Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

AS-Korsel Sepakat Perkuat Kerja Sama Atasi Korut

AS-Korsel Sepakat Perkuat Kerja Sama Atasi Korut
Bendera Korea Selatan (Korsel) (pexels.com/byunghyun lee)
  • Korsel dan AS sepakat menjaga komunikasi, kerja sama isu nuklir Korut, serta postur pertahanan gabungan kuat setelah percakapan Cho Hyun dan Marco Rubio.
  • Seoul mendorong pesan terbaru Donald Trump kepada Pyongyang membuka kembali dialog AS-Korut, sambil membahas tarif, investasi, dan keamanan bilateral dengan Washington.
  • Korsel menyatakan siap membantu pemulihan pelayaran Selat Hormuz, di tengah kekhawatiran pendekatan Trump terhadap Korut dan isu investasi Korea Selatan menekan aliansi kedua negara.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS) sepakat mempertahankan komunikasi serta kerja sama erat dalam menghadapi isu nuklir Korea Utara (Korut) dan menjaga perdamaian di Semenanjung Korea. Kesepakatan itu muncul usai Menteri Luar Negeri Seoul, Cho Hyun, dan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, berbicara melalui telepon pada Senin (24/8/2026).

Pembicaraan kedua diplomat itu berlangsung di tengah kekhawatiran bahwa pemerintahan Presiden AS Donald Trump dapat mengurangi fokus terhadap tujuan denuklirisasi Pyongyang yang selama ini sulit diwujudkan. Trump sendiri tengah berupaya menghidupkan kembali diplomasi dengan pemimpin Korut, Kim Jong Un, dan berharap dapat bertemu dengannya.

Cho dan Rubio menilai komunikasi erat antara Seoul dan Washington semakin penting di tengah perubahan situasi internasional. Keduanya juga sepakat untuk mempertahankan postur pertahanan gabungan yang kuat, dikutip dari Yonhap.

  1. 1. Korsel dorong dialog AS-Korut demi perdamaian Semenanjung Korea

    ilustrasi bendera Korea Selatan (unsplash.com/Daniel Bernard)
    ilustrasi bendera Korea Selatan (unsplash.com/Daniel Bernard)

    Cho menyatakan bahwa pemerintah Korsel akan berupaya membantu memastikan pesan terbaru Trump kepada Korut dapat membuka kembali dialog antara Washington dan Pyongyang. Seoul berharap pendekatan tersebut dapat berujung pada dimulainya kembali proses diplomasi sekaligus membantu menciptakan perdamaian di Semenanjung Korea.

    Dilansir The Straits Times, Trump sebelumnya mengumumkan pengurangan skala latihan militer gabungan AS-Korsel dan melontarkan pujian terhadap Pyongyang yang memiliki senjata nuklir. Langkah tersebut dipandang sebagai bentuk pendekatan yang lebih lunak terhadap Korut.

    Dalam dialog pada Senin, Seoul dan Washington juga sepakat memperkuat hubungan bilateral melalui penyelesaian sejumlah persoalan yang masih tertunda. Isu tersebut mencakup tarif, kesepakatan investasi, dan kerja sama keamanan. Cho dan Rubio sepakat untuk bertemu dalam waktu dekat guna membahas isu tersebut secara lebih mendalam.

  2. 2. Korsel siap berkontribusi pulihkan pelayaran di Selat Hormuz

    Kapal AS di Selat Hormuz
    Kapal AS di Selat Hormuz. (Specialist Noah Martin, Public domain, via Wikimedia Commons)

    Cho juga menegaskan komitmen Korsel untuk memberikan kontribusi nyata dalam membantu memulihkan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Seoul mengakui peran aktif Trump dan pemerintah AS dalam menangani situasi di Timur Tengah, mengutip Yonhap.

    Pernyataan Cho muncul setelah Trump sebelumnya mengkritik Korsel karena dianggap belum memenuhi permintaannya untuk membantu mengamankan perairan strategis tersebut. Trump sebelumnya juga mengatakan bahwa Seoul belum memberikan bantuan dalam upayanya menghadapi isu denuklirisasi Iran.

    Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan penting bagi pengiriman minyak, gas alam, pupuk, dan berbagai komoditas lainnya. Dalam dialognya, Rubio menjelaskan upaya yang dilakukan Washington untuk memulihkan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah.

  3. 3. Pendekatan Trump ke Korut beri tekanan pada aliansi AS-Korsel

    AS Korut Korsel
    Presiden AS, Donald Trump (kiri), dan Pemimpin Korut, Kim Jong Un (kanan), bertemu di zona demiliterisasi Korut-Korsel. (Callista Gingrich, Public domain, via Wikimedia Commons)

    Pendekatan Trump terhadap Kim turut menimbulkan kekhawatiran mengenai masa depan aliansi AS-Korsel. Sikap Trump yang dinilai tidak mudah diprediksi, ditambah kritiknya terhadap Seoul, dikhawatirkan dapat menciptakan tekanan terhadap aliansi yang selama ini berperan dalam menjaga keamanan di Asia.

    Salah satu sumber potensi ketegangan adalah komitmen investasi Korsel senilai 350 miliar dolar AS (setara Rp6.196 triliun) di AS berdasarkan kesepakatan perdagangan yang ditandatangani pada 2025. Seoul hingga kini belum mengumumkan secara rinci rencana penggunaan dana tersebut, meski Washington telah mengirimkan daftar sejumlah proyek yang dapat dipertimbangkan Seoul.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More