Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Israel Serang Lebanon Tewaskan 7 Jiwa, Presiden Aoun Minta Bantuan AS
Menlu AS Marco Rubio bertemu Presiden Lebanon Joseph Aoun di New York, 22 September 2025. (U.S. Department of State, Public Domain, via Wikimedia Commons)
  • Serangan udara Israel di Lebanon selatan pada 6 September 2026 menewaskan sedikitnya tujuh orang dan melukai 20 lainnya, serta merusak rumah sakit, fasilitas pemerintah, dan bangunan bersejarah.
  • Presiden Joseph Aoun meminta AS dan komunitas internasional menghentikan serangan yang dinilainya melanggar gencatan senjata Juni 2026; Israel menyatakan operasinya menargetkan Hizbullah.
  • Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat agresi Israel sejak Oktober 2023 menewaskan 8.920 orang dan melukai 30.595 orang, sementara 360 ribu warga masih mengungsi hingga Agustus 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Presiden Lebanon Joseph Aoun mendesak Amerika Serikat dan komunitas internasional untuk segera membantu menghentikan serangan militer Israel di wilayah selatan Lebanon. Permintaan bantuan tersebut disampaikan setelah rentetan serangan udara Israel menewaskan sedikitnya tujuh orang pada Minggu (6/9/2026).

Gempuran mematikan itu terus berlanjut meski kedua pihak telah terikat kesepakatan gencatan senjata dan kerangka kerja perdamaian yang disponsori Amerika Serikat sejak Juni 2026. Aoun menilai serangan terbaru yang menghantam fasilitas kesehatan dan kantor pemerintahan ini merupakan eskalasi berbahaya yang menuntut tindakan nyata dari pihak internasional.

1. Daftar korban jiwa dan kehancuran fasilitas publik di Lebanon selatan

bendera Lebanon (unsplash.com/Charbel Karam)

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa dua orang tewas akibat serangan di Nabatieh al-Fawqa dan dua perempuan meninggal di wilayah Arab Salim. Sebanyak 20 orang lainnya mengalami luka-luka di kedua lokasi tersebut, serta di Kota Nabatieh dan Kfar Rumman, termasuk sejumlah perempuan dan tiga anak-anak. Serangan susulan pada sebuah area parkir di dekat Nabatieh kemudian merenggut tiga korban jiwa lainnya.

Salah satu serangan di Nabatieh al-Fawqa meluluhlantakkan Rumah Sakit Ghandour yang sudah tidak beroperasi. Otoritas kesehatan setempat mengecam kehancuran total fasilitas medis tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap hukum kemanusiaan internasional. Kerusakan parah juga melanda pusat Kota Nabatieh setelah gempuran udara merusak bangunan bersejarah serta kantor dinas pertanian dan kementerian keuangan daerah.

Dilansir CNA, Wali Kota Nabatieh Abbas Fakhreddine mendesak otoritas pusat mengambil langkah konkret demi melindungi aset-aset penting daerah. "Pemerintah Lebanon harus mengambil tindakan dan setidaknya membela lembaga-lembaganya," kata Fakhreddine usai fasilitas publik tersebut dihantam untuk kedua kalinya.

2. Dalih operasi militer Israel dan respons pihak Lebanon

Israel Defense Forces (Israel Defense Forces, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons)

Pihak militer Israel mengklaim serangan itu ditujukan ke target anggota maupun infrastruktur Hizbullah, termasuk gudang penyimpanan senjata. Mereka juga berdalih bahwa salah satu sasaran merupakan pusat komando kelompok tersebut yang dibangun di dalam bekas gedung rumah sakit. Operasi udara tersebut diklaim militer Israel sebagai balasan atas dugaan serangan pesawat nirawak Hizbullah di dekat punggung bukit Ali al-Taher sehari sebelumnya. Padahal, Hizbullah belum mengklaim serangan apa pun selama berminggu-minggu dan belum berkomentar atas klaim militer Israel yang menguasai bukit strategis tersebut.

Sebelum membombardir Arab Salim, militer Israel sempat merilis pemberitahuan evakuasi pertama dalam sebulan terakhir kepada warga yang tinggal di dekat fasilitas Hizbullah. Namun, kantor berita National News Agency (NNA) melaporkan bahwa jet tempur justru membombardir rumah warga lainnya hingga menewaskan dua perempuan sebelum target yang diperingatkan diserang. Seorang warga bernama Haidar Haidar menyampaikan bahwa vila milik saudaranya yang menjadi sasaran peringatan tersebut berada dalam keadaan kosong.

Menanggapi situasi tersebut, Presiden Joseph Aoun meminta Washington mengintervensi pelanggaran kerangka kerja kesepakatan gencatan senjata yang disponsori AS sejak Juni 2026. Dia menilai rentetan serangan tersebut sebagai ancaman serius bagi kelangsungan fasilitas publik. "Sebuah eskalasi berbahaya yang menjangkau lembaga-lembaga negara Lebanon," tutur Aoun seraya mendesak masyarakat internasional segera bertindak menghentikan agresi tersebut.

3. Total korban tewas akibat agresi militer tembus ribuan jiwa

ilustrasi kamp pengungsi (pexels.com/Ahmed akacha)

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Lebanon yang dilaporkan Al Jazeera, agresi militer Israel selama rentang Oktober 2023 hingga September 2026 telah menewaskan 8.920 jiwa. Otoritas kesehatan Lebanon mencatat sedikitnya 30.595 orang menderita luka-luka dalam kurun waktu tiga tahun tersebut. Jumlah korban melonjak signifikan sejak eskalasi konflik pada 2 Maret 2026, dengan catatan 4.358 kematian dan 12.359 korban luka.

Kekerasan bersenjata sejak awal Maret 2026 juga menyasar sektor medis lewat 179 serangan terhadap kru ambulans yang merenggut nyawa 135 tenaga kesehatan. Gelombang serangan ini memicu krisis kemanusiaan parah dengan 360 ribu warga tercatat masih bertahan di pengungsian hingga Agustus 2026 menurut Badan Pengungsi PBB (UNHCR). Dari jumlah warga yang terlantar tersebut, sedikitnya 22 ribu jiwa terpaksa bertahan hidup di tempat penampungan kolektif.

Kondisi di Lebanon selatan semakin rentan karena militer Israel masih mempertahankan zona penyangga sedalam sekitar 10 kilometer di wilayah perbatasan. Di sisi lain, pemimpin Hizbullah Naim Qassem secara terbuka menolak kerangka kesepakatan yang mensyaratkan perlucutan senjata kelompoknya tersebut, dan menyebutnya 'batal demi hukum' selama pasukan pendudukan Israel belum ditarik mundur. Hingga kini, kesepakatan kerangka kerja tersebut tidak secara spesifik memuat klausul penarikan mundur pasukan Israel dari wilayah Lebanon selatan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article