Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Intelijen Korsel: Korut Jaga Jarak dari Iran Demi Dekati AS
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (Kremlin.ru, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
  • Intelijen Korsel melaporkan Korut mulai menjaga jarak dari Iran sejak pecahnya perang AS-Israel melawan Teheran, demi membuka peluang diplomasi baru dengan Washington.
  • Sikap Korut terhadap konflik Timur Tengah dinilai lebih lunak, tanpa dukungan terbuka bagi Iran, berbeda dengan Rusia dan China yang tetap menunjukkan solidaritas pada Teheran.
  • Presiden AS Donald Trump mengkritik sekutu seperti Korsel dan Jepang karena tak ikut operasi di Iran, sambil memberi tenggat bagi Teheran untuk membuka blokade Selat Hormuz.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Badan Intelijen Nasional Korea Selatan (NIS) melaporkan Korea Utara (Korut) mulai menjaga jarak dari Iran. Sikap tersebut dinilai mulai terlihat semenjak perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran pecah pada akhir Februari lalu.

Intelijen Korea Selatan (Korsel) tidak melihat tanda-tanda bahwa Korut mengirim pasokan persenjataan bagi Teheran di tengah memanasnya konflik. Pyongyang dinilai sedang berupaya membuka ruang negosiasi baru dengan AS.

1. Tanggapan Korut atas perang di Iran lebih lunak dari biasanya

Bendera Korea Utara. (unsplash.com/Micha Brändli)

Kementerian Luar Negeri Korut tercatat hanya merilis dua pernyataan terkait konflik di Timur Tengah. Kedua pernyataan tersebut juga dinilai lebih lunak dari biasanya.

Pemimpin Tertinggi Korut Kim Jong Un bahkan tidak menyampaikan ucapan belasungkawa atas gugurnya Pemimpin Iran Ayatollah Ali Khamenei. Korut juga belum mengeluarkan pernyataan untuk merespons terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru Iran.

Berbeda dengan Korut, Rusia dan China tetap rutin memberikan dukungan untuk Teheran. Intelijen Korea Selatan (Korsel) menduga, sikap pasif Korut ini juga dipengaruhi rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada Mei mendatang.

"NIS menilai Korut sedang menahan diri demi mengamankan ruang diplomasi baru," ujar anggota parlemen Korea Selatan Park Sun-won, dilansir The Straits Times.

2. Trump kritik Korsel dan Jepang karena tak bantu AS

Presiden AS, Donald Trump (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Di tengah absennya campur tangan Korut, Presiden Trump justru melontarkan kritik tajam kepada para sekutu utamanya di Asia. Ia mengecam Korsel karena tidak menyumbang kekuatan angkatan laut dalam operasi militer di Iran.

"Anda tahu siapa lagi yang tidak membantu kita? Korea Selatan tidak membantu kita," tutur Trump, dilansir Chosun Ilbo.

Trump menyinggung keberadaan militer AS di Semenanjung Korea yang menurutnya melindungi Korsel dari ancaman nuklir Korut. Ia mengklaim AS telah menempatkan 45 ribu tentara di Korsel, meski angka resminya hanya berkisar 28.500 personel.

Kecaman bernada serupa turut dilayangkan kepada pemerintah Jepang, Australia, serta pakta pertahanan NATO. Trump bahkan menilai NATO hanyalah macan kertas di hadapan Rusia.

3. Trump beri waktu hingga Selasa untuk Iran buka Selat Hormuz

kapal di Selat Hormuz (MC2 Indra Beaufort, Public domain, via Wikimedia Commons)

Trump telah memberi tenggat waktu hingga Selasa pukul 20.00 waktu Washington bagi Iran untuk mencabut blokade Selat Hormuz. Jika diabaikan, AS mengancam akan menghancurkan seluruh fasilitas jembatan dan pembangkit listrik Iran dalam waktu empat jam.

Di sisi lain, Teheran baru saja menolak proposal gencatan senjata 45 hari usulan Pakistan. Iran mendesak penghentian perang permanen melalui penyusunan sepuluh poin perjanjian baru.

"Kami hanya menerima penghentian perang lewat jaminan mutlak agar kami tidak diserang lagi," kata Kepala Misi Diplomatik Iran di Kairo Mojtaba Ferdousi Pour, dilansir Al Jazeera.

Di tengah ketegangan diplomatik, Israel justru sibuk mengebom fasilitas petrokimia Iran di ladang gas South Pars. Ledakan tersebut merusak fasilitas vital pengolahan energi dan menewaskan dua komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team