Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Bocah Selamat usai 6 Hari Tertimbun Reruntuhan Gempa Venezuela

Bocah Selamat usai 6 Hari Tertimbun Reruntuhan Gempa Venezuela
Operasi penyelamatan korban di reruntuhan gempa Venezuela (U.S. Marines 24MEU by Cpl. Daniel Garcia, Public domain, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Seorang bocah 3 tahun bernama Klieber Moran berhasil diselamatkan hidup-hidup setelah enam hari tertimbun reruntuhan gempa dahsyat di Venezuela, dengan kondisi vital dilaporkan stabil.
  • PBB melalui UNICEF mengirim 47 metrik ton bantuan kemanusiaan berisi perlengkapan medis dan kebutuhan darurat, menyusul gempa berkekuatan 7,2 dan 7,5 yang menewaskan hampir dua ribu orang.
  • WHO melaporkan sistem kesehatan Venezuela berada di bawah tekanan ekstrem, dengan puluhan rumah sakit rusak dan banyak tenaga medis belum ditemukan akibat dampak gempa besar tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Seorang bocah laki-laki berusia 3 tahun berhasil ditemukan dalam keadaan hidup setelah enam hari tertimbun reruntuhan bangunan akibat gempa dahsyat yang mengguncang Venezuela. Bocah bernama Klieber Moran itu menjadi satu-satunya korban yang berhasil dievakuasi hidup-hidup pada hari keenam operasi pencarian.

Moran berhasil dievakuasi oleh tim penyelamat dari Yordania dari bawah reruntuhan gedung apartemen Los Corales Garden 1 di negara bagian La Guaira pada Selasa (30/6/2026). Pertahanan Sipil Yordania mengatakan Moran telah menerima pertolongan pertama sebelum dibawa ke rumah sakit. Pihaknya menyebut kondisi tanda-tanda vital bocah tersebut dalam keadaan baik.

"Kita harus tetap berharap untuk terus menemukan orang-orang yang masih hidup di bawah reruntuhan. Pagi ini, seorang bocah laki-laki berusia dua tahun diselamatkan dan saat ini sedang menerima perawatan di pusat kesehatan di Caracas," kata presiden Majelis Nasional Jorge Rodríguez, dikutip dari The Guardian.

1. Bantuan kemanusiaan PBB mulai berdatangan ke Venezuela

Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric, mengatakan UNICEF telah mengirimkan 47 metrik ton bantuan kemanusiaan yang tiba pada Selasa waktu setempat. Pengiriman tersebut berisi perlengkapan kesehatan darurat untuk penanganan medis, peralatan persalinan, perlengkapan perawatan bayi baru lahir, serta kebutuhan untuk pencegahan dan pengobatan berbagai penyakit.

Gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 yang mengguncang Venezuela sepekan lalu telah menewaskan sedikitnya 1.943 orang, melukai lebih dari 10 ribu orang, serta menyebabkan puluhan ribu lainnya masih dinyatakan hilang. Analisis awal citra satelit NASA juga memperkirakan sekitar 58.870 bangunan mengalami kerusakan atau hancur akibat dua gempa besar tersebut.

2. Krisis kemanusiaan terus memburuk di wilayah terdampak

Badan-badan PBB memperingatkan bahwa krisis kemanusiaan di Venezuela terus memburuk. Ribuan warga yang kehilangan tempat tinggal kini terpaksa tidur di ruang terbuka maupun di tempat penampungan darurat yang padat dan minim sanitasi.

UNHCR melaporkan bahwa kekurangan pangan mulai meluas, layanan dasar mengalami gangguan, dan jaringan komunikasi di La Guaira sebagian besar terputus. Wilayah tersebut menjadi salah satu daerah yang mengalami dampak paling parah akibat gempa.

Dilansir BBC, Badan Pengungsi PBB tersebut mengatakan pihaknya membutuhkan pendanaan awal sebesar 15 juta dolar AS (sekitar Rp269 miliar). Jumlah tersebut akan digunakan untuk menyediakan perlindungan, bantuan kebutuhan pokok, dan tempat tinggal sementara bagi sekitar 30 ribu korban gempa selama enam bulan ke depan.

3. WHO sebut layanan kesehatan berada di bawah tekanan ekstrem

WHO mengatakan sistem kesehatan Venezuela kini menghadapi tekanan yang sangat besar akibat lonjakan korban gempa. Juru bicara WHO, Christian Lindmeier, menyebut berbagai fasilitas kesehatan beroperasi jauh di atas kapasitas normalnya.

Pemerintah Venezuela melaporkan sebanyak 38 rumah sakit mengalami kerusakan atau terdampak gempa. WHO sejauh ini telah mengevaluasi 21 fasilitas kesehatan, dengan tiga rumah sakit sudah tidak lagi beroperasi, enam lainnya mengalami kerusakan, sementara sisanya kewalahan menerima lonjakan pasien.

Mengutip ABC News, WHO juga menyebut banyak dokter spesialis masih belum ditemukan karena diduga turut menjadi korban reruntuhan, termasuk tenaga medis yang menangani layanan persalinan di La Guaira.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella

Related Articles

See More