Ilustrasi bendera Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). (dok. laman resmi WHO/www.un.org)
Negara bagian La Guaira menjadi wilayah yang paling parah terdampak, di mana ratusan bangunan runtuh dan fasilitas rumah sakit lumpuh. Hingga Jumat (3/7/2026), pemerintah Venezuela mencatat jumlah korban tewas telah mencapai 2.595 jiwa, dengan lebih dari 11 ribu orang luka-luka. Selain itu, sekitar 38.500 orang dilaporkan masih hilang.
Organisasi kemanusiaan Jepang, Peace Winds Japan, melaporkan kondisi di lapangan jauh lebih buruk dibandingkan gambaran awal. Relawan organisasi tersebut, Poorman Mariko, mengatakan para penyintas menghadapi kekurangan hampir semua kebutuhan dasar. Ini termasuk tenda, air bersih, obat-obatan, hingga fasilitas sanitasi.
PBB turut memperingatkan tingginya risiko penularan penyakit di tempat-tempat penampungan yang kini kelebihan muatan. Upaya evakuasi sejauh ini juga terhambat oleh minimnya alat berat untuk memindahkan reruntuhan beton besar.
"Saat ini ada peningkatan risiko wabah penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, seperti campak dan difteri, karena rendahnya cakupan vaksinasi sebelum gempa bumi," kata juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Christian Lindmeier, dikutip dari The Straits Times.
Menurut Kementerian Komunikasi dan Informasi Venezuela, di antara mereka yang diselamatkan adalah seorang anak laki-laki berusia 3 tahun. Bocah itu dilaporkan berhasil dikeluarkan dalam kondisi hidup oleh petugas penyelamat Yordania. Ia terjebak di bawah reruntuhan di La Guaira selama enam hari. Kementerian tersebut mengunggah video anak itu di media sosial dan menggambarkan penyelamatannya sebagai sebuah keajaiban.