Ilustrasi bendera Korea Selatan. (pexels.com/Mirko Kuzmanovic)
Meski hubungan keamanan semakin erat, kedua belah pihak secara sengaja menghindari pembahasan formal terkait Perjanjian Akuisisi dan Layanan Lintas Negara (ACSA). Pakta logistik militer ini dapat mempermudah kedua pasukan saling berbagi pasokan, seperti bahan bakar, makanan, dan dukungan medis.
Tokyo telah lama mendesak penandatanganan ACSA untuk meningkatkan kesiapan menghadapi eskalasi regional. Namun, Presiden Korsel Lee Jae Myung dan Menhan Ahn mengambil sikap berhati-hati akibat sensitivitas sentimen publik domestik terkait masa lalu kolonial Jepang (1910-1945). Selain itu, muncul kekhawatiran terkait reaksi geopolitik dari China dan Rusia.
Profesor di sebuah lembaga milik negara di Korsel, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan bahwa pakta tersebut akan menimbulkan biaya diplomatik bagi Seoul di luar sekadar logisitik.
"Bagi Jepang, ACSA adalah tentang fleksibilitas operasional. Bagi Korsel, ini juga tentang posisi strategis. Begitu Seoul menandatanganinya, Beijing dan Moskow akan membacanya sebagai langkah Korsel yang lebih tegas menuju kerangka militer trilateral dengan AS dan Jepang," ungkapnya, dikutip dari Korea Herald.
Jika disepakati, ACSA akan menandai langkah lebih lanjut dalam kerja sama militer antara Seoul-Tokyo di luar pertukaran informasi intelijen. Untuk diketahui, kedua negara menandatangani Perjanjian Keamanan Umum Informasi Militer pada 2016 di bawah pemerintahan Park Geun-hye. Langkah ini terealisasi setelah bertahun-tahun terjadi kontroversi mengenai kerja sama militer dengan Jepang.