Solidaritas untuk Haji Chulaeli, Penambal Ban yang ke Tanah Suci

Jeddah, IDN Times — Sebuah kisah yang menggetarkan hati datang dari rombongan jemaah haji asal Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Chulaeli Ali (73), lansia penyintas stroke yang pernah berprofesi sebagai penarik becak motor dan tukang tambal ban, berhasil menuntaskan rukun Islam kelima di tengah keterbatasan fisik dan finansial.
Berangkat ke Tanah Suci seorang diri menggunakan kursi roda dengan bekal uang saku yang sangat minim, sosoknya tanpa sengaja memicu gelombang empati dan solidaritas dari sesama jemaah maupun para petugas haji Indonesia.
1. Kejutan sebelum pulang ke kampung halaman

Momen paling emosional terekam menjelang kepulangan Chulaeli ke Tanah Air. Tangan keriput yang dulunya akrab dengan ban bocor dan tambalan karet itu tampak bergetar saat menerima sebuah amplop dari petugas PPIH Daerah Kerja (Daker) Bandara di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, Selasa (9/6/2026).
Amplop tersebut berisi uang tunai sebesar Rp 3,2 juta, hasil patungan sukarela dari para petugas bandara yang terenyuh mendengar kisahnya.
"Ini buat Mbah ya, rezeki untuk keluarga Mbah Chulaeli di rumah," ucap salah seorang petugas saat menyerahkan bantuan tersebut.
Seketika, tangis lansia asal Desa Pidodowetan, Kecamatan Patebon itu pecah. Tak banyak kalimat yang sanggup ia lontarkan dari atas kursi rodanya. "Maturnuwun (terima kasih)," ujar Chulaeli lirih sambil terus mengusap air mata.
2. Uang saku pas-pasan

Kisah perjuangan Mbah Chulaeli mulai menjadi sorotan di kalangan petugas saat ia mengikuti program Safari Wukuf pada Selasa (26/5/2026). Layanan khusus ini memfasilitasi jemaah lansia dan sakit agar tetap sah mengikuti wukuf di Arafah.
Petugas Lansia dan Disabilitas (Landis) Sektor 2 Makkah, Kamal Pramayuda, yang saat itu menjadi pendamping Chulaeli, menceritakan awal mula ia mengetahui kondisi finansial sang kakek. Kamal menuturkan bahwa Chulaeli hanya membawa uang saku sebesar Rp 300 ribu dari kampung halamannya.
"Saya pendamping Bapak Chulaeli selama Safari Wukuf lansia. Mulanya beliau itu sering menangis jika kami ajak berbincang tentang keluarganya," ungkap Kamal.
Puncak kesedihan Chulaeli terjadi saat ditanya soal oleh-oleh. Ia menyadari uang yang dibawanya tidak akan cukup untuk membelikan buah tangan bagi istri—yang kini meneruskan usaha tambal bannya—serta anak dan cucunya di Kendal.
"Pernah suatu saat saya bertanya tentang oleh-oleh untuk keluarganya, saat itu Mbah Chulaeli semakin menangis karena belum membeli oleh-oleh. Hal itu yang membuat hati kami tergerak," kenang Kamal.
3. Solidaritas dari Makkah

Tak tega melihat kesedihan tersebut, Kamal bersama rekan-rekan petugas di Sektor 2 Makkah langsung berinisiatif patungan. Mereka berbelanja berbagai macam buah tangan untuk memenuhkan koper Chulaeli.
"Alhamdulillah terkumpul sangat banyak, ada abaya, sorban, cokelat, kurma, boneka, sangat tidak disangka," tutur Kamal. Mengingat keterbatasan gerak Chulaeli akibat stroke, para petugas juga turun tangan membantu menyusun dan merapikan seluruh barang ke dalam kopernya.
Empati ini tidak hanya datang dari petugas resmi. Ketua Regu 2 asal Kendal, Masruri (57), bersaksi bahwa teman-teman seregu dan serombongan juga memperlakukan Chulaeli layaknya keluarga kandung. Bantuan tenaga mengalir setiap hari, mulai dari mencucikan baju, membelikan bubur kentang, hingga membantu menyuapi makan.
"Perhatian petugas dan teman-teman itu sangat luar biasa, seperti pada keluarganya sendiri," puji Masruri sebelum bertolak ke Tanah Air.
Kabar mengenai ketulusan hati para petugas dan jemaah di Arab Saudi ini sampai ke telinga keluarga di Kendal. Sang anak, Khaedar (50), mengaku sangat bersyukur ayahnya bisa beribadah dan dirawat dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih kepada semua yang telah membantu dan memperhatikan bapak saya. Saya mewakili keluarga Pak Chulaeli tidak bisa membalas satu per satu," ucap Khaedar terharu.















