Remotivi: Tuduhan Antek Asing Berulang Dipakai Bungkam Kritik Publik

- Muhamad Heychael dari Remotivi menilai tuduhan agen asing terhadap kelompok kritis merupakan pola lama yang terus dipakai untuk membungkam kritik publik sejak masa Orde Baru.
- Ia menyebut kolaborasi antara jejaring internasional dan buzzer domestik bertujuan mendelegitimasi gerakan masyarakat agar takut menyuarakan aspirasi karena khawatir dicap antek asing.
- Heychael menyoroti standar ganda dalam pandangan publik terhadap dana asing serta menegaskan Remotivi selalu transparan secara finansial dan konsisten memperjuangkan literasi serta demokrasi.
Jakarta, IDN Times - Peneliti Remotivi, Muhamad Heychael, menilai tuduhan yang mengaitkan gerakan massa maupun kelompok masyarakat sipil dengan agenda asing, merupakan pola lama yang terus berulang.
Tanggapan tersebut disampaikan menyusul munculnya narasi yang menyeret nama Remotivi sebagai pihak yang dituduh sebagai 'antek asing' atau disponsori pemerintah Amerika Serikat (AS) dalam demonstrasi besar-besaran pada akhir Agustus 2025.
"Ini sebenarnya tuduhan yang berulang, ya. Tiap kali ada gerakan massa atau ada protes dan kritik, muncullah tuduhan ini. Jadi sebenarnya ini bukan barang baru," ujar Heychael saat dihubungi IDN Times, Selasa (26/5/2026).
1. Sentimen lama pada masa Orde Baru

Heychael menilai narasi ini sengaja memanfaatkan sentimen lama yang dahulu kerap dibangun pada masa Orde Baru. Tujuannya adalah membangun opini publik seolah-olah masyarakat Indonesia tidak memiliki daya kritis yang mandiri.
"Seolah-olah segala yang kritis terhadap pemerintahan itu adalah orang-orang yang digerakkan oleh aktor asing. Seolah-olah rakyat tuh gak bisa mikir sendiri," kata dia.
2. Delegitimasi kritik masyarakat

Heychael memaparkan kolaborasi antara jejaring internasional dan buzzer domestik ini memiliki target yang jelas, yaitu mendelegitimasi kritik masyarakat.
"Harapan mereka itu agar masyarakat tidak join gerakan, tidak join upaya-upaya untuk kemudian menyuarakan aspirasinya, karena khawatir dituduh sebagai antek asing," katanya.
3. Pinjaman dana luar negeri oleh negara dianggap wajar

Heychael juga menyoroti standar ganda yang dipakai para penuduh. Kerja sama kelembagaan atau pendanaan dari organisasi internasional selalu dicurigai, namun di sisi lain, pinjaman dana luar negeri yang dilakukan negara dianggap wajar.
"Bukankah negara ini juga penuh dengan dana asing, ya? Jadi, semacam ada kesan kalau kita bekerja sama, misalnya, dengan organisasi dari luar Indonesia, baik dalam pendanaan atau pun dalam kerja-kerja yang lain, itu dicurigai. Kayak yang terjadi dengan film Dirty Vote, misalnya. Tapi kalau negara ini minjam uang dengan negara asing atau dengan institusi asing, gak ada masalah tuh? Gitu," ujar dia.
4. Serangan hoaks bukan hal baru

Serangan hoaks dan disinformasi semacam ini bukan hal baru bagi Remotivi. Pada 2023 juga pernah terjadi, setelah Remotivi bersama Narasi TV merilis riset yang mengungkap influence operation atau operasi pengaruh Rusia di Indonesia.
"Nah, sejak saat itu mulai ramai tuh tuduhan naik lagi, gitu. Jadi 2023 pun kami diserang dengan tuduhan dibiayai oleh macam-macamlah ya, dari George Soros dan siapa, gitu-gitu," katanya.
5. Remotivi selalu menjaga transparansi finansial

Terkait dampak pelabelan 'antek asing' terhadap kredibilitas Remotivi, Heychael mengaku tidak khawatir. Menurutnya, publik sudah cerdas dan bisa menilai rekam jejak mereka yang konsisten bergerak di jalur literasi dan demokrasi, tanpa adanya favoritisme.
"Jadi, dan orang tahu maksudnya kita melakukan apa yang kita lakukan secara konsisten sejak berdiri. Artinya, gak ada favoritisme, gak ada keberpihakan, gitu. Keberpihakan kita pure pada literasi, demokrasi. Jadi orang melihat rekam jejaknya," tegasnya.
Sebagai bentuk pertanggung jawaban moral dan profesional kepada publik, Remotivi juga selalu menjaga transparansi tata kelola organisasi, termasuk urusan finansial.
"Setiap tahun kita bikin laporan, kok. Dan itu bisa dibuka publik juga. Remotivi seperti NGO pada umumnya, yang bekerja sama sama lembaga donor, dan lembaga donor ini dari berbagai negara," katanya.



















