Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jepang Protes usai China-Rusia Gelar Latihan Tembak di ZEE
ilustrasi operasi keamanan di area laut (pexels.com/germannavyphotograph)
  • Jepang melayangkan protes diplomatik ke China usai latihan tembak langsung armada China-Rusia di sekitar Okinotorishima yang diklaim sebagai bagian dari ZEE Jepang.
  • Pemerintah China menolak protes Jepang, menegaskan Okinotorishima hanyalah batu karang tanpa hak ZEE dan menyebut operasi militernya sesuai hukum internasional.
  • Latihan gabungan itu memperburuk ketegangan geopolitik, memicu peningkatan pengawasan militer Jepang di wilayah barat daya akibat intensitas patroli China-Rusia yang makin sering.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN TimesJepang pada Selasa (21/7/2026) menyampaikan protes diplomatik kepada China setelah armada angkatan laut China dan Rusia menggelar latihan tembak langsung di perairan sekitar Okinotorishima, atol Pasifik yang diklaim Tokyo sebagai pulau paling selatan sekaligus batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) miliknya. Untuk pertama kalinya Tokyo secara terbuka mengungkap informasi mengenai latihan militer gabungan kedua negara di kawasan ZEE yang dipersengketakan tersebut.

Kementerian Pertahanan Jepang, seperti dikutip Kyodo News melalui Anadolu Agency, mendeteksi empat kapal perang bergerak mendekati wilayah ZEE sebelum latihan dimulai. Armada itu terdiri atas kapal perusak rudal berpandu kelas Renhai dan kelas Luyang III (Type 052D) milik China, kapal pengisian ulang kelas Fuchi milik China, serta kapal fregat kelas Steregushchiy milik Rusia.

1. Kapal perang China menggelar latihan tembak langsung

ilustrasi kapal perang (pexels.com/Raziella R)

Latihan tembak langsung menggunakan senapan mesin dilakukan kapal perusak China sekitar 180 kilometer barat daya Okinotorishima pada Minggu (19/7/2026), setelah lebih dulu menyiarkan peringatan navigasi melalui radio. Pemerintah Jepang kemudian mengajukan protes resmi karena menilai manuver tembak langsung di jalur pelayaran berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan dan navigasi kapal di sekitarnya.

Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi menilai latihan tersebut mencerminkan semakin eratnya koordinasi militer antara Beijing dan Moskow. Ia juga mengatakan bahwa meningkatnya intensitas kerja sama pertahanan kedua negara tetangga Jepang itu telah menjadi tantangan bagi keamanan nasional negaranya.

2. China menolak protes pemerintah Jepang

ilustrasi bendera China (pexels.com/aboodi vesakaran)

Pemerintah China menolak protes yang disampaikan Jepang dan menyebut kekhawatiran tersebut tak berdasar. Dilansir dari China Daily, Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menyatakan Okinotori pada dasarnya merupakan batu karang, bukan pulau, sehingga berdasarkan Konvensi Hukum Laut Internasional wilayah itu tak memiliki hak atas ZEE maupun landas kontinen.

Lin juga menyampaikan bahwa operasi armada China di laut lepas telah sesuai dengan hukum dan praktik internasional. Lin menambahkan bahwa operasi armada China di laut lepas telah dilakukan sesuai dengan hukum dan praktik internasional. Ia menilai Jepang mencemarkan nama negara lain atas tindakan yang sah dan legal, sekaligus menggunakan narasi ancaman eksternal sebagai alasan untuk mempercepat remilitarisasi serta menantang tatanan internasional pasca-Perang Dunia II.

3. Ketegangan geopolitik memperluas perselisihan kedua negara

Bendera Jepang (Toshihiro Oimatsu from Tokyo, Japan, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Insiden latihan militer tersebut menambah panjang daftar gesekan geopolitik antara dua negara dengan ekonomi terbesar di Asia. Mengutip laporan LBC, hubungan diplomatik keduanya memanas setelah komentar Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengenai Taiwan memicu kecaman dari Beijing yang kemudian diikuti respons ekonomi dari China.

Di sisi lain, meningkatnya patroli udara dan laut gabungan China-Rusia di sekitar wilayah Jepang membuat Tokyo terus memperkuat sistem pengawasan dan pertahanan di rantai kepulauan barat daya. Langkah itu berlangsung setelah insiden ketika jet tempur China mengarahkan radar militer ke pesawat militer Jepang di dekat Kepulauan Okinawa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article