Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pertama dalam 10 Tahun, Pekerja Hyundai di Korsel Mogok Massal

Pertama dalam 10 Tahun, Pekerja Hyundai di Korsel Mogok Massal
Ilustrasi logo hyundai (unsplash.com/Stephen Kidd)
  • Sekitar 40.000 pekerja Hyundai di Korea Selatan menggelar mogok penuh pertama dalam 10 tahun setelah negosiasi upah dan jaminan kerja dengan manajemen gagal.
  • Serikat menuntut kenaikan usia pensiun, bonus tahunan 800 persen gaji pokok, serta hak negosiasi pemasok; pekerja juga menyoroti ancaman otomatisasi terhadap pekerjaan.
  • Mogok 16 jam menghentikan tiga pabrik, berpotensi mengurangi 55.200 kendaraan dan memicu kerugian lebih dari 2,3 triliun won; Hyundai mengimbau dialog.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Serikat pekerja Hyundai Motor di Korea Selatan menggelar aksi mogok kerja massal pada Jumat (21/8/2026). Langkah ini diambil setelah perundingan kenaikan upah dan jaminan kerja dengan pihak manajemen tidak mencapai kesepakatan.

Aksi ini menjadi pemogokan kerja secara penuh yang pertama kali terjadi dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Puluhan ribu pekerja berkumpul menyuarakan tuntutan mereka sekaligus merespons ancaman otomatisasi di lingkungan pabrik.

  1. 1. Serikat pekerja menuntut kenaikan gaji dan usia pensiun

    logo Hyundai (dok. youtube.com/HyundaiWorldwide)
    logo Hyundai (dok. youtube.com/HyundaiWorldwide)

    Serikat pekerja menuntut kenaikan batas usia pensiun dari 60 tahun untuk menyesuaikan kebijakan kependudukan nasional. Selain itu, buruh meminta peningkatan bonus tahunan dari 750 persen menjadi 800 persen dari gaji pokok demi mengimbangi lonjakan inflasi.

    Massa buruh berunjuk rasa di luar kantor pusat Hyundai di Seoul. Mereka mendesak agar pemasok suku cadang diizinkan bernegosiasi upah secara langsung dengan produsen utama. Aksi yang diikuti sekitar 40.000 pekerja dari berbagai divisi ini sempat melumpuhkan aktivitas kantor pusat.

    "Para pekerja kunci yang membangun keberhasilan perusahaan selama puluhan tahun kini justru dialihkan ke posisi kontrak," kata Pemimpin Serikat Pekerja Hyundai, Lee Jong-cheol, dilansir Korea JoongAng Daily.

  2. 2. Otomatisasi pabrik mengancam keberlangsungan lapangan kerja

    ilustrasi pabrik kendaraan listrik
    ilustrasi pabrik kendaraan listrik (pexels.com/Hyundai Motor Group)

    Penerapan teknologi kecerdasan buatan dan robotika di lini manufaktur memicu kekhawatiran serius di kalangan pekerja. Otomatisasi dinilai tidak hanya mengancam posisi perakitan di lini produksi, tetapi juga divisi riset dan rekayasa.

    "Bahkan jika kecerdasan buatan diterapkan, kami siap menghadapinya demi menjamin kepastian kerja generasi mendatang," kata Wakil Presiden Serikat Pekerja Logam Korea Selatan, Kim Byung-chul.

    Mogok kerja selama 16 jam ini memicu penghentian operasional total di tiga pabrik utama, yaitu Ulsan, Asan, dan Jeonju. Aksi tersebut menurunkan estimasi produksi hingga 55.200 unit kendaraan dengan potensi kerugian melebihi 2,3 triliun won (Rp29,25 triliun).

  3. 3. Manajemen imbau dialog di tengah tekanan bisnis

    Berkunjung ke pabrik Hyundai di Cikarang (IDN Times/Fadhliansyah)
    Berkunjung ke pabrik Hyundai di Cikarang (IDN Times/Fadhliansyah)

    Tekanan dari serikat pekerja muncul saat Hyundai menghadapi penurunan penjualan domestik dan ketatnya persaingan dengan produsen kendaraan China di Eropa. Kondisi ini membuat Hyundai memperkirakan potensi kegagalan mencapai target penjualan global tahun ini.

    "Aksi mogok kerja dapat berdampak pada pelanggan dan mitra kami. Kedua pihak harus bekerja sama menavigasi transisi menuju mobilitas masa depan," kata perwakilan Hyundai Motor.

    Serikat pekerja menyatakan tetap membuka kesempatan untuk berunding apabila manajemen mengajukan proposal yang lebih baik. Namun, perwakilan buruh menegaskan siap menggelar mogok kerja susulan jika tuntutan utama mereka tidak dipenuhi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More