Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Komandan Militer Libya Tewas dalam Serangan Bom di Benghazi

Komandan Militer Libya Tewas dalam Serangan Bom di Benghazi
ilustrasi ledakan bom (pexels.com/Edu Raw)
  • Brigadir Fowzi Mansouri, Komandan Intelijen LNA Libya Timur, tewas setelah bom yang dipasang di mobilnya meledak saat ia mendekati kendaraan di Benghazi.
  • Pelaku belum diketahui dan militer Libya akan menyelidiki serangan tersebut, yang terjadi di tengah konflik berkepanjangan antara LNA dan Pemerintah Libya meski gencatan senjata disepakati pada 2020.
  • Pada hari yang sama, serangan drone memicu kebakaran di tangki bahan bakar kilang Zawiya milik NOC; tidak ada korban jiwa, api dipadamkan, dan operasi terancam ditangguhkan bila serangan berlanjut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Komandan Intelijen Angkatan Bersenjata Nasional Libya (LNA) yang bertugas di Libya Timur, Brigadir Fowzi Mansouri, tewas dalam serangan bom pada Senin (10/9/2026) malam waktu setempat. Menurut dua tentara Libya yang tidak disebut namanya, serangan itu terjadi di Kota Benghazi.

Salah satu dari tentara itu mengatakan, seorang tidak dikenal telah memasang bom di mobil Mansouri yang sedang terparkir di luar rumahnya di Hawari, salah satu wilayah yang ada di Benghazi. Bom tersebut tiba-tiba meledak saat Mansouri menuju mobilnya. Ia pun langsung tewas di tempat akibat ledakan tersebut. 

  1. 1. Pelaku serangan belum diketahui hingga saat ini

    Tanda tanya.
    ilustrasi belum diketahui (pexels.com/Ann H)

    Hingga saat ini, pelaku serangan bom terhadap Mansouri belum diketahui. Dilansir The New Arab, militer Libya akan melakukan penyelidikan mendalam agar dalang serangan bisa segera diringkus. Langkah ini bertujuan agar kejadian serupa tidak terulang kembali. 

    Serangan bom terhadap Mansouri ini memperburuk perang saudara yang terjadi antara LNA dengan Pemerintah Libya. Perang ini sudah menewaskan banyak warga sipil dan pasukan militer di Libya. Padahal, LNA dan Pemerintah Libya sebetulnya sudah menyepakati gencatan senjata pada 2020 lalu. 

  2. 2. Perang saudara di Libya sudah terjadi sejak 2011

    Perang saudara yang terjadi di Libya pada Oktober 2011.
    potret perang saudara di Libya pada Oktober 2011 (commons.wikimedia.org/Diar Aladnani)

    Perang saudara di Libya sendiri sudah terjadi sejak runtuhnya rezim Muammar Gaddafi pada 2011. Sejak saat itu, rezim pemerintahan di Libya terbagi menjadi dua antara LAN yang dipimpin oleh panglima Khalifa Haftar dan Pemerintah Libya. Aktivitas pemerintahan yang dipegang LAN berpusat di Benghazi, sedangkan yang dipegang Pemerintah Libya berpusat di Tripoli. 

    Saat ini, LAN menguasai wilayah Libya bagian timur dan selatan. Sementara itu, Pemerintah Libya hanya menguasai wilayah bagian barat. Kendati demikian, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tetap mengakui Pemerintah Libya sebagai pemerintahan yang sah. Sebab, PBB menganggap LAN sebagai kelompok separatis yang mencoba memisahkan diri dari Pemerintah Libya. 

  3. 3. Kilang minyak Libya juga diserang drone

    Drone militer untuk berperang.
    potret drone militer (pexels.com/Barıs Karagoz)

    Serangan bom yang menimpa Mansouri tadi terjadi pada hari yang sama dengan serangan drone di kilang minyak Zawiya milik perusahaan minyak nasional Libya (NOC). Dalam keterangannya pada Selasa (11/8/2026), NOC menjelaskan, serangan tersebut menyebabkan kebakaran hebat di sejumlah tangki penyimpanan bahan bakar yang ada di sana. Beruntungnya, tidak ada korban jiwa dan kerusakan berarti akibat serangan tersebut. Api saat ini juga sudah berhasil dipadamkan. 

    “Dewan direksi perusahaan juga menegaskan bahwa jika serangan ini berlanjut, perusahaan harus menyatakan keadaan darurat dan menangguhkan operasi di kilang tersebut,” demikian bunyi pernyataan resmi NOC, seperti dilansir Al Jazeera

    Semua serangan ini menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi perang saudara yang terjadi di Libya. Jika perang kembali berkobar, situasi negara berpotensi kacau sehingga warga sipil Libya yang nantinya akan menanggung akibatnya. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More