Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Harapan Petani Desa Dasan Tereng di Balik Plecing Kangkung Lombok
Ibu Rukiah dan sejumlah petani kangkung di Desa Dasan Tereng, Lombok, NTB. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
  • Kangkung menjadi sumber ekonomi utama di Desa Dasan Tereng, melibatkan puluhan pekerja perempuan dan menghasilkan keuntungan tinggi hingga mampu memenuhi kebutuhan pasar Lombok dan Bali.
  • Program kolaborasi Indonesia-Australia Ag4T membantu petani meningkatkan kualitas produk, pencatatan usaha, serta memperkuat kemitraan dengan sektor pariwisata agar hasil pertanian terserap lebih luas.
  • Kangkung Lombok bersertifikat Indikasi Geografis sejak 2011, memiliki keunikan rasa dan nilai gizi tinggi, serta terus didorong untuk menembus pasar hotel dan restoran melalui pendampingan mutu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pagi-pagi sekali, Ibu Rukiah dan teman-temannya memetik kangkung di sawah yang dingin. Mereka kerja keras supaya bisa beli makan dan sekolahkan anak. Kangkung itu dikirim ke banyak tempat sampai ke Bali. Ada juga orang Australia bantu petani biar bisa jual ke hotel dan restoran. Sekarang kangkung Lombok jadi makanan khas yang terkenal dan bikin banyak keluarga senang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Kisah para petani kangkung di Desa Dasan Tereng menunjukkan bagaimana kerja keras dan ketekunan dapat menumbuhkan harapan nyata bagi keluarga dan komunitas. Melalui dukungan program kolaborasi Indonesia-Australia serta pengakuan Indikasi Geografis, kangkung Lombok tidak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga simbol kebanggaan daerah yang menghubungkan pertanian, kuliner, dan pariwisata secara harmonis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Lombok, IDN Times – Saat sebagian orang masih terlelap, Rukiah sudah berdiri di tengah hamparan sawah kangkung di Desa Dasan Tereng, Kecamatan Narmada, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Udara pagi yang dingin sekitar 18 derajat Celsius tidak membuatnya mengurungkan langkah.

Bersama tujuh perempuan lainnya, ia mulai memetik batang demi batang kangkung yang nantinya akan dikirim ke berbagai wilayah di Lombok hingga Bali. Tangan mereka bergerak cepat di antara genangan air sawah, seolah telah menyatu dengan pekerjaan yang dijalani bertahun-tahun itu.

Rukiah bekerja sebagai buruh pemetik kangkung. Upahnya bergantung pada jumlah hasil panen yang berhasil dikumpulkan. Dalam sehari, ia bisa membawa pulang sekitar Rp80.000 hingga Rp100.000 untuk membantu kebutuhan keluarganya.

“Kalau luasnya seperti ini kita bisa metik sampai empat hari,” ujar Rukiah saat ditemui IDN Times di lokasi, Kamis (11/6/2026).

Bagi Rukiah, dinginnya air sawah, sengatan matahari, hingga risiko terkena hama bukan alasan untuk berhenti. Yang terpenting baginya adalah dapur tetap ngebul dan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.

Tak jauh berbeda dengan Rukiah, ada pula Marniwati yang telah menggantungkan hidup dari kangkung selama lebih dari dua dekade.

“Duapuluh tahun lebih. Hasilnya bisa buat sekolahkan anak, makanya saya tidak berhenti memetik kangkung,” ungkapnya.

Marniwati mengaku, mulai bekerja sebagai pemetik kangkung ketika anaknya masih berusia sekitar satu setengah tahun. Kini, anaknya telah lulus kuliah. Dari sawah kangkung itulah biaya pendidikan anak-anaknya terpenuhi.

Menurut pemilik lahan sekaligus kolektor kangkung, Andre Wahyu Jatnika, para pekerja perempuan memang menjadi bagian penting dalam rantai usaha tersebut.

“Jadi satu orang kadang-kadang dapat sampai dua sampai tiga bal. Jadi pendapatan ibu-ibu ini sekitar Rp100 ribu sampai Rp120 ribu per hari,” katanya.

1. Kangkung yang menggerakkan ekonomi desa

Perempuan yang menjadi petani kangkung di Desa Dasan Tereng, Lombok, NTB. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Di Lombok, kangkung bukan sekadar sayuran. Kangkung telah menjadi bagian dari identitas daerah melalui plecing kangkung, hidangan khas yang hampir selalu hadir berdampingan dengan ayam taliwang.

Bagi Andre, komoditas ini layak disebut sebagai “emas hijau” Pulau Lombok. Permintaan yang terus meningkat membuatnya mengembangkan usaha hingga mengelola lahan seluas sekitar 15 hektare, baik milik sendiri maupun hasil sewa.

Setiap hari, hasil panen dari lahan tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar lokal, tetapi juga dikirim ke Bali.

“Awalnya saya hanya kirim ke KLU (Kabupaten Lombok Utara), tetapi sekarang sudah kirim ke Denpasar, Bali. Pengiriman ke Bali sampai dua kali sehari,” ujar Andre.

Usaha itu kini melibatkan sekitar 34 pekerja dengan tugas berbeda, mulai dari menanam, memupuk, hingga memetik kangkung. Meski sekitar 10 persen tanaman berpotensi gagal panen akibat serangan hama, Andre mengaku budidaya kangkung masih memberikan keuntungan yang menjanjikan.

“Pokoknya untungnya lebih besar daripada kita tanam padi,” katanya.

Manfaat dari ketersediaan kangkung berkualitas juga dirasakan pelaku usaha kuliner. Pemilik Rumah Makan Taliwang 1, Mohammad Najib Roodhi, mengatakan plecing kangkung dan ayam taliwang merupakan pasangan yang hampir tidak bisa dipisahkan.

“Pokoknya tidak bisa dipisahkan antara ayam taliwang dan plecing kangkung,” ujarnya.

Menurut Najib, kebutuhan kangkung untuk usahanya mencapai sekitar 200 ikat per hari. Pasokan yang stabil menjadi penting untuk menjaga cita rasa kuliner khas Lombok yang banyak dicari wisatawan.

2. Kolaborasi Indonesia-Australia dekatkan petani dengan pasar wisata

Tim ACIAR, peneliti dan para petani kangkung Desa Dasan Tereng, Lombok, NTB. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Di balik meningkatnya peluang pasar tersebut, masih ada sejumlah tantangan yang dihadapi petani. Mulai dari akses pasar yang terbatas, standar mutu yang belum seragam, hingga belum adanya pola kerja sama yang jelas dengan sektor hotel dan restoran.

Untuk menjawab persoalan itu, hadir program Agriculture for Tourism (Ag4T), proyek penelitian kolaborasi Indonesia-Australia yang didukung Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR), Adelaide University, dan Universitas Mataram.

Proyek senilai 2,8 juta dolar Australia atau sekitar Rp29,7 miliar itu berlangsung selama lima tahun sejak 2023 di Bali, NTB, dan Sulawesi Utara.

Wakil Direktur Manajemen Proyek Sekolah Pertanian, Pangan, dan Anggur Universitas Adelaide sekaligus Direktur Primary Principles Pty Ltd, Jeremy Badgery-Parker, mengatakan tujuan utama program tersebut adalah memastikan petani lokal ikut menikmati pertumbuhan sektor pariwisata.

“Bagian dari apa yang kami coba lihat untuk proyek ini adalah bagaimana kami memungkinkan komunitas petani lokal untuk berkembang pada saat yang sama dengan pariwisata, sehingga mereka benar-benar dapat menjadi pemasok bagi para wisatawan,” kata Jeremy.

Menurut dia, industri pariwisata membutuhkan pasokan produk pertanian yang berkualitas dan berkelanjutan. Jika kebutuhan itu tidak bisa dipenuhi petani lokal, pasar akan mencari sumber pasokan dari daerah lain bahkan luar negeri.

“Industri pariwisata membutuhkan pasokan produk yang berkualitas dan berkelanjutan. Jika kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi oleh petani lokal, maka pasar akan beralih. Tujuan kami adalah memastikan masyarakat petani dapat tumbuh bersama perkembangan sektor pariwisata dan menjadi pemasok utama bagi industri perhotelan dan kuliner,” ujarnya.

Melalui program tersebut, petani mendapatkan pelatihan pencatatan usaha, peningkatan kualitas produk, hingga membangun kemitraan yang lebih kuat dengan pelaku bisnis pariwisata.

3. Kangkung Lombok jadi ikon kuliner daerah

Plecing kangkung, kuliner khas Lombok, NTB. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Dosen Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas Mataram, Prof. Sri Widyastuti, menjelaskan Kangkung Lombok telah memperoleh sertifikat Indikasi Geografis sejak 2011 karena memiliki karakteristik khas yang tidak ditemukan di daerah lain.

Selain menjadi identitas kuliner daerah, komoditas ini juga menjadi sumber pendapatan penting bagi petani kecil. Namun, menurut Sri, petani masih menghadapi sejumlah hambatan untuk menembus pasar bernilai tinggi seperti hotel dan restoran.

“Petani menghadapi berbagai masalah seperti itu. Jadi speknya belum jelas, sehingga dengan hotel juga keterbatasan akses, yaitu belum ada juga model agreement dengan hotel dan sebagainya,” katanya.

Melalui Ag4T, tim peneliti melakukan berbagai pendampingan mulai dari peningkatan mutu hingga pengujian keamanan pangan. Sri mengatakan, hasil pengujian laboratorium menunjukkan Kangkung Lombok aman dikonsumsi.

“Kita sudah kirim sampel laboratorium di Surabaya. Hasilnya, kangkung Lombok aman untuk dikonsumsi,” tegasnya.

Menurut dia, kangkung juga memiliki kandungan gizi penting seperti zat besi, vitamin A, vitamin C, serat, asam folat, antioksidan, hingga berbagai mineral yang dibutuhkan tubuh.

“Kangkung Lombok telah memiliki sertifikasi Indikasi Geografis yang menunjukkan keunikan dan kualitasnya. Melalui proyek ini, kami ingin memperkuat kapasitas petani dalam mengatasi hambatan pasar, membangun kemitraan usaha yang lebih baik, serta memastikan komoditas lokal terus memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat dan ketahanan sistem pangan kita,” ujar Sri.

Bagi warga Dasan Tereng, keberhasilan kangkung Lombok bukan hanya soal meningkatnya permintaan pasar. Di balik setiap ikat kangkung yang dipanen, terdapat cerita tentang keluarga yang bertahan, anak-anak yang bisa melanjutkan sekolah, serta harapan agar hasil pertanian lokal dapat tumbuh bersama perkembangan pariwisata di Pulau Lombok.

Editorial Team

Related Article