Jakarta, IDN Times - Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan tidak menemukan indikasi upaya Iran untuk memperbaiki atau membangun kembali fasilitas nuklirnya yang rusak akibat serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel dalam dua tahun terakhir. Direktur Jenderal IAEA, Rafael Mariano Grossi, menyampaikan temuan tersebut dalam sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) di New York pada Selasa (27/10/2026).
Laporan ini menjadi paparan pertama Grossi di hadapan 15 anggota DK PBB sejak Dewan Gubernur IAEA melaporkan Teheran bulan lalu atas pelanggaran kewajiban nonproliferasi. Pelaporan 9 September itu menjadi yang pertama kalinya terhadap Iran dalam 20 tahun terakhir. Teheran menolak keputusan tersebut dan menilainya bermotif politik serta melanggar hukum.
"Sejak Juni 2025, kami belum mengidentifikasi aktivitas apa pun untuk memperbaiki atau merekonstruksi fasilitas yang rusak akibat serangan militer pada 2025 dan 2026," ujar Grossi, dilansir The Straits Times.
