Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jurnalisme di Palestina Makin Terancam, 108 Kasus Kekerasan Dilaporkan
ilustrasi jurnalis (unsplash.com/Jorge Fernández Salas)
  • PJS mendokumentasikan 108 serangan terhadap jurnalis dan pekerja media di Tepi Barat serta Gaza sepanjang Juli, yang diduga menghambat penyebaran informasi konflik.
  • Pelanggaran terbanyak berupa 58 penahanan singkat atau larangan meliput; laporan juga mencatat interogasi, penahanan, serangan pemukim, pemukulan, luka, gas air mata, dan bom suara.
  • PJS mencatat penyitaan atau perusakan alat, penghapusan rekaman, penggerebekan, penutupan media, serta pengusiran dari Al-Aqsa; sejak Oktober 2023, lebih 270 jurnalis gugur di Gaza.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Serikat Jurnalis Palestina atau Palestinian Journalists Syndicate (PJS) secara resmi mendokumentasikan setidaknya 108 kasus serangan yang menargetkan jurnalis serta pekerja media di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Laporan komprehensif ini dirilis oleh Komite Kebebasan PJS pada Minggu (9/8/2026) malam waktu setempat. Data tersebut mencakup berbagai jenis pelanggaran yang dialami oleh para peliput berita di lapangan sepanjang bulan Juli lalu.

Aksi kekerasan ini diduga kuat sengaja dilakukan oleh otoritas keamanan dan kelompok pemukim Israel untuk menghalangi penyebaran informasi terkait situasi konflik terkini. Tindakan agresif tersebut membuat tugas peliputan berita di wilayah pendudukan menjadi semakin berbahaya dan penuh risiko. Melalui laporan ini, PJS berharap ada tindakan nyata dari komunitas internasional untuk melindungi keselamatan para pekerja media di daerah rawan konflik.

1. Dominasi kasus penahanan singkat dan pembatasan liputan

ilustrasi penahanan jurnalis (pexels.com/Kindel Media)

PJS mencatat bahwa penahanan singkat dan pembatasan aktivitas pelaporan merupakan bentuk pelanggaran yang paling dominan di lapangan. Berdasarkan data yang dirilis, terdapat 58 kasus jurnalis yang sempat ditahan sementara waktu atau dilarang keras meliput peristiwa penting oleh otoritas keamanan di Tepi Barat sepanjang Juli. Tindakan pembatasan ini dinilai sangat merugikan hak publik untuk mendapatkan akses informasi yang akurat dari lokasi kejadian.

Dilansir Al Jazeera, pembatasan sistematis ini mempersulit para awak media untuk mendokumentasikan serbuan militer maupun aksi kekerasan yang kerap terjadi di lapangan. Selain penahanan singkat, laporan tersebut juga mencatat adanya penahanan terhadap dua jurnalis lainnya, serta tindakan interogasi terhadap empat jurnalis terkait tugas profesional mereka.

2. Serangan fisik dari tentara dan kelompok pemukim Israel

ilustrasi penyerangan jurnalis (pexels.com/Joel Santos)

Kekerasan fisik juga membayangi tugas harian para peliput berita di wilayah konflik tersebut. Komite Kebebasan PJS melaporkan adanya 11 insiden serangan dari pemukim ekstremis yang menyasar kru media saat bertugas, yang meliputi kekerasan fisik, tindakan mendorong, hingga ancaman. Selain itu, terdapat enam jurnalis yang dilaporkan mengalami pemukulan langsung di lapangan serta empat jurnalis lainnya menderita luka akibat terkena serpihan peluru kendali atau artileri saat meliput di wilayah Gaza.

Dilansir Wafa, aparat keamanan juga sempat menembakkan gas air mata serta bom suara dalam 12 insiden berbeda hingga menyebabkan beberapa jurnalis mengalami sesak napas saat bertugas. Komite Kebebasan PJS mendesak agar jurnalis diizinkan bekerja bebas dari ancaman, serangan, dan pengejaran.

3. Pengerusakan alat kerja hingga pengusiran dari rumah ibadah

Tentara Israel menyerang area Masjid Al-Aqsa (Stop The Wall from Palestine, CC BY 2.0, viia WIkimedia Commons)

Selain menyasar fisik para jurnalis, tindakan represif juga merusak infrastruktur pendukung peliputan berita. PJS mencatat ada tiga kasus penyitaan serta pengrusakan alat-alat kerja penting milik jurnalis di lapangan sepanjang periode Juli tersebut. Petugas keamanan setempat juga memaksa penghapusan rekaman video dari kamera jurnalis dalam dua kejadian berbeda ketika mereka dilarang meliput.

Ada pula empat kasus penggerebekan rumah pribadi jurnalis serta kantor media, termasuk penutupan paksa satu lembaga penyiaran lokal secara sepihak. Selain penutupan media, terdapat dua jurnalis yang diusir dari kompleks Masjid Al-Aqsa setelah adanya keputusan sepihak yang melarang mereka memasuki area tersebut dalam kurun waktu tertentu.

4. Lebih dari 270 jurnalis Palestina telah gugur di Gaza

ilustrasi kamera (unsplash.com/D Yang)

Sikap represif ini menambah daftar panjang bahaya yang dihadapi oleh jurnalis lokal di wilayah konflik Timur Tengah. Menurut data dari kelompok hak asasi manusia yang dirilis kembali oleh Al Jazeera, eskalasi konflik yang berlangsung sejak Oktober 2023 telah merenggut nyawa lebih dari 270 jurnalis di Gaza.

Angka fatalitas yang tinggi ini menjadikannya salah satu periode paling mematikan bagi pekerja media dalam sejarah modern. Melalui publikasi data Juli ini, PJS berharap laporan tersebut bisa mendorong adanya investigasi independen demi menuntut tanggung jawab hukum atas pelanggaran hak asasi manusia tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article