Lombok, IDN Times – Saat sebagian orang masih terlelap, Rukiah sudah berdiri di tengah hamparan sawah kangkung di Desa Dasan Tereng, Kecamatan Narmada, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Udara pagi yang dingin sekitar 18 derajat Celsius tidak membuatnya mengurungkan langkah.
Bersama tujuh perempuan lainnya, ia mulai memetik batang demi batang kangkung yang nantinya akan dikirim ke berbagai wilayah di Lombok hingga Bali. Tangan mereka bergerak cepat di antara genangan air sawah, seolah telah menyatu dengan pekerjaan yang dijalani bertahun-tahun itu.
Rukiah bekerja sebagai buruh pemetik kangkung. Upahnya bergantung pada jumlah hasil panen yang berhasil dikumpulkan. Dalam sehari, ia bisa membawa pulang sekitar Rp80.000 hingga Rp100.000 untuk membantu kebutuhan keluarganya.
“Kalau luasnya seperti ini kita bisa metik sampai empat hari,” ujar Rukiah saat ditemui IDN Times di lokasi, Kamis (11/6/2026).
Bagi Rukiah, dinginnya air sawah, sengatan matahari, hingga risiko terkena hama bukan alasan untuk berhenti. Yang terpenting baginya adalah dapur tetap ngebul dan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
Tak jauh berbeda dengan Rukiah, ada pula Marniwati yang telah menggantungkan hidup dari kangkung selama lebih dari dua dekade.
“Duapuluh tahun lebih. Hasilnya bisa buat sekolahkan anak, makanya saya tidak berhenti memetik kangkung,” ungkapnya.
Marniwati mengaku, mulai bekerja sebagai pemetik kangkung ketika anaknya masih berusia sekitar satu setengah tahun. Kini, anaknya telah lulus kuliah. Dari sawah kangkung itulah biaya pendidikan anak-anaknya terpenuhi.
Menurut pemilik lahan sekaligus kolektor kangkung, Andre Wahyu Jatnika, para pekerja perempuan memang menjadi bagian penting dalam rantai usaha tersebut.
“Jadi satu orang kadang-kadang dapat sampai dua sampai tiga bal. Jadi pendapatan ibu-ibu ini sekitar Rp100 ribu sampai Rp120 ribu per hari,” katanya.
