Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Hadapi Dunia Tak Pasti, Ini Strategi Diplomasi RI ala Menlu Tata
Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha ‘Tata’ Nasir. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
  • Diplomasi Indonesia diarahkan untuk memperkuat ketahanan nasional, menjaga stabilitas kawasan, dan meningkatkan peran di tingkat global.

  • Ketahanan nasional mencakup dukungan terhadap prioritas pembangunan serta perlindungan WNI di luar negeri.

  • Indonesia ingin memperkuat ASEAN, sistem multilateral, dan suara negara berkembang melalui berbagai forum internasional.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
pada bulan sebelumnya

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pesan dalam Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York yang dirujuk Tata saat menjelaskan pentingnya ketahanan dalam negeri.

pada 2027

Indonesia akan terus mendorong penguatan ASEAN menjelang peringatan 60 tahun organisasi tersebut. Tata ingin ASEAN menghasilkan kerja sama yang lebih konkret.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Menteri Luar Negeri Arrmanatha ‘Tata’ Nasir menyampaikan arah diplomasi Indonesia yang berfokus pada ketahanan nasional, stabilitas kawasan, dan peran global.
  • Who?
    Menteri Luar Negeri Arrmanatha ‘Tata’ Nasir dan Kementerian Luar Negeri Indonesia.
  • Where?
    Briefing perdana sebagai Menteri Luar Negeri; lokasi briefing masih menunggu informasi lebih lanjut.
  • When?
    Dalam briefing perdananya sebagai Menteri Luar Negeri. Waktu pelaksanaan spesifik belum ada keterangan resmi.
  • Why?
    Indonesia perlu memperkuat ketahanan dalam negeri, menjaga stabilitas kawasan, dan mempertahankan kepercayaan mitra internasional di tengah ketidakpastian geopolitik.
  • How?
    Melalui penguatan kerja sama bilateral dan kawasan, keterlibatan dalam forum internasional, serta penerapan prinsip konstitusi, bebas aktif, dan kepentingan nasional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menlu Tata bilang Indonesia harus kuat di dalam negeri supaya bisa membantu dan didengar di dunia. Indonesia mau menjaga makanan, energi, kesehatan, laut, dan warga Indonesia di luar negeri. Indonesia juga ingin kawasan Asia Tenggara damai, memperkuat ASEAN, serta mendukung Palestina. Semua dilakukan dengan prinsip bebas aktif.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Arah diplomasi yang disampaikan Tata menunjukkan upaya menghubungkan kebijakan luar negeri dengan kebutuhan rakyat, mulai dari pangan, energi, kesehatan, hingga perlindungan WNI. Pendekatan ini juga membuka ruang bagi Indonesia untuk memperkuat kerja sama regional, menyuarakan kepentingan negara berkembang, dan mempertahankan dukungan terhadap Palestina melalui forum internasional.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri (Menlu), Arrmanatha ‘Tata’ Nasir, menegaskan diplomasi Indonesia ke depan akan berfokus pada penguatan ketahanan nasional, stabilitas kawasan, dan peran Indonesia di tingkat global.

Dalam briefing perdananya sebagai Menlu, Tata mengatakan, ketiga aspek tersebut saling berkaitan. Menurut dia, Indonesia tidak dapat berkontribusi secara optimal di dunia apabila ketahanan di dalam negeri belum kuat.

Dia menekankan, diplomasi harus tetap berpijak pada konstitusi, prinsip bebas aktif, dan kepentingan nasional. Pada saat yang sama, Indonesia perlu menjaga kepercayaan mitra internasional di tengah ketidakpastian geopolitik.

Tata merangkum arah diplomasi tersebut dalam satu kalimat, “Indonesia yang kuat di dalam, dipercaya di kawasan, dan didengar di dunia.”

1. Ketahanan nasional jadi fondasi diplomasi RI

Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha ‘Tata’ Nasir. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Tata mengatakan, diplomasi Indonesia harus mendukung ketahanan nasional dengan membantu mewujudkan prioritas pembangunan pemerintah. Dia menyebut sejumlah sektor yang menjadi perhatian, termasuk pangan, energi, transformasi digital, industri pertahanan, perdagangan, investasi, kesehatan, dan kedaulatan maritim.

Menurut dia, kerja sama internasional perlu diarahkan untuk memperkuat kemampuan Indonesia menghadapi berbagai tantangan. Karena itu, Kemlu akan terus mengintensifkan hubungan bilateral untuk mendukung kepentingan nasional.

Tata mengingatkan, Indonesia tidak dapat mengandalkan diplomasi semata apabila kondisi di dalam negeri tidak cukup kuat. Dia merujuk pada pesan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York pada bulan sebelumnya.

“Prinsip diplomasi juga berangkat dari satu kesadaran yang sederhana. Kita tidak bisa merata dunia kalau rumah kita sendiri rapuh,” kata Tata dalam transkrip yang disampaikan.

Dia juga menempatkan perlindungan WNI di luar negeri sebagai bagian dari ketahanan nasional. Menurut dia, diplomasi harus memberikan manfaat nyata bagi rakyat, termasuk dengan memastikan perlindungan bagi warga Indonesia yang menghadapi persoalan di luar negeri.

2. Stabilitas kawasan menentukan masa depan Indonesia

Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha ‘Tata’ Nasir. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Tata menempatkan stabilitas kawasan sebagai fondasi penting bagi pembangunan nasional. Ia mengatakan Indonesia membutuhkan kawasan yang damai dan dapat diprediksi agar negara-negara di kawasan memiliki ruang untuk tumbuh.

Dalam konteks tersebut, Indonesia akan terus mendorong penguatan ASEAN menjelang peringatan 60 tahun organisasi itu pada 2027. Tata ingin ASEAN menjadi organisasi yang lebih efektif, adaptif, dan mampu menghasilkan kerja sama konkret.

“ASEAN tidak cukup memiliki convening power. ASEAN harus mampu menghasilkan strategic outcome yang nyata,” ujar dia.

Indonesia juga akan memperkuat keterlibatannya dalam berbagai mekanisme kerja sama kawasan, termasuk forum yang melibatkan mitra dialog. Selain Asia Tenggara, Tata menyebut kontribusi Indonesia dalam kerja sama kawasan Samudra Hindia melalui IORA.

Menurut dia, upaya membangun stabilitas tidak dapat dilakukan oleh satu negara saja. Karena itu, diplomasi Indonesia akan terus berupaya memperkuat kepercayaan dan mendorong kerja sama dengan berbagai pihak.

3. Indonesia ingin lebih didengar di tingkat global

Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha ‘Tata’ Nasir. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Di tingkat global, Tata menegaskan Indonesia akan terus memperjuangkan penguatan sistem multilateral dan penghormatan terhadap hukum internasional. Dia menilai lembaga internasional perlu menjadi lebih efektif, representatif, transparan, dan demokratis.

“Kita tidak hanya mengetuk pintu dari luar. Kita ikut memperbaiki rumahnya dari dalam,” kata Tata.

Indonesia juga akan menggunakan keterlibatannya dalam berbagai forum untuk menyuarakan kepentingan negara berkembang. Tata menyebut G20, BRICS, MIKTA, OKI, APEC, dan D-8 sebagai sejumlah kelompok kerja sama yang dapat dimanfaatkan untuk membahas isu prioritas Global South.

Dalam isu Palestina, Tata memastikan Indonesia akan terus mendukung terpenuhinya hak-hak rakyat Palestina dan terwujudnya negara Palestina yang merdeka serta berdaulat.

Dia juga menegaskan pentingnya kesinambungan kebijakan luar negeri di tengah pergantian kepemimpinan. Menurut Tata, diplomasi Indonesia akan tetap berlandaskan prinsip bebas aktif dan diarahkan untuk menghasilkan manfaat nyata bagi rakyat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article