Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Korban Tewas Gelombang Panas di Prancis Tembus Hampir 9 Ribu Orang
potret cuaca terik di Pantai Britanny, Prancis (unsplash.com/Sasha Matveeva)
  • Pemerintah Prancis melaporkan hampir 9.000 korban tewas akibat gelombang panas sejak akhir Juni 2026, dengan data sementara yang masih bisa bertambah menurut Menteri Kesehatan Stephanie Rist.
  • Fenomena suhu ekstrem hingga 44 derajat celcius menjadikan Prancis dan sejumlah negara Eropa barat seperti Spanyol, Italia, serta Jerman mengalami dampak parah dan memicu protes terkait isu perubahan iklim.
  • Gelombang panas bukan hal baru di Eropa barat, namun tahun 2026 disebut paling parah karena diperburuk polusi karbon dari penggunaan bahan bakar fosil yang meningkatkan efek rumah kaca.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Prancis melaporkan jumlah korban tewas akibat serangan gelombang panas di negaranya sejak akhir Juni lalu kini sudah hampir 9 ribu orang. Jumlah tersebut merupakan akumulasi usai salah satu lembaga riset Prancis, National Institute of Statistics and Economic Studies (INSEE), melaporkan tambahan korban tewas sebanyak 2.025 orang pada Jumat (3/7/2026). 

Namun, Menteri Kesehatan Prancis, Stephanie Rist, mengatakan, jumlah tersebut sebetulnya masih bersifat sementara dan berpotensi bertambah pada waktu yang akan datang. Sebab, Rist memprediksi masih ada banyak korban tewas imbas gelombang panas yang belum terdeteksi oleh sistem pendataan elektronik milik pemerintah.

1. Prancis jadi salah satu negara Eropa barat terparah yang terdampak gelombang panas

ilustrasi serangan gelombang panas (pexels.com/Sean P. Twomey)

Prancis sendiri merupakan salah satu negara di Eropa barat yang terdampak serangan gelombang panas paling parah. Dilansir The Guardian, Kamis (2/7/2026), fenomena ini membuat suhu udara di seluruh wilayah di Negeri Mode tembus 44 derajat celcius. Hal ini membuat warga Prancis berbondong-bondong pergi ke toko elektronik untuk membeli pendingin ruangan. 

Agensi kesehatan masyarakat Prancis mengatakan, serangan gelombang panas pada 2026 ini merupakan yang terparah. Sebab, sebelum-sebelumnya, Prancis belum pernah mengalami serangan gelombang panas yang membuat suhu mencapai lebih dari 40 derajat celcius. Tidak heran jika fenomena ini menewaskan banyak orang yang ada di negara tersebut.  

2. Gelombang panas juga menyerang negara Eropa barat lainnya

ilustrasi gelombang panas (unsplash.com/Immo Wegmann)

Selain Prancis, negara Eropa barat lainnya juga mengalami hal serupa. Spanyol, Inggris, Republik Ceko, Italia, Polandia, dan Jerman juga diserang gelombang panas yang membuat suhu udara di wilayah mereka membara. Sama dengan Prancis, suhu udara di negara-negara tersebut juga mencapai lebih dari 40 derajat celcius. 

Di Jerman, serangan gelombang panas memicu aksi protes dari para warga. Warga Jerman mendesak para pemangku kepentingan di negaranya untuk segera menjadikan perubahan iklim sebagai perhatian khusus. Sebab, mereka menilai perubahan iklim merupakan biang kerok utama mengapa serangan gelombang panas di Jerman dan di negara-negara Eropa lainnya terasa sangat parah.   

3. Serangan gelombang panas bukan fenomena baru di Eropa barat

potret negara-negara Eropa barat (pexels.com/Anthony Beck)

Serangan gelombang panas sebetulnya bukan fenomena baru di Eropa barat. Sebab, fenomena ini sudah muncul sejak era 1950-an. Fenomena ini biasanya muncul bersamaan dengan musim panas tahunan. Namun, sejumlah pengamat iklim menilai serangan gelombang panas di Eropa barat pada musim panas 2026 ini merupakan yang terparah sepanjang sejarah. 

Menurut laporan World Weather Attribution (WWA), serangan gelombang panas di Eropa barat diperparah oleh polusi karbon. Polusi ini timbul akibat penggunaan bahan bakar fosil secara masif. Asap kendaraan yang menggunakan bahan bakar fosil nantinya akan menyebar ke atmosfer hingga menimbulkan efek rumah kaca. Efek inilah yang nantinya akan membuat suhu udara naik drastis, terutama ketika musim panas tiba.  

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article