Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi bendera Haiti (pixabay.com/jorono)
  • Bos geng 400 Mawozo, Wilson Joseph, meminta PBB memediasi dialog setelah El Salvador mengerahkan 2.000 tentara ke Haiti untuk menghadapi geng kriminal.
  • Joseph memperingatkan operasi militer berisiko menjebak warga sipil dalam kekerasan. Ia mengaku kelompoknya telah menyerah sejak 20 Agustus dan ingin solusi damai.
  • PBB mencatat kekerasan geng di Haiti menyebabkan 5.700 orang tewas atau terluka, 1.000 perempuan mengalami rudapaksa, serta 230 penculikan hingga 11 September 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Bos geng kriminal besar di Haiti, 400 Mawozo, Wilson Joseph alias Lanmo San Jou mengirimkan surat kepada Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres pada Minggu (1/11/2026). Ia meminta mediasi PBB usai kedatangan ribuan tentara El Salvador dalam misi penyelamatan empat personel yang hilang. 

Pekan lalu, Presiden El Salvador, Nayib Bukele memperingatkan geng kriminal dan mengumumkan penerjunan 2 ribu tentara ke Haiti. Menurutnya, tentara El Salvador mampu mengalahkan geng kriminal Haiti dan mengakhiri krisis keamanan di negara Karibia tersebut. 

1. Peringatkan warga sipil akan terdampak operasi militer El Salvador

Tentara El Salvador. (United States Army, Public domain, via Wikimedia Commons)

Dalam surat tersebut, bos geng 400 Mawozo itu menyampaikan bahwa operasi militer El Salvador dapat berdampak besar kepada warga sipil. Mereka akan berada dalam situasi berbahaya dan terjebak dalam kekerasan. 

Dilansir Democrata, Joseph menekankan bahwa negaranya sudah terdampak krisis keamanan dan kemiskinan sehingga membutuhkan dialog, rekonsiliasi dan keadilan. Ia mengaku tidak ingin melihat korban tewas lagi di Haiti. 

“Saya, dengan hormat, meminta pengiriman delegasi PBB ke Haiti untuk memfasilitasi proses dialog dan mediasi antara beberapa pihak yang terlibat dalam konflik ini,” katanya.

2. Joseph mengaku sudah mengibarkan bendera putih

suasana di Cap-Haitien, Haiti (unsplash.com/samu3ld)

Pada halaman kedua, Joseph mengaku bahwa pihaknya sudah mengibarkan bendera putih atau menyerah sejak 20 Agustus. Ia bersedia mencari solusi damai dalam mengatasi krisis keamanan di Haiti. 

Dilansir ABC News, geng kriminal 400 Mawozo itu beroperasi di Croix-des-Bouquets, dekat Port-au-Prince. Geng itu sudah terlibat dalam berbagai kasus penculikan, termasuk penculikan 17 misionaris, di mana 16 orang berasal dari Amerika Serikat (AS) dan 1 orang dari Kanada, pada Oktober 2021. 

Sementara itu, Joseph sudah masuk dalam buronan AS. Bahkan, Washington sudah menetapkan hadiah sebesar 1 juta dolar AS (Rp18,1 miliar) bagi orang yang memberikan informasi untuk menangkapnya.

3. Sebanyak 5.700 jadi korban kekerasan di Haiti

suasana di Haiti (unsplash.com/theinnervizion)

Pada awal Oktober, Kepala Komisaris Hak Asasi Manusia (HAM) PBB, Volker Turk mengatakan bahwa kekerasan imbas aktivitas geng kriminal di Haiti sudah menyebabkan 5.700 orang tewas atau terluka. Selain itu, sebanyak 1.000 perempuan mengalami rudapaksa. 

Dilansir Africa News, hingga 11 September 2026 ini sudah ada 230 kasus penculikan di Haiti, tapi jumlah itu kemungkinan jauh lebih tinggi. Turk memperingatkan bahwa jumlah Pasukan Pemberantas Geng (GSF) PBB masih kurang dan terbatas untuk dapat melawan geng kriminal di Haiti. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article