BNPB Minta Pemda NTT Tetapkan Status Darurat Usai Dihantam Gempa

- BNPB meminta Pemda NTT segera menetapkan status darurat, mengaktifkan posko, serta melakukan asesmen dan pendataan agar akses birokrasi, komando terpadu, dan dana darurat dapat digunakan cepat.
- Presiden Prabowo meminta Pratikno bersama sejumlah menteri turun ke lokasi untuk mengawal bantuan, evakuasi, layanan kesehatan, pengungsian, logistik, dan pemulihan fasilitas umum.
- Korban meninggal akibat gempa magnitudo 7,7 mencapai 47 orang, lebih dari 2.000 warga mengungsi, sementara ratusan rumah serta fasilitas pendidikan, kesehatan, ibadah, dan kantor mengalami kerusakan.
Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto meminta agar pemerintah daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) segera menetapkan status keadaan darurat usai dihantam gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7. Dengan adanya status tersebut maka akan tercipta kemudahan akses birokrasi, aktivitas komando terpadu dan izin untuk menggunakan dana darurat secara cepat. Pernyataan itu disampaikan Suharyanto ketika mengikuti rapat koordinasi bersama sejumlah menteri yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Pratikno secara virtual.
"Pemerintah daerah diminta segera menetapkan status keadaan darurat, mengaktifkan posko tanggap darurat dan melakukan asesmen dan pendataan dampak bencana," ungkap Suharyanto ketika memberikan keterangan secara virtual pada Sabtu (15/8/2026).
Sementara, hingga pukul 18.48 WIB, jumlah korban gempa yang meninggal dunia sudah mencapai 47 jiwa. Angka itu diperkirakan bakal bertambah lantaran masih ada korban yang berada di bawah reruntuhan bangunan. Sementara, lebih dari 2.000 warga melakukan pengungsian secara mandiri.
1. Pratikno dan sejumlah menteri diminta Prabowo turun langsung ke lapangan

Menko PMK, Pratikno saat memimpin Rapat Koordinasi Tingkat Menteri Tim Pengarah Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, pada Kamis (18/6/2026). (Dok. Kemenko PMK) Sementara, di forum itu, Pratikno mengakui diminta oleh Presiden Prabowo Subianto agar berangkat menuju ke lokasi bencana pada Sabtu malam. Selain dirinya, ada pula sejumlah menteri yang wajib turun ke lapangan seperti Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto hingga Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono.
"Kami diminta untuk berangkat menuju ke lokasi terdampak pada Sabtu malam ini untuk memastikan bantuan darurat tersalurkan secara maksimal dan mengawal kebutuhan penanganan di lapangan termasuk evakuasi, layanan kesehatan, dukungan bagi keluarga korban, pengungsian, logistik dan pemulihan fasilitas umum yang terdampak," kata Pratikno.
2. TNI dan kepolisian sedang menyiapkan dukungan untuk evakuasi korban

Personel TNI ikut terlibat dalam tim SAR untuk mencari korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). (Dokumentasi Puspen TNI) Sementara, Basarnas, TNI, BNPB dan kepolisian sedang menyiapkan dukungan pencarian dan evakuasi, termasuk dengan menggunakan beberapa unit helikopter dan pesawat kecil untuk pergeseran personel, distribusi logistik dan evakuasi korban.
"Untuk bantuan logistik disiapkan dari gudang BNPB di Larantuka, Flores timur. Pemerintah pusat siap mendukung segala kebutuhan yang diminta atau diperlukan di daerah," ujar Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto.
Di sisi lain, Gubernur NTT, Melki Laka Lena, menggaris bawahi fokusnya saat ini yaitu memenuhi kebutuhan pengungsi korban gempa bumi. Prioritas selanjutnya melakukan pencarian dan evakuasi korban.
"Sekarang ini adalah bagaimana tim SAR bisa membantu penanganan korban yang masih terjebak di bangunan. Kemudian, memastikan makan-minum dari seluruh korban yang terpaksa harus mengungsi karena rumahnya tidak bisa dipakai. Mereka harus bisa makan dan minum dengan baik," ungkap Melki di Maumere pada hari ini.
3. Jumlah korban meninggal sudah mencapai 47 jiwa

Gempa M 7,7 NTT (BNPB) Sementara, BNPB menyebut jumlah korban jiwa bertambah menjadi 47 jiwa. "Sebaran korban tersebut teridentifikasi di Kabupaten Manggarai 24 orang, Manggarai Timur 17 orang, Sikka 3 orang, Ngada 1 orang dan Ende 1 orang," ungkap Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan di dalam keterangan pada malam ini.
Di sisi lain, total rumah yang mengalami kerusakan berat berdasarkan data pukul 17.00 WIB mencapai 157 unit, rusak sedang 41 unit dan rusak ringan 148 unit. Kerusakan, kata Berton, juga menimpa fasilitas umum, seperti fasilitas pendidikan 87 unit, kesehatan 18 unit, tempat ibadah 5 unit dan kantor 6 unit.
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto menjanjikan akan terus memperbarui data mengenai korban jiwa dan jumlah rumah yang mengalami kerusakan.
















