"HOCC menegaskan bahwa setiap individu atau entitas yang meminta pembayaran uang sebagai imbalan untuk melintasi Selat Bab el-Mandeb tidak mewakili Republik Yaman atau HOCC dalam kapasitas apa pun. HOCC mendesak perusahaan pelayaran untuk tidak melakukan pembayaran atau memberikan informasi apa pun kepada individu atau entitas yang tidak berwenang," bunyi pernyataan resmi HOCC pada Sabtu (1/8/2026), seperti dilansir Jerusalem Post.
Houthi Yaman Bantah Bakal Pungut Tarif di Selat Bab el-Mandeb

- Houthi melalui HOCC membantah rencana memungut tarif kapal di Selat Bab el-Mandeb dan menegaskan pelayaran tetap gratis; perusahaan diminta mengabaikan pihak tak berwenang.
- Bantahan muncul setelah laporan sumber anonim menyebut Houthi akan mengenakan tarif, di tengah blokade terhadap kapal kargo Arab Saudi sebagai dukungan kepada Iran.
- Selat Bab el-Mandeb menangani sekitar 12 persen perdagangan minyak global; pelayaran sempat anjlok setelah serangan Houthi, tetapi kini kembali normal dengan volume tertinggi sepekan.
Jakarta, IDN Times - Milisi Yaman, Houthi, membantah kabar bahwa mereka akan memungut tarif untuk kapal yang melintas di Selat Bab el-Mandeb. Dalam pernyataannya, Pusat Koordinasi Operasi Kemanusiaan Houthi (HOCC) menjelaskan, pihaknya tidak berencana memungut tarif apa pun di Selat Bab el-Mandeb. Mereka menegaskan semua kapal bisa melewati selat tersebut tanpa biaya apa pun.
1. Houthi sebelumnya disebut berencana memungut tarif di Selat Bab el-Mandeb

Bantahan ini dilontarkan Houthi usai mereka sempat dikabarkan sedang berencana memungut tarif untuk semua kapal yang berlayar di Selat Bab el-Mandeb. Kabar itu disampaikan oleh sumber anonim dari Timur Tengah kepada Reuters pada Selasa (28/7/2026). Kabar ini mencuat usai Houthi menerapkan blokade maritim di Selat Bab el-Mandeb terhadap kapal kargo dari Arab Saudi pada 20 Juli lalu. Langkah ini merupakan bentuk dukungan terhadap Iran yang terus diserang Amerika Serikat (AS).
Menurut sumber tersebut, Houthi ingin memungut tarif di Selat Bab el-Mandeb karena terinspirasi oleh sekutunya, Iran. Sebab, Iran saat ini juga sedang berencana memungut tarif untuk semua kapal yang transit atau melintas di Selat Hormuz. Namun, rencana itu mendapat penolakan dari negara-negara Teluk dan AS. Hal ini karena Selat Hormuz merupakan perairan internasional sehingga kapal dari negara mana pun berhak berlayar di sana dengan bebas tanpa biaya.
2. Houthi berulang kali mengancam pelayaran di Selat Hormuz

Sebagai informasi, Selat Bab el-Mandeb merupakan perairan yang terletak di antara Yaman dan Djibouti. Selain Selat Hormuz, Selat Bab el-Mandeb juga menjadi jalur strategis ekspor dan impor minyak dari Timur Tengah ke pasar global. Sebab, sekitar 12 persen aktivitas ekspor dan impor minyak global terjadi di selat tersebut.
Sebelum ini, Houthi sudah sering mengganggu pelayaran kapal-kapal yang melintas di Selat Bab el-Mandeb. Aksi ini lantas meningkat saat Iran mulai berperang dengan AS dan Israel pada 28 Februari lalu. Houthi semakin sering mengganggu kapal-kapal yang melintas di selat tersebut dengan serangan. Terbaru, Houthi menyerang kapal tanker Arab Saudi yang melintas di Selat Bab el-Mandeb pada 22 Juli. Serangan itu membuat tensi Houthi dan Arab Saudi meningkat.
3. Pelayaran di Selat Bab el-Mandeb anjlok usai Houthi serang kapal Arab Saudi

Usai Houthi menyerang kapal Arab Saudi, pelayaran di Selat Bab el-Mandeb sempat anjlok. Hal ini lantas memicu kekhawatiran akan kenaikan harga minyak global. Sebab, jika pelayaran di Selat Bab el-Mandeb menurun, kapal jadi tidak bisa membawa minyak dari Timur Tengah ke pasar global sehingga harganya berpotensi naik.
Kendati demikian, pelayaran di Selat Bab el-Mandeb kini sudah kembali normal. Bahkan, data terbaru yang dirilis pada Selasa lalu menunjukkan kapal-kapal yang melintas dan transit di selat tersebut berada dalam jumlah tertinggi dalam sepekan terakhir.



















