Israel Defense Forces (Israel Defense Forces, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons)
Pihak militer Israel mengklaim serangan itu ditujukan ke target anggota maupun infrastruktur Hizbullah, termasuk gudang penyimpanan senjata. Mereka juga berdalih bahwa salah satu sasaran merupakan pusat komando kelompok tersebut yang dibangun di dalam bekas gedung rumah sakit. Operasi udara tersebut diklaim militer Israel sebagai balasan atas dugaan serangan pesawat nirawak Hizbullah di dekat punggung bukit Ali al-Taher sehari sebelumnya. Padahal, Hizbullah belum mengklaim serangan apa pun selama berminggu-minggu dan belum berkomentar atas klaim militer Israel yang menguasai bukit strategis tersebut.
Sebelum membombardir Arab Salim, militer Israel sempat merilis pemberitahuan evakuasi pertama dalam sebulan terakhir kepada warga yang tinggal di dekat fasilitas Hizbullah. Namun, kantor berita National News Agency (NNA) melaporkan bahwa jet tempur justru membombardir rumah warga lainnya hingga menewaskan dua perempuan sebelum target yang diperingatkan diserang. Seorang warga bernama Haidar Haidar menyampaikan bahwa vila milik saudaranya yang menjadi sasaran peringatan tersebut berada dalam keadaan kosong.
Menanggapi situasi tersebut, Presiden Joseph Aoun meminta Washington mengintervensi pelanggaran kerangka kerja kesepakatan gencatan senjata yang disponsori AS sejak Juni 2026. Dia menilai rentetan serangan tersebut sebagai ancaman serius bagi kelangsungan fasilitas publik. "Sebuah eskalasi berbahaya yang menjangkau lembaga-lembaga negara Lebanon," tutur Aoun seraya mendesak masyarakat internasional segera bertindak menghentikan agresi tersebut.