Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Guru di Libya Mogok Kerja, Tahun Ajaran Baru Ditunda

2 min read
Guru di Libya Mogok Kerja, Tahun Ajaran Baru Ditunda
Ilustrasi guru (unsplash.com/Zach Wear)
  • Mogok guru yang bermula dari aksi duduk di Tripoli pada 13 September berkembang menjadi pemogokan nasional, menghentikan sekolah negeri dan menunda tahun ajaran baru.
  • Guru menuntut perbaikan gaji, pelunasan hak pekerja, asuransi kesehatan, serta fasilitas belajar layak, setelah pendapatan rendah dan inflasi memaksa sebagian mencari pekerjaan sampingan.
  • Aksi meluas hingga Benghazi, menyatukan guru di tengah konflik politik; mahalnya pangan memperburuk tekanan ekonomi, sementara orang tua cemas pendidikan anak-anak telantar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Aksi mogok kerja guru di Libya menghentikan seluruh kegiatan belajar dan menunda awal tahun ajaran baru. Penutupan sekolah negeri ini terjadi akibat sengketa antara tenaga pengajar dan pemerintah terkait masalah upah serta fasilitas pendidikan.

Krisis di sektor pendidikan ini memperpanjang daftar gejolak sosial pascarevolusi di negara tersebut. Terhentinya operasional sekolah makin menambah beban masyarakat yang sebelumnya dihadapkan pada pemadaman listrik massal dan gangguan pasokan energi.

  1. 1. Aksi duduk di Tripoli meluas jadi pemogokan nasional

    Unjuk rasa bermula saat para guru menggelar aksi duduk di depan sekolah dan kantor kementerian di Tripoli pada 13 September lalu. Protes yang bertepatan dengan hari pertama sekolah ini bertujuan menyuarakan tuntutan perbaikan nasib tenaga pendidik.

    Dua pekan berselang, serikat guru resmi menyatakan pemogokan terbuka secara nasional yang melumpuhkan seluruh sekolah negeri. Langkah ini terpaksa diambil lantaran perundingan dengan pihak berwenang tidak kunjung membuahkan kesepakatan.

    "Ini bukanlah sekadar tuntutan, melainkan hak yang harus kami perjuangkan," kata Ketua Serikat Guru Ain Zara, Mustafa Al-Bahilil, dilansir Africa News.

  2. 2. Upah minim dan fasilitas belajar yang tidak layak pakai

    Para guru menuntut perbaikan sistem gaji, pelunasan tunggakan hak pekerja, dan penyediaan asuransi kesehatan yang memadai. Desakan ini muncul karena gaji pokok mereka saat ini sangat kecil, sehingga guru kesulitan menghidupi keluarga di tengah lonjakan inflasi.

    Selain urusan kesejahteraan, sarana belajar di sekolah negeri juga sangat memprihatinkan. Ketiadaan ruang komputer hingga meja dan kursi yang rusak kerap memaksa guru serta orang tua patungan untuk membeli perlengkapan kelas.

    Kondisi ekonomi ini bahkan memaksa para guru mencari pekerjaan sampingan demi bertahan hidup.

    "Kami hanya diberi janji, tetapi semuanya sekadar janji palsu," ujar seorang guru asal Tripoli, Hamza al-Firjani.

  3. 3. Aksi solidaritas lintas wilayah

    Gerakan mogok kerja ini meluas hingga ke Kota Benghazi di wilayah timur, menyatukan para guru meski negara terbelah oleh konflik politik sejak 2014. Serikat pekerja setempat menyebut aksi solidaritas ini dipicu oleh mahalnya harga pangan yang makin memukul daya beli masyarakat.

    Ketidakpastian jadwal pembukaan sekolah kini memicu keresahan mendalam bagi para orang tua karena proses belajar anak-anak mereka telantar.

    "Ini sungguh bukan waktu yang tepat untuk mogok kerja," keluh seorang wali murid di Benghazi, Salah Awad.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More