kenyamanan pribadi, dan gaya hidup membuat generasi muda punya alasan yang lebih banyak untuk berkata, “gak dulu” ketika ditawari alkohol.