Trump Ancam Rebut Pulau Kharg, Jantung Minyak Iran

- Donald Trump mengancam akan merebut Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran, sebagai bagian dari strategi militer AS untuk menekan infrastruktur energi negara tersebut.
- Ketegangan meningkat setelah Iran menolak membuka kembali Selat Hormuz dan dituduh menembak jatuh helikopter AS, memicu serangan udara besar yang melumpuhkan pertahanan Iran.
- Trump menegaskan enggan mengerahkan pasukan darat dalam operasi perebutan Pulau Kharg meski mendapat dukungan politik domestik, sementara gencatan senjata antara kedua negara terancam runtuh.
Jakarta, IDN Times – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah Presiden Donald Trump melontarkan ancaman baru. Melalui unggahan di media sosial Truth Social pada Kamis (11/6/2026), Trump membuka kemungkinan penggunaan militer AS untuk mengambil alih Pulau Kharg, terminal ekspor minyak utama Iran.
Rencana tersebut menjadi bagian dari upaya penargetan besar-besaran terhadap infrastruktur energi Iran. Berdasarkan informasi yang beredar, Pulau Kharg menangani sekitar 90 persen pengiriman minyak mentah Iran sebelum konflik pecah. Di sisi lain, ekspor minyak Iran kini telah terhenti setelah Angkatan Laut AS memblokade pelabuhan dan kapal-kapal negara itu.
1. Trump usung pengambilalihan sektor energi Iran

Dalam wawancara telepon dengan Fox News, Trump memaparkan gagasannya untuk menguasai pasar minyak dan gas Iran secara penuh. Konsep itu mengadopsi kebijakan yang diterapkan AS terhadap sektor energi Venezuela pada awal tahun ini setelah pemerintahan Trump menggulingkan eks Presiden Nicolás Maduro pada Januari.
Dalam skema tersebut, pemerintah AS mengelola ekspor minyak Venezuela dan mengalihkan seluruh hasil penjualannya ke rekening Departemen Keuangan AS. Minyak mentah yang diproduksi kemudian dikirim ke kilang-kilang di kawasan Pantai Teluk AS.
Trump juga mengakui masih mempertimbangkan kesiapan publik AS untuk mendukung operasi perebutan wilayah di tengah negosiasi yang belum berakhir. Ia turut menyampaikan bahwa dirinya kini lebih memilih untuk tak menyerang pembangkit listrik Iran, meski opsi itu pernah diutarakan pada awal konflik.
2. Penolakan Iran picu ancaman militer baru

Rencana aksi yang lebih agresif muncul setelah pemerintah AS kecewa terhadap sikap Iran yang tetap mempertahankan program nuklirnya dan menolak membuka kembali Selat Hormuz. Sebelum perang berlangsung, jalur pelayaran tersebut memasok sekitar 20 persen kebutuhan minyak dunia.
Situasi bertambah panas setelah muncul tuduhan bahwa Iran menembak jatuh helikopter Apache milik AS di sekitar kawasan itu.
“Kami menjatuhkan bom senilai 250 juta dolar AS (setara Rp4,4 triliun) kepada mereka semalam,” kata Trump dalam wawancara dengan Fox News, dikutip CNBC.
Militer AS menyatakan sebagian besar kemampuan pertahanan Iran telah berhasil dilumpuhkan. Sementara itu, Iran tetap mempertahankan kendali atas Selat Hormuz dan menolak tuntutan utama yang diajukan Washington.
3. Trump hindari pengerahan pasukan darat

Meski ancaman serangan udara berikutnya disebut berpotensi lebih besar, Trump menunjukkan sikap yang lebih hati-hati terkait operasi darat.
“Saya tak ingin memiliki sepatu bot di darat,” ujarnya, dikutip Politico.
Operasi perebutan Pulau Kharg di Teluk Persia dinilai membutuhkan pengerahan pasukan dengan risiko tinggi terhadap keselamatan personel AS. Kondisi tersebut terjadi ketika dukungan publik di dalam negeri mulai melemah akibat kenaikan biaya energi.
Di sisi lain, Senator Lindsey Graham dari Carolina Selatan mendukung langkah yang lebih tegas terhadap Iran. Menurutnya, penguasaan Pulau Kharg dapat menjadi faktor penting yang menguntungkan AS dalam konflik tersebut.
Perkembangan itu berlangsung ketika kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada April terancam runtuh. Aksi saling serang yang terus berlanjut serta mandeknya perundingan membuat masa depan kesepakatan tersebut berada dalam ketidakpastian.

















