Potret Bandara Narita di Jepang. (unsplash.com/Fatima Garcia)
Pada 8 Maret, sebanyak 83 warga negara Jepang dan satu anggota keluarga asing melarikan diri dari Kuwait dan memasuki Arab Saudi. Mereka menunggu penerbangan sewaan pemerintah yang dijadwalkan berangkat paling cepat pada 9 Maret 2026.
Selain itu, 13 warga negara Jepang, termasuk staf di Kedutaan Besar Jepang di Iran, dan satu anggota keluarga asing dilaporkan melarikan diri melalui jalur darat dari Iran ke negara tetangga Azerbaijan.
Beberapa penumpang yang telah tiba di Jepang berbagi pengalaman mereka. Seorang laki-laki yang berada di Oman untuk perjalanan bisnis mengatakan ia ingin pulang sesegera mungkin dan merasa lega. Ia menambahkan bahwa ia khawatir tentang rekan-rekannya yang masih berada di sana.
Sementara, seorang perempuan yang tinggal di Abu Dhabi tiba di Jepang bersama orang tuanya, yang sedang berkunjung. Ia mengatakan bahwa ia takut mendengar ledakan di dekatnya dan khawatir tentang suaminya yang harus tinggal di sana karena pekerjaannya.
Penumpang lainnya adalah Mitsuaki Nishimura, yang menjalankan perusahaan penyelenggara acara dan tinggal di Kyoto. Ia mengatakan terdengar suara ledakan keras yang kedengarannya seperti kembang api atau guntur. Insiden itu terjadi saat ia menginap di sebuah hotel di Dubai, UEA, dalam perjalanan bisnis pada 1 Maret 2026.
"Sebuah rudal yang tampaknya berasal dari Iran menghantam Dubai, dan peringatan darurat muncul di handphone tak lama kemudian. Sejak hari itu, serangan rudal terus berlanjut hampir setiap hari. Serangan tersebut semakin intensif terutama pada malam hari," kata Nishimura, dikutip dari Asahi Shimbun.