Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
IRGC Iran Desak Hamas Jangan Sepakat Lucuti Senjata
potret pasukan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) (commons.wikimedia.org/Hossein Zohrevand)
  • IRGC mendesak Hamas menolak draf kesepakatan dengan AS karena perlucutan senjata dan penarikan pasukan dari Gaza dinilai menguntungkan AS serta Israel.
  • Hamas dilaporkan sepakat melucuti senjata, sementara Israel bersedia menarik seluruh pasukannya dari Gaza dalam rencana AS untuk mengakhiri agresi dan menjaga perdamaian.
  • Perlucutan senjata berpotensi mengikis kekuasaan Hamas di Gaza, setelah pemerintahan daruratnya dibubarkan dan administrasi wilayah dipegang komite bentukan BoP, NCAG.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mendesak milisi Palestina, Hamas, untuk jangan bersedia melucuti senjatanya. Kabar itu disampaikan oleh sumber anonim dari Iran kepada media Israel, Axios, pada Jumat (31/72026). IRGC menilai perlucutan senjata hanya akan merugikan Hamas. Namun, di sisi lain, akan menguntungkan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Sumber itu mengatakan, IRGC juga meminta Hamas untuk jangan menandatangani draf kesepakatan yang sudah dibahas pada Kamis (30/7/2026) kemarin. Sebab, jika Hamas meneken draf tersebut, itu berarti, mereka harus segera melucuti senjata dan menarik semua pasukannya dari Gaza.

1. Hamas sepakat melucuti senjata dan mundur dari Gaza

Anak-anak di Palestina sedang merayakan ulang tahun Hamas. (farsnews.ir/Hadi Mohammad via commons.wikimedia.org/Hadi Mohammad)

Desakan ini muncul usai Hamas meraih kesepakatan dengan AS pada Kamis. Dalam kesepakatan itu, Hamas bersedia untuk melucuti senjata dan menarik mundur semua pasukannya dari Gaza. Kesediaan ini menjadi akhir dari upaya AS untuk melucuti senjata Hamas sejak lama. Sebab, sebelum ini, AS sudah berulang kali mendesak Hamas untuk melucuti senjatanya. Namun, mereka selalu menolak. 

“Kesepakatan telah tercapai mengenai masalah senjata. Selanjutnya, kesepakatan juga telah tercapai mengenai penarikan bertahap (pasukan Israel) dari Jalur Gaza,” kata seorang pejabat senior Hamas, Ghazi Hamad, soal kesediaan Hamas melucuti senjata, seperti dilansir The Strait Times

2. Dewan Perdamaian (BoP) Gaza menyambut perlucutan senjata Hamas

Sejumlah pemimpin negara sedang menghadiri peresmian pendirian Dewan Perdamaian (BoP) Gaza di Davos, Swiss, pada Februari 2026. (commons.wikimedia.org/Press Service of the President of the Republic of Azerbaijan)

Di sisi lain, Dewan Perdamaian (BoP) Gaza menyambut baik kesediaan Hamas untuk melucuti senjatanya. Sebab, seorang pejabat senior BoP anonim mengatakan, butuh waktu berbulan-bulan untuk melobi milisi tersebut agar mau melucuti senjata dan mundur dari Gaza.

"Hamas memiliki banyak kekhawatiran. Butuh berbulan-bulan negosiasi yang rumit untuk membawa kita pada terobosan ini dan kita akan bergerak dalam beberapa minggu mendatang untuk memajukan implementasinya,” kata pejabat tersebut dilansir Jerusalem Post

Kesepakatan yang diraih pada Kamis sebetulnya bukan hanya untuk Hamas, tetapi juga untuk Israel. Dalam kesepakatan itu, Israel juga telah bersedia menarik mundur seluruh pasukannya dari Gaza. Langkah ini bertujuan untuk memuluskan rencana AS untuk mengakhiri agresi Israel dan menjaga perdamaian abadi di Gaza. 

3. Kekuasaan Hamas di Gaza semakin terkikis

potret serangan Israel di Gaza (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)

Jika Hamas benar-benar melucuti senjata dan menarik pasukannya, kekuasan mereka di Gaza akan semakin terkikis. Sebab, pada 7 Juni lalu, Hamas sudah membubarkan pemerintahan darurat yang mereka bentuk di Gaza. Saat ini, roda pemerintahan di Gaza dipegang oleh komite yang dibentuk BoP bernama National Committee for the Administration of Gaza (NCAG).

Kendati demikian, hal ini sebetulnya didukung oleh warga Palestina yang tinggal di Gaza. Sebab, mereka sebetulnya ingin Hamas pergi dari wilayah tersebut. Ini karena Hamas kerap melakukan serangan teror dan menebar ancaman sehingga banyak warga Gaza yang merasa terganggu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article