Bendera Tiongkok. (Unsplash.com/Macau Photo Agency)
Meski demikian, ambisi ekspor peralatan pertahanan Jepang masih terbentur kendala harga. Pejabat senior di Badan Akuisisi, Teknologi, dan Logisitik Jepang mengakui bahwa alutsista buatan negaranya memiliki kinerja yang sangat tangguh, tetapi kurang kompetitif dari segi harga. Hal ini tidak terlepas dari desain awalnya yang memang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan internal SDF. Di sisi lain, memperluas kapasitas jalur produksi fregat secara masif juga menjadi tantangan tersendiri bagi industri manufaktur lokal.
Di luar proyek fregat dan uji coba rudal, Tokyo-Canberra juga meluncurkan proyek pertahanan bersama bernama Boobook, yang diambil dari nama burung hantu khas Australia yang tangguh di malam hari. Proyek ini berfokus pada pengembangan sistem laser canggih untuk mendeteksi potensi ancaman yang dapat dipasang pada platform tempur darat maupun pesisir, The Straits Times melaporkan.
Peningkatan kerja sama militer yang semakin intensif antara kedua negara ini didorong oleh dinamika keamanan regional, terutama untuk mengimbangi pengaruh militer China yang terus meningkat. Langkah ini sekaligus menjawab desakan Amerika Serikat agar para sekutunya di kawasan Indo-Pasifik memperbesar kontribusi dan anggaran pertahanan mereka.