“Perang di masa depan yang potensial bisa berlangsung lebih lama daripada konflik sebelumnya. Presiden Amerika tidak akan berada dalam posisi untuk menentukan waktu atau kondisi penyelesaiannya,” kata Juru Bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, dalam pernyataannya pada Minggu (1/11/2026), seperti dilansir Times of Israel.
Iran Sebut Perang Lanjutan dengan AS-Israel Bisa Lebih Lama

- Iran menyatakan potensi perang lanjutan melawan AS dan Israel dapat berlangsung lebih lama, dengan akhir konflik tidak bisa ditentukan sepihak oleh Presiden Donald Trump.
- Trump dan Benjamin Netanyahu membahas kemungkinan serangan baru ke Iran setelah pemilu AS; Trump belum mengambil keputusan, tetapi menyebut fasilitas nuklir Iran sebagai target jika perang berlanjut.
- Sejumlah negara Timur Tengah bersiap menghadapi potensi konflik baru yang dikhawatirkan meluas, setelah perang Iran-AS-Israel sebelumnya berlangsung dari Februari hingga awal September.
Jakarta, IDN Times - Iran menyebut perang lanjutan dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel bisa berjalan lebih lama dari sebelumnya. Teheran mengatakan, Presiden AS, Donald Trump, juga tidak akan bisa menentukan akhir dari perang tersebut. Sebab, berakhirnya perang tidak bisa hanya ditentukan satu pihak saja, tetapi harus dari seluruh pihak yang berperang.
1. Donald Trump menelepon Benjamin Netanyahu untuk membahas serangan ke Iran

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, didampingi Wakil Presiden, Mike Pence, berpartisipasi dalam pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, di Ruang Oval, Gedung Putih, Washington D.C., pada 27 Januari 2020. (flickr.com/The Wihte House via commons.wikimedia.org/The White House) Pernyataan tadi disampaikan Akraminia untuk merespons kabar terbaru soal rencana AS dan Israel menyerang Iran. Pada Sabtu (31/10/2026) pekan lalu, Trump dikabarkan telah menelepon Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Dalam kesempatan tersebut, keduanya membahas rencana serangan baru ke Iran.
Saat ditelepon Trump, Netanyahu menyatakan kesediaannya untuk melakukan serangan baru ke Iran usai pemilihan umum (pemilu) AS yang digelar pada Selasa (3/11/2026). Namun, Trump saat ini belum memutuskan apa pun soal serangan tersebut. Kendati demikian, Trump mengatakan dirinya berniat menyerang fasilitas nuklir Iran jika perang kembali berlanjut.
2. Perang Iran dengan AS dan Israel bisa pecah pekan ini

Angkatan bersenjata Iran melakukan serangan menggunakan rudal. (http://fna.ir/ezj0uh via commons.wikimedia.org/Medhi Marizad) Sejumlah negara di Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Uni Arab Emirat, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Yordania kini juga sedang bersiap menghadapi perang lanjutan antara Iran dengan AS dan Israel. Mereka menilai, perang di antara ketiga negara tersebut bisa kembali pecah pada Rabu (4/11/2026) pekan ini atau setelah pemilu sela AS. Jika perang tersebut benar-benar terjadi, upaya perdamaian akan semakin terhambat sehingga perang bisa bertahan lebih lama.
Negara-negara Timur Tengah tadi juga khawatir perang akan meluas ke luar kawasan Timur Tengah. Sebab, belum lama ini, Akraminia sempat mengancam akan memperluas perang ke luar Timur Tengah jika AS dan Israel benar-benar kembali menyerang Iran.
“Jika Presiden AS sekali lagi memulai petualangan regional di bawah tekanan dan dalam upaya untuk menenangkan kaum Zionis, kobaran perang pasti akan berlangsung wilayah geografis yang jauh lebih luas,” kata Akraminia.
3. Perang Iran dengan AS dan Israel sebelumnya sudah berlangsung lama

ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art) Sebelumnya, perang antara Iran dengan AS dan Israel sudah memakan waktu selama berbulan-bulan. Perang antara Iran dengan AS dan Israel sendiri mulai pecah pada 28 Februari dan baru mereda pada awal September lalu. Kendati demikian, Iran dengan AS hingga saat ini masih saling bersitegang soal sejumlah hal, terutama soal program senjata nuklir dan klaim kekuasaan di Selat Hormuz.
Dalam praktiknya, perang antara dengan AS dan Israel juga melibatkan negara-negara lain di Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Uni Arab Emirat, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Yordania. Iran sengaja menyerang negara-negara tersebut untuk membasmi pangkalan militer AS. Sebab, Washington juga punya sejumlah pangkalan militer di negara-negara tadi.






















