Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jepang Bersiap Uji Coba Rudal Hipersonik di Australia
ilustrasi bendera Jepang (unsplash.com/Fumiaki Hayashi)
  • Jepang dan Australia sepakat memberi SDF akses lapangan tembak Australia selama 10 tahun untuk menguji rudal jarak jauh dan hipersonik, mengatasi keterbatasan fasilitas domestik Jepang.
  • Kedua negara juga meninjau ekspor fregat kelas Mogami senilai 10 miliar dolar Australia selama 10 tahun, sementara Selandia Baru mempertimbangkan kapal tersebut untuk armada generasi berikutnya.
  • Tokyo dan Canberra meluncurkan proyek laser Boobook serta mempererat kerja sama pertahanan untuk merespons peningkatan pengaruh militer China dan dorongan AS bagi sekutu Indo-Pasifik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Jepang akan segera menguji coba rudal jarak jauh dan rudal hipersonik di wilayah Australia. Kesepakatan strategis ini dicapai dalam pertemuan antara Menteri Pertahanan (Menhan) Jepang, Shinjiro Koizumi, dan Menhan Australia Richard Marles di Canberra pada Selasa (18/8/2026).

Langkah tersebut diambil untuk mengatasi keterbatasan fasilitas pengujian domestik Jepang, sekaligus memperdalam integrasi militer kedua negara di kawasan Indo-Pasifik.

"Jika terwujud, ini akan menjadi perkembangan yang sangat penting," kata Koizumi kepada wartawan setelah pertemuan tersebut, dilansir Asahi Shimbun.

1. Dari uji rudal hingga ekspor fregat Mogami

Ilustrasi kapal. (pexels.com/Devin Koopman)

Untuk mewujudkan kerja sama tersebut, Canberra memberikan akses penggunaan lapangan tembak militer mereka kepada Pasukan Bela Diri (SDF) Jepang selama satu dekade ke depan. Marles menegaskan bahwa kesepakatan ini memberikan jangkauan uji coba yang lebih mutakhir bagi Tokyo. Merespons hal tersebut, Koizumi menyambut positif dan berkomitmen untuk segera mempercepat diskusi teknis agar uji coba peluncuran rudal dari luar jangkauan serangan musuh ini dapat segera terealisasi.

Selain pengujian rudal, kedua negara meninjau kemajuan kesepakatan ekspor versi terbaru fregat kelas Mogami senilai 10 miliar dolar Australia (sekitar Rp126,6 triliun) untuk kurun waktu 10 tahun. Fregat siluman dengan efisiensi jumlah awak ini merupakan kesepakatan ekspor pertahanan terbesar Jepang sejak Perang Dunia II. Hal ini menandai transfer peralatan militer skala besar pertama Negeri Sakura ke luar negeri.

Langkah berani ini tidak lepas dari kebijakan pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang telah mencabut penuh pembatasan ekspor senjata mematikan. Pemerintahan Takaichi mendorong industri pertahanan domestik sebagai salah satu pilar utama penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.

2. Selandia Baru jadi target ekspansi berikutnya

Ilustrasi bendera Selandia Baru. (unsplash.com/Kerin Gedge)

Ekspansi alutsista Jepang di kawasan Indo-Pasifik juga menyasar Selandia Baru sebagai target potensial berikutnya. Saat ini, Wellington memasukkan fregat kelas Mogami yang ditingkatkan serta fregat Tipe 31 dari Inggris ke dalam daftar kandidat armada generasi mendatang. Keputusan final mengenai pilihan tersebut dijadwalkan paling cepat pada 2027.

Jika Selandia Baru memilih model fregat yang sama dengan Australia, integrasi militer dan mobilitas SDF di kawasan diperkirakan akan meningkat signifikan. Sebab, penggunaan alutsista serupa akan memperluas jaringan basis logistik, pemeliharaan, serta meningkatkan interoperabilitas antar angkatan laut ketiga negara. Namun, rencana pertemuan menteri trilateral di Canberra sempat tertunda akibat pemecatan Menhan Selandia Baru Chris Penk pekan lalu.

3. China jadi tantangan bersama Jepang dan Australia

Bendera Tiongkok. (Unsplash.com/Macau Photo Agency)

Meski demikian, ambisi ekspor peralatan pertahanan Jepang masih terbentur kendala harga. Pejabat senior di Badan Akuisisi, Teknologi, dan Logisitik Jepang mengakui bahwa alutsista buatan negaranya memiliki kinerja yang sangat tangguh, tetapi kurang kompetitif dari segi harga. Hal ini tidak terlepas dari desain awalnya yang memang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan internal SDF. Di sisi lain, memperluas kapasitas jalur produksi fregat secara masif juga menjadi tantangan tersendiri bagi industri manufaktur lokal.

Di luar proyek fregat dan uji coba rudal, Tokyo-Canberra juga meluncurkan proyek pertahanan bersama bernama Boobook, yang diambil dari nama burung hantu khas Australia yang tangguh di malam hari. Proyek ini berfokus pada pengembangan sistem laser canggih untuk mendeteksi potensi ancaman yang dapat dipasang pada platform tempur darat maupun pesisir, The Straits Times melaporkan.

Peningkatan kerja sama militer yang semakin intensif antara kedua negara ini didorong oleh dinamika keamanan regional, terutama untuk mengimbangi pengaruh militer China yang terus meningkat. Langkah ini sekaligus menjawab desakan Amerika Serikat agar para sekutunya di kawasan Indo-Pasifik memperbesar kontribusi dan anggaran pertahanan mereka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article